Sang Pemuda

Sang Pemuda
51


__ADS_3

Ayo LIKE dan VOTE author 😉


happy reading


"Belum." jawabku santai. Kenapa harus ada pertanyaan seperti itu. Memang apa untungnya mengetahui aku sudah menikah atau masih sendiri.


"Sama, aku pun belum." ujarnya memberitahuku. Padahal aku tak menanyakan itu padanya.


"Kenalkan lah Di sama kawan kau. Laki-laki pada mundur perlahan setelah dikenalkan pada keluargaku." lanjutnya memegang lenganku.


"Bilanglah ke orang tua kau terutama. Jangan matok jeulame terlalu tinggi. Bisa lima belas mayam, kabari aku ya?" ucapku dengan tertawa. Mayam adalah berat emas dalam satuan yang sudah ditentukan di daerahku. Satu mayam seberat 3,33gram, kira-kira seperti itu perhitungannya.


"Ya kau kira-kira ajalah." sahutnya terdengar kesal. Sudah pasti itu masalahnya laki-laki pada mundur. Untuk kalangan umum biasanya sekitar delapan sampai lima belas mayam. Untuk kalangan menengah atas, mungkin sekitar dua puluh sampai tiga puluh mayam. Untuk kalangan ke atas sedikit menanjak lagi mungkin tak terhingga. Aku pun kurang tau pasti. Karena tentu berbeda-beda tergantung kemampuan laki-lakinya juga ketentuan pihak perempuannya.


Lihatlah dia, aku bercandain pun langsung marah. Apa lagi jika aku serius meminangnya dengan lima belas mayam. Aku terkekeh karenanya.


"Kau ngetawain apa sih?" ucapnya terdengar sinis.


"Ngetawain kau lah. Memang apa lagi?" sahutku dengan tawa yang mereda.


"Kau pikir lucu. Kau macam ngerendahin aku." balasnya melirikku sekilas.


"Memang sebaik-baiknya wanita itu yang memudahkan maharnya." jawabku santai.


"Dan sebaik-baiknya laki-laki tidak menurunkan mahar wanitanya." balasnya tak kalah sengit.


"Jadi gimana kalau sama aku aja?" gurauku padanya. Namun ia menatapku dengan tatapan yang penuh arti. Apa ini maksudnya?


"Pasti syaratnya sulit. Aku pernah dengar katanya kau begitu pemilih." sahutnya dengan bersedekap tangan.


"Syarat jadi pendamping aku tak sulit kok. Asal perawan sungguhan, mau lima belas mayam. Bisa lolos seleksi awal." ungkapku bernada bercanda.


"Halah, nyatanya kau dapat perawan malah kau rusak." sahutnya menyindiriku. Apa Revi menceritakan pada Farah tentang masa laluku bersamanya dulu.


"Aku rusak juga kan tak aku tinggalkan!" balasku mencoba santai.


Dia tak menyahutiku lagi. Kami terdiam tanpa percakapan. Saat aku melihat Jefri dan Haris akan keluar dari pintu, aku pun segera bangkit dan pergi menjauh dari Farah.


Aku sedikit mendengarnya meneriaki namaku. Namun aku tak menggubrisnya.

__ADS_1


Aku telah sampai di rumahku kembali dengan obrolan ringan seputar pernikahan Revi tadi.


"Di, Farah nanyain nomor kontak kau. Gimana, kasih tak?" tanya Jefri saat aku hendak keluar dari mobil.


"Kasih aja, tak apa." sahutku setelah berpikir, lalu turun dari mobil. Haris membunyikan klakson mobilnya dan berlalu pergi dari rumahku. Aku pun memasuki rumah dan langsung menguncinya.


~


~


~


Sudah satu minggu lamanya aktifitasku berjalan seperti biasa. Hanya ditambah beberapa hari sekali Dinda menelpon yang hanya bertujuan untuk melaporkan tentang ladangku. Hanya sebatas tentang ladang. Dinda tetap cuek saja padaku. Aku rindu dengan sosok Dinda yang kukenal. Bukan Dinda yang seperti ini.


Akhir-akhir ini aku lebih sering chatting dengan Silvana, Dewi dan juga Farah. Aku semakin dekat dengan mereka bertiga.


Dan selama satu minggu ini pula aku sering sesak nafas tanpa sebab yang jelas. Padahal aku sudah rutin olah raga dan menjaga pola makanku juga. Dan hari ini aku diajak Jefri untuk mengikuti beberapa pemeriksaan medis untuk mengetahui penyakit apa yang membuatku sesak nafas begini.


"Ambil hasil tes aku dulu Jef." ujarku setelah berada satu mobil dengannya.


"Yang minggu lalu itu?" tanya Jefri menoleh padaku. Aku mengangguk mengiyakan.


"Seminggu ini lah. Sering mimpi buruk juga. Selera makan pun turun, perut rasanya penuh betul." sahutku sedikit menceritakan pada Jefri.


"Aku ada cerita Di. Pernah ada kasus pasien di rumah sakit, laki-laki sekitar berumur tiga puluh lima tahun. Dia mendadak tak bisa jalan. Secara pemeriksaan medis semuanya normal." ujarnya dengan fokus pada jalanan.


"Sakit setruk tah?" sela ku menoleh padanya.


"Awalnya aku kira begitu. Ternyata bukan. Dia sehat menurut pemeriksaan medis. Terus ada keluarga bilang mungkin kena santet. Di daerah ini sering terjadi dalam persaingan dagang, itu yang aku dapat dari cerita keluarga pasien." jelas Jefri.


"Terus?" sahutku mendengarkan dengan seksama.


"Ya laki-laki itu punya usaha dagang. Terus pasien diusahakan pulang oleh keluarganya. Terus ya udah aku tak tau lagi cerita lanjutannya." ucap Jefri saat berhenti di lampu merah.


"Jadi kau kira aku kena santet?" tukasku mengambil kesimpulan dari ceritanya.


"Tak juga. Tapi kalau seandainya setelah cek kau dinyatakan sehat. Tak ada salahnya kau datangi orang pintar. Kau kan sekarang dagang, mana tau kau kena santet dari lawan usaha kau." jelasnya padaku.


"Yang dagang kan ayah aku. Bukan aku! Bisanya yang kena santet jadi aku?" ucapku bingung. Jefri tertawa kecil menanggapi ucapanku.

__ADS_1


"Aku pun tak tau juga. Liat aja nanti kan?" sahutnya kemudian. Dan tak lama pun kami sampai di P*****a lab, aku masuk untuk mengambil hasil tes kesehatanku minggu lalu.


Jefri mengikutiku di belakang, petugas memintaku menunggu sejenak. Jadi, ngambil hasil tes pun ikut antrian juga?


Lalu Jefri mengajakku entah kemana. Ia berbicara dengan beberapa petugas dan Jefri masuk ke ruangan seseorang.


"Deadline nih. Tolong ambilkan hasil tes kawan aku." ucap Jefri langsung setelah bertemu dengan kawannya.


"Kenapa tak dari pagi. Coba lihat atas nama siapa?" tanya kawan Jefri tersebut.


Aku memberikan kertas yang digunakan untuk mengambil hasil tes ku pada Jefri.


"Nih, cepatlah sikit." ujar Jefri tak sabaran.


"Tunggu di sini." balas kawannya yang berlalu pergi.


Tak butuh waktu lama kawannya muncul dengan berkas di tangannya, "Sehat. Gak perlu ngikutin pemeriksaan lanjutan." ungkap kawan Jefri yang menyerahkan berkasnya pada Jefri.


Jefri memeriksa sekilas dan mengangguk, "Aku bawa ya? Thanks bro." ucap Jefri dengan menepuk pundak kawannya tersebut. Kawanya menganggukan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya. Lalu kami pun pergi dari P*****a lab menuju ke rumah sakit tempat Jefri bertugas.


"Kenapa ceknya tak di P*****a lab aja sekalian?" tanyaku pada Jefri saat kami sudah berada di dalam mobil kembali.


"Di sini aku tak tau pasti sistemnya. Dan lagi, misal kau ada masalah dengan organ dalam kau, kan bisa langsung ditindak lanjuti di rumah sakit ini juga." jelas Jefri kemudian.


Mendengar kata rumah sakit, sebetulnya aku sedikit ngeri. Semoga saja tidak terjadi hal buruk pada kesehatanku.


Kami sudah sampai di rumah sakit umum G****g J**i, tempat di mana Jefri bertugas.


Aku di ajaknya berbicara dengan beberapa orang yang Jefri kenal, dengan berkas pendukung hasil pemeriksaan kesehatanku di P*****a lab. Tak lama pemeriksaan padaku segera dimulai. Aku mengikutinya sesuai prosedur yang telah ditentukan.


Setelah selesai Jefri berbicara lagi dengan rekannya, Jefri meminta agar hasilnya cepat keluar. Rekannya pun menyanggupinya, dan menjanjikan esok sore hasilnya akan keluar. Sungguh sebenarnya aku merasa khawatir dengan diriku sendiri.


Namun aku mendadak merasakan sesak seperti tertindih beban berat. Aku menggapai baju Jefri saat merasakan aku tak mampu menopang berat tubuhku sendiri. Jefri menyadarinya dan menanyakan apa yang aku rasa.


Jangankan untuk menjawab pertanyaannya, untuk bernafas pun aku kesulitan sekali. Perlahan pandanganku kabur, dan menggelap dengan tubuhku yang melemah dan ambruk ke lantai.


TBC.


ikutin ceritanya terus ya kak 😁 🙏

__ADS_1


jangan lupa tap ❤️ favorit, agar dapat notifikasi dari ceritanya 😁


__ADS_2