Sang Pemuda

Sang Pemuda
59


__ADS_3

Dukung author yuk. Berikan author LIKE, agar semakin semangat untuk melanjutkan ceritanya. Beri juga VOTE ya, agar novelnya bisa naik rankingnya dan semakin dikenal (sejujurnya author tak masuk ranking 🤭 makanya minta di vote 😅)


Terimakasih 🥰


happy reading


Haris terlihat begitu kaget, namun ia langsung memasang senyum ramahnya pada kami, tapi aku paham ia sedang menahan emosinya sekarang. Tentu saja karena Dinda yang sedang aku jelajahi tadi.


"Udah baikan Di?" tanya Haris yang berjalan menghampiriku.


"Alhamdulillah udah sehat." jawabku membalas senyumnya. Dan berjabat tangan dengannya.


"Pasti lah sehat!" Haris menyahuti dengan suara tertahan. Lalu ia berdekhem untuk menetralisir suaranya. Ia berdiri tak jauh dari ranjang dengan tangan yang ia masukan ke dalam satu celananya, setelah berjabat tangan denganku barusan.


"Bang, yuk ikut Abi. Abi anterin Abang dulu ke rumah Abi, nanti main ya sama Ken dan Adek Kin." ujar Haris yang sedang membujuk Givan.


"Kau kan udah mau masuk tugas malam." ucapku melihatnya sudah mengenakan jas putih yang membuatnya semakin berwibawa.


"Papah aku lagi sakit. Aku harus jagain Papah dari penembak jitu." jawab Givan yang menolak ajakan Haris. Ibu dan anak yang satu ini, tiap kali berbicara pasti saja mengandung humor. Dan dia dengar dari mana kata penembak jitu tersebut?


"Papah tak sakit, Bang! Udah sembuh kan ya Pah?" ungkap Haris yang menatapku tajam. Aku khawatir setelah ini aku dan Haris akan bertengkar gara-gara Dinda. Mana dia pernah memperingati aku lagi. Kan jelas dengan aku masih seperti ini dengan Dinda itu artinya aku mengibarkan bendera perang padanya. Sebetulnya yang jadi masalah bukan karena aksiku ini, tapi karena ketahuan olehnya.


"Malah kalau Abang tetap di sini, yang ada Papah Adi jadi sakit." lanjut Haris menyindirku.


"Pah, bilang Abi aku mau sama Papah sama Mamah aja." rengek Givan yang sepertinya akan menangis. Lagian Haris kenapa juga memaksa Givan seperti ini. Aku juga pasti kontrol, aku paham ada Givan di sini. Tak mungkin aku bermain terlalu jauh dengan Dinda di depan anaknya yang masih terjaga.


"Biarin Givan tetap di sini Bang?" Dinda membuka suaranya.


"Nyatanya Givan ganggu aktifitas kalian!" jawab Haris yang mulai mengeluarkan amarahnya.


"Bukan begitu Bang. Masalahnya Bang Adi…" ucapan Dinda terpangkas dengan suara Haris yang mulai meninggi.


"Malah dengan Givan di sini kau dan Adi akan terganggu Dek. Kalau udah gini nanggung kan?" ujar Haris berbicara semaunya. Sudah dua kali ini Haris marahin Dinda di depanku.


Dinda terdiam dengan menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Enak Dek? Nikmat Dek? Tapi tolong jangan di depan anak kau! Dan pastikan juga tempatnya aman bukan tempat untuk orang sakit begini." bentak Haris beralih menatap tajam padaku saat ia menekankan kata orang sakit.


"Alesan aja sakit! Tak taunya sengaja mencari kesempatan." maki Haris yang pergi meninggalkan ruangan ku.


"Jangan sedih Mamah!" ucap Givan mengelus punggung ibunya yang membelakanginya, "Jangan main sama Abi lagi ya Mah! Aku tak suka Mamah dimarah-marah sama Abi terus." lanjut Givan menyandarkan kepalanya pada punggung ibunya.


"Abang tau Mamah sering dimarahin Abi Haris?" tanyaku pada Givan.


"He'em." jawab Givan singkat. Aku berusaha menenangkan mereka berdua. Aku tau Dinda sebentar lagi akan menangis.


Aku mengalihkan pembicaraan dengan cerita-cerita waktu aku sekolah dulu.


~


"Oh jadi Abang pernah tinggal di kota L?" tanya Dinda random. Setelah aku menceritakan tentang sekolahku dulu dan berteman dengan Haris dan Jefri.


"Iya, Dek. Dari SMA sampai punya gelar S1. Terus balik ke B***r M****h lagi." jawabku kemudian.


"Enak di kota T Pah. Aku dulu sakit parah waktu tinggal di kota L, ya kan Mah?" ucap Givan lalu bertanya pada ibunya. Eh, tunggu dulu. Apa tadi dia kata?


"Tunggu dulu, Dek. Kau pernah tinggal di kota L?" ungkapku tak menjawab langsung pertanyaan Dinda.


"Pernah. Jawab sih Bang?" sahut Dinda kemudian.


"Abang dulu ikut sementara sama abangnya Ayah Abang, Dek. Ayahnya Kak Ayu itu, tau kan?" balasku memperhatikan wajahnya yang sedang mengingat. Aku bersyukur Dinda tak berubah padaku. Ia tetap menjadi Dinda yang aku kenal.


"Oh iya iya. Kenapa Abang ikut ayah Kak Ayu? Katanya Abang diurus sama Masyik?" Dinda bertanya lagi.


"Masyik meninggal pas Abang kelas satu SMA. Sedangkan Abusyik sibuk terus di ladang, jadi tak bisa ngurus Abang. Setelah Abang siap jadi sarjana, Abusyik nyusul Masyik." tuturku menceritakan.


"Nyusul kemana?" tanya Dinda polos yang membuatku menjadi bingung sendiri.


"Maksudnya meninggal, Dek." sahutku gemas. Lalu aku menciumi pipinya yang mulus itu. Sampai Dinda kegelian dan minta ampun padaku.


Aku tak berhenti menciuminya bertubi-tubi sampai telingaku digigit oleh gigi ompong itu, "Aww!" teriakku kaget dengan serangan yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Jangan nakal sama Mamah aku! No no no." ucap dari pelaku yang telah menggigit telingaku, Givan. Ia mendelik tajam padaku dengan telunjuk tangannya yang bergerak ke kiri dan kanan.


Dinda terbahak melihatku demikian. Dasar ibu dan anak yang menyebalkan.


Gurauan kami terhenti saat Edi masuk dengan membawakan makanan.


Givan makan dengan disuapi Dinda. Sebenarnya anak ini makannya lahap, cuma ia malas makan dengan tangannya sendiri.


Dan sesekali Dinda menggigit kembali burgernya, "Mau tak Bang?" tanya Dinda yang melihatku memperhatikan kegiatan makannya.


"Abang cuma disaranin makan bubur sama buah-buahan aja Kak. Abang bilang juga perutnya rasanya penuh aja." sahut Edi saat mendengar pertanyaan Dinda.


"Oh begitu." balas Dinda manggut-manggut, "Abang tak BAB-BAB ya?" tanya Dinda sedikit berbisik.


"Sebelumnya rutin. Tapi dari pas Abang bangun sampai sekarang, Abang belum BAB juga Dek." jawabku tanpa malu.


"Jorok! Ada orang lagi makan malah ngomongin BAB." seru Givan dengan mata kecilnya yang melirik padaku.


"Aku tadi nanyanya bisik-bisik! Kau jawab tak ikut bisik-bisik. Nah, sukurin! Kena marah kan!" ujar Dinda dengan menahan tawa. Oh jadi Givan begitu ya, aku baru tau lagi. Pahal ia masih kecil tapi sudah mengerti hal-hal yang jijik.


"Kok kau tak jijik, Dek! Malah lanjut ngunyah lagi kau." sahutku sambil memperhatikannya.


"Aku udah biasa pas aku lagi makan tiba-tiba anak BAB." ucap Dinda pelan. Iya juga sih, diakan mamak-mamak. Hal seperti itu sudah wajar.


Aku manggut-manggut mengerti. Dan kami langsung menoleh pada Edi saat dia buka suara.


"Tadi aku habis ngobrol sama Bang Jefri sebentar, di parkiran depan sana." ucap Edi dengan serius.


"Aku yakin sekarang kalau Abang sehat." lanjutnya yang memberi jeda, "Tapi aku tak yakin kalau Abang harus berobat ke orang pinter. Pasalnya mereka juga pasti pakai Jin atau semacamnya. Takutnya bukannya Abang sembuh malah Abang tambah parah." ujarnya kemudian.


"Setuju. Jangan ke orang pinter. Menurut aku Abang cukup ingat-ingat saja dan mohon maaf sama orang tersebut." sahut Dinda menimpali.


Aku mengerti arah pembicaraan mereka, "Maksudnya Dek, minta maaf ke siapa dan karena apa? Kata Jefri ini persaingan dagang." tanyaku memastikan kenapa aku harus meminta maaf.


"Banyak hal yang membuat orang bersikap demikian pada kita. Bisa jadi karena dia iri karena usaha kita lebih sukses. Bisa jadi karena dia sakit hati sama Abang. Dan bisa jadi orang itu punya dendam yang belum terbalaskan." jawab Dinda jelas.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2