Sang Pemuda

Sang Pemuda
112


__ADS_3

"MAMAH...LAGI NGAPAIN SIH? KENAPA TAK KELUAR-KELUAR? AKU MASIH LAPAR." teriak anak laki-lakiku. Harusnya tadi aku mendengar peringatan Dinda.


Kalau sudah begini caritanya, siapa lagi kalau bukan aku yang rugi? Pantas saja Dinda diam tanpa penolakan. Sepertinya ia sudah memperhitungkan bahwa nanti aku akan berakhir dengan c*li.


"Kan apa aku kata? Udah cepet turun." ucap Dinda dengan tersenyum mengejek.


"Awas aja kau!" ujarku dengan bangkit dari atasnya. Dan langsung melepaskan kepala ikat pinggang celanaku. Dan mengambilkan kunci kamarku, lalu kulemparkan padanya. Lanjut aku meneruskan langkahku menuju ke kamar mandi yang terdapat di dalam kamarku.


"C*li-co*i, ng*ceng aja!" tuturnya menyindirku. Aku hanya meliriknya dengan penuh kesal. Dan menutup pintu kamar mandi dengan membantingnya.


"Awas aja kau Dinda! Aku tak akan bagi kau ampun nanti!" gumamku dengan geram. Dan memulai aktifitasku dengan busa sabun.


~


Setelah aku selesai, dan beristirahat sejenak di kamarku. Aku lalu keluar dari rumah menuju ladangku.


Entah kemana perginya Dinda dan Givan. Tau-tau sudah sepi senyap tak ada suara.


Beberapa pekerjaku menyapaku dan sekadar menanyakan kabar saja.


Dari jauh terlihat Givan tengah asik memetik biji kopi yang siap panen. Ia membantu para buruh ladang dengan sesekali tertawa dan bertanya.


Aku khawatir Givan menjadi korban penyimpangan s*ksual. Karena aku tidak tau tentang mereka semua, aku khawatir salah satu dari mereka ternyata belok.


Aku mendekatinya dan langsung kugendong. Ia sedikit kaget namun akhirnya ia tertawa lepas karena kuciumi berkali-kali.


"Mana mamah?" tanyaku padanya.


"Kenapa sih tiap kali ketemu aku, nanyain mamah aku terus?" sahut anak itu yang membuat orang-orang di sekitarku menahan tawa.


"Tuh mamah." lanjutnya dengan menunjuk seseorang di belakangku. Dinda terlihat tengah memperhatikanku, dengan mulut dan telinganya yang fokus pada topik pembicaraannya dengan laki-laki berpakaian rapih. Aduh, siapa lagi itu?


Dinda melambaikan tangannya padaku. Lalu aku mengangguk dan berjalan ke arahnya dengan menggendong Givan.


"Ini Pak Adinya, Pak. Yang punya ladang ini. Kurang lebihnya, silahkan dibahas langsung dengan yang bersangkutan saja." ucap Dinda begitu aku berada di hadapannya.


Lalu Dinda permisi pergi dengan membawa Givan. Aku kira tadi Givan tak diawasi olehnya. Saat Dinda mengambil alih menggendong Givan, aku sedikit merasakan bahwa kulitnya masih sedikit panas.


Ternyata laki-laki yang usianya di atas ku ini, adalah orang yang pamanku percayakan untuk memborong pekerjaan pengairan tetes itu.


Sebetulnya bisa saja aku melakukannya sendiri dengan pekerjaku. Tapi sepertinya membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke empat belas hektar ladangku. Dan aku khawatir Dinda beranggapan dirinya tak lagi dipercaya untuk mengawasi ladangku, lalu ia pulang ke kampung halamannya.


Setelah selesai membicarakan hal itu, aku lalu mengelilingi rumahku. Sepertinya benar-benar butuh dibangun dari awal lagi. Tapi untuk biayanya, jujur aku belum siap.


Pikirin biaya rumah atau biaya nikah dulu ya? Oh iya, aku lupa. Bahkan projekku gagal dimulai tadi. Mungkin aku harus memperhitungkan waktu yang tepat. Terlebih lagi, aku ada anak. Tak mungkin juga aku memulai dengan ibunya, saat anaknya masih terjaga.


Lalu aku berinisiatif untuk main ke rumah saudara-saudaraku. Saat aku sudah melaju dengan motor C*R yang lama tak kukendarai ini. Tiba-tiba aku dihadang oleh Givan yang muncul mendadak di depanku.


Dasar bocah! Aku ingin memberi kau seorang adik, bukan ingin melenyapkan kau! Masang aja, heran aku. Untung aku berhenti tepat waktu.

__ADS_1


Ia cengengesan tanpa dosa dengan berjalan ke arahku, dan minta ikut denganku.


"Mana mamah?" tanyaku dengan mengangkat tubuhnya.


"Tuh kan nanya mamah lagi." sahutnya menyebalkan.


"Papah nanya mamah, soalnya mau bilang sama mamah kau. Kalau kau ikut sama Papah!" terangku penuh penekanan. Tapi memang betul juga sih, hari ini saja aku sudah tiga kali ini menanyakan keberadaan ibunya.


"Di warung, lagi jajan." ucapnya dengan menunjuk warung nasi ibunya Shasha. Terlihat Dinda tengah mengobrol dengan Shasha dan ibunya.


Rasanya ingin ku bagi tau dia. Besok nanti kau akan jadi istriku. Tak lucu bila seorang istri berteman dengan mantan tunangan suaminya.


"Dek, Givan Abang bawa ya?" seruku begitu sampai di depan warung nasi ibunya Shasha.


Dinda mengangguk mengizinkanku. Tentu saja pasti diizinkan. Dengan begitu kan dia tak akan terganggu ngerumpinya.


"Sekalian nanti di suapin terus di suruh tidur siang ya, Bang?" sahutnya kemudian. Apa aku kata. Malah keenakan kan dia.


Seharusnya dia bertanya, 'Memang mau ke mana, Bang?' Bukannya malah memintaku menyuapinya dan menimangnya.


"Kenapa kau merenggut macam itu?" tanya Dinda yang ternyata memperhatikan wajahku.


"Tak apa. Lepas ini, gaji kau kupotong." jawabku bercanda. Namun aku masih memasang tampang kesal.


"Jangan sampai nanti sesuatu yang lainnya yang aku potong!" ucapnya yang membuat semua orang yang mendengarnya menahan tawa.


"Udah cepet kau ikut aja." tukasku cepat. Agar tawa mereka cepat selesai.


"Main ke saudara Abang. Kau udah kenal semua belum?" tanyaku padanya.


"Memang kenapa harus dikenali sama saudaranya, Bang?" ucap Shasha yang malah bertanya padaku.


"Ya tak apa." jawabku ringkas.


"Heh, Dek. Kau ikut tak?" lanjutku bertanya pada Dinda. Karena ia malah memainkan ponselnya.


"Lagi minta Bang Safar ngawasin sebentar." sahutnya kemudian naik ke atas motorku.


Ia duduk menyamping dengan berpegangan bajuku. Apa ia masih belum memakai celana panjang ketat di balik roknya?


Kemudian aku melajukan motorku perlahan setelah Dinda mengucapkan salam pada mereka semua.


"Dek, kau tak pakai celana panjang ketat?" tanyaku ditengah perjalanan.


"Tak Bang." jawabnya enteng.


"Lain kali pakai celana panjang ketat kalau kau lagi pakai rok atau gamis semacamnya." sahutku kemudian.


"Iya, Bang Adi." balasnya jelas.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian kami sampai di rumah saudaraku. Aku mengenalkannya sebagai teman wanitaku. Tapi aku paham, mereka pasti paham aku dan Dinda saling cinta. Dan sebelumnya pun aku tak pernah membawa teman wanita untuk dikenalkan pada saudara-saudaraku.


Aku, Givan dan Dinda tertawa bersama di atas motor yang melaju pelan. Sengaja aku pelankan untuk menikmati suasana ini. Dinda juga sepertinya sudah pulih. Karena suhu badannya sudah normal kembali. Tapi kenapa wajahnya terlihat seperti masih sakit saja?


"Bang, aku pengen makan di luar dong." rengek Dinda yang memelukku.


"Di mana? Di tengah ladang kah?" sahutku menggurauinya.


"Bukan! Di rumah makan dong, Bang!" balasnya dengan mencubit pelan perutku yang kempes ini.


"Ok. Lepas Dek. Di depan udah banyak rumah warga." ujarku memintanya melepaskan pelukannya. Karena aku takut hal kecil ini malah jadi buah bibir mereka. Terlebih lagi aku dan Dinda bukan suami istri. Maklumlah, ini daerah kampung yang agamanya cukup kental. Bahkan di sini ibadah shalat subuh di mushola atau masjid, seramai shalat maghrib.


Kemudian Dinda melepaskan pelukannya, dan berpegangan seperti biasa saja.


"Mau makan di mana sih, Dek?" tanyaku pada Dinda. Karena aku tak menemukan tujuan rumah makan untuknya.


"Tak jadi lah, Bang. Balik aja, aku pengen tidur sebentar." jawab Dinda. Apa dia marah padaku? Tapi memang tak ada rumah makan di kampung ini. Harus menempuh 1,5 km untuk keluar dari jalan besar. Belum lagi aku tak tau di mana letak rumah makannya. Karena sudah lama aku tak pernah berkeliling di sekitar sini lagi.


"Marah ya?" ucapku dengan memperhatikan jalanan yang banyak polisi tidurnya.


"Tak, Bang. Memang masih tak enak badan." sahutnya kemudian.


Ya sudahlah, mungkin memang benar adanya.


~


Malam harinya, sekitar pukul delapan malam. Aku menyempatkan diri untuk menengok keadaan anak laki-lakiku. Dengan membawa beberapa cemilan yang aku bawa dari rumah kak Ayu.


Kali ini pintu depan belum dikunci. Jadi aku bisa langsung masuk tanpa harus mengendap-endap menuju pintu samping.


Terlihat Givan masih bermain ponsel, dengan Dinda yang sudah tertidur pulas di atas sofa santai.


"Kok main hp terus? Kenapa tak bobo?" ucapku pada Givan.


"Sebentar lagi, Pah." sahutnya tanpa menoleh padaku.


Lalu aku duduk di dekat Dinda, dan menyentuh kepalanya. Namun, aku langsung kembali mengangkat tanganku. Lantaran kepalanya begitu panas.


Aku tempelkan punggung tanganku untuk mengecek dahinya. Astagfirullah Dinda, ia demam tinggi lagi.


Aku mondar-mandir tak jelas, karena aku bingung sendiri. Apa yang harus aku lakukan?


TBC.


Sakit apa ya Dinda?


Adi kan datang jauh-jauh mau ngerjain projeknya.


Mau ada crazy up lagi 🤭

__ADS_1


ayo dong semangati aku 😉


__ADS_2