Sang Pemuda

Sang Pemuda
46


__ADS_3

Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰


happy reading


Setelah beberapa kali aku bolak-balik bertanya pada umi, sayur kacang panjang buatanku akhirnya sudah siap. Demi anak…orang, aku rela melakukannya.


Tapi Givan mengecap aneh masakan buatanku. Aku sudah mencicipinya, menurutku tidak keasinan. Kenapa dengan anak ini?


"Kenapa Bang?" tanyaku memperhatikan wajahnya yang sedang berpikir.


"Macam ada yang kurang Pah! Tapi apa?" jawabnya dan bertanya balik padaku.


"Papah tak tau. Memang biasanya macam mana Bang?" tanyaku lagi yang ikut bingung. Givan menggeleng, hanya menatap kosong makanan di depannya.


"Papah suapin ya? Abang boleh sambil main handphone." tuturku mencoba membujuknya untuk memakan masakan buatanku. Givan masih enggan untuk makan. Aku terdiam memperhatikan sayur yang sudah kusajikan. Dan Givan fokus menatap sayur di depannya.


"Ada apa? Pada ngapain?" tanya Dinda yang mencul secara tiba-tiba. Lihat matanya bengkak sekali. Pasti jika Edi melihatnya, dia akan lebih gencar mengejekku.


"Terkejut aku! Mamah ngagetin aja." ucap Givan menatap ibunya yang langsung duduk di depannya.


"Kenapa sayurnya? Ada uletnya kah?" tanya Dinda dengan mengaduk sayur yang yang kubuat untuk Givan.


"Tak ada. Dia minta sayur kacang. Abang udah buatkan, tapi malah dia melamun. Katanya ada yang kurang, Abang pun tak tau apa yang kurang!" ucapku menjelaskan padanya.


Dinda menyuapkan kuah sayur ke mulutnya. Lalu ia membawa mangkuk yang sudah kuhidangkan untuk Givan. Ia menaruhnya lagi di panci yang masih terdapat sayur di dalamnya. Ia memanaskan apinya lagi. Tak lama kemudian ia menambahkan penyedap rasa berkaldu dan mecin. Apa dia ingin membuat anaknya bodoh? Aku hanya menaburkan garam secukupnya tadi, tapi ibunya malah menambahkan bahan tersebut.


"Ya ampun Dinda! Kau ingin membuat anak kau bodoh?" ujarku menghampirinya yang sedang berkutat di depan kompor.


"Apa Bang?" tanyanya seolah tak menyadari apa yang dia buat.


"Mecin itu bikin bodoh! Penyedap rasa menurut Abang tak perlu ditambahkan ke makanan anak-anak, Dek." jawabku dengan geram.


"Micin aman, kalau tak dimakan sebungkus-bungkusnya. Anak-anak juga manusia, butuh asupan yang sedap-sedap untuk ia masukan ke mulutnya." sahut Dinda kemudian. Ilmu dari mana itu?


"Ok, masalah penyedap rasa. Mecin ini loh Dek? Apa kau tak…" ucapku terpotong dengan interupsi darinya.


"Aku pakai takaran. Mecin macam garam. Baik untuk tubuh kalau dikonsumsi sesuai takaran yang pas. Nah nanti, ku kirimkan artikelnya nampaknya kau tak percaya kali sama aku!." terang Dinda nyolot. Benarkah begitu? Aku baru mendengar pernyataan seperti itu.

__ADS_1


Ah sudahlah, aku mengalah saja. Aku berbalik duduk di kursi kembali.


"Emak kau itu?" ucapku pada Givan dengan wajah sebal, dan menunjuk Dinda dengan daguku.


"Betina Papah itu?" balas Givan dengan menunjuk ibunya dengan kepalanya. Aku terkekeh geli mendengarnya membalas ucapanku.


Gemas sekali aku padanya, aku menciuminya bertubi-tubi. Dia terkekeh dan meminta ampun padaku. Gurauanku terhenti dengan suara tepuk tangan dari...ayah. Apa ayah memperhatikan kami dari tadi?


"Bagus, jadi kapan nih. Besok? Lusa? Minggu depan? Bulan depan?" ujar ayah mendelik dan tersenyum lebar padaku.


"Apa kali ayah ini!" sahutku tak suka dengan maksud ayah.


"Tak apa. Ayah pun dapat janda anak satu." ucap ayahku dengan terkekeh dan berlalu pergi. Ayah hanya mengambil buah dalam lemari es. Eh iya, ayah dapat umiku janda beranak satu. Padahal dirinya bujang. Tapi bukan berarti aku akan bernasib sama dengan ayah.


Dinda mengipasi sayur yang ia sajikan dalam mangkuk dengan piring plastik. Givan dengan sabar menunggu makanannya dingin, dan aku asik memperhatikan saja.


"Mau penerbangan jam berapa, Dek?" tuturku memecahkan keheningan.


"Abang maunya penerbangan jam berapa?" Dinda bertanya balik padaku. Ah iya, sebelumnya aku pernah mengucapkan akan pergi ke provinsi A bareng bersamanya.


"Mungkin minggu depan aja Dek, Abang baliknya. Kau sama Givan aja dulu ya? Nanti biasa dijemput Safar." balasku dengan mengambil air minum untuk Givan. Dinda hanya mengangguk menanggapiku.


Sebaiknya bagaimana ya? Aku balik apa hadir diacara Revi?


~


"Kalau keluar kamar pakai hijabnya, leher kau itu loh. Sengaja ya kau mau pamer?" ucapku melihat lehernya yang banyak seni kemerahan itu. Ia menyuruh Givan untuk bermain denganku.


"Sepi orang Bang. Lagian kamar kita sebelahan." ucapnya santai, "Jagain bentar ya aku mau maskeran rambut dulu." lanjutnya. Aku hanya mengangguk agar ia cepat menyelesaikan ritualnya itu.


Aku meladeni celotehan Givan dengan handphone ibunya yang tengah ia mainkan. Dinda ngasih mainan asal anak anteng aja. Tak mengerti kah dia handphone tak baik untuk anak-anak.


Aku sudah memesankan tiket untuk Dinda dengan penerbangan esok pukul delapan pagi. Dan rencananya setelah aku mengantarnya ke bandara, aku langsung menuju kota C.


Cukup lama Dinda akhirnya kembali lagi ke kamarku, dengan penampilan yang sudah rapi dan hijab yang senada dengan pakaiannya.


"Bang, aku belum makan." ucapnya merengek menggelayut manja di lenganku.


"Turun gih, bilang ke umi. Katanya sih tadi masih ada sisa katering." sahutku menyuruhnya makan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tak enak lah aku ini tamu. Dan lagi, masa iya aku dapat sisaan terus." balas Dinda uang intinya minta ditemani untuk ke bawah.


"Sisaan juga bukan sisa makan orang terus umi simpan balik, Dek. Tapi…" ujarku yang langsung dipangkas Dinda.


"Maksud aku, aku dapat nyicipin kau pun sisaan juga." tutur Dinda dengan jelas. Aku langsung mencomot mulutnya.


"Jangan ngomong tentang itu, apa lagi di depan anak kau. Ucapan kau ini ambigu. Dia malah penasaran apa maksudnya." ungkapku menerangkan padanya. Pasalnya ini bukan kali pertamanya dia seperti ini. Selalu saja mengulang kesalahan yang sama. Kenapa dia tak coba kesalahan yang baru, yang belum pernah ia coba?


Dinda tersenyum dengan menunjukan gigi putihnya, "Ayo sih Bang. Lapar aku." rengek Dinda lagi dengan menarik lenganku.


"Ayo Bang." ajakku pada Givan. Givan menoleh dan bangun sambil tetap fokus pada ponsel ibunya. Lalu aku menggendong Givan dan berjalan berdampingan dengan Dinda.


~


Baru pukul delapan malam tapi orang-orang sudah tidur semua. Dinda tak mau makan makanan yang ada di rumah. Akhirnya kami bertiga berjalan keluar rumah untuk mencari makanan yang Dinda inginkan.


"Nasi goreng aja tuh Bang." ucap Dinda menunjuk gerobak nasi goreng yang tak jauh dari tempat kami berjalan.


Aku mengangguk dan melanjutkan langkah, "Abang udah makan, Dek!" ujarku merangkul pundaknya.


"Abang liatin aku makan aja, ok?" sahut Dinda menoleh dan tersenyum padaku.


"Abang jalan-jalan aja deh sebentar sama Givan." balasku setelah sampai di tempat penjual nasi goreng.


"Aku tak ada uang. Makanya ngajak Abang." tutur Dinda menarik tanganku. Aku menahan tawaku. Aku mengambil dompet di saku celanaku, mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribuan.


"Is, kau pelit kali Bang!" ucap Dinda mengambil uangku cepat dan berlalu pergi. Memang seberapa mahal harga nasi goreng?


Aku kembali berjalan di trotoar dengan menggandeng Givan. Ia menunjuk ke minimarket, mungkin ia ingin es krim pikirku.


Aku menurutinya, namun ia berhenti di kasir dan langsung mengambil beberapa barang berbentuk telur. Givan mengambil tiga buah sekaligus, dan kasir menerimanya. Aku terkejut dengan harganya yang hampir enam puluh ribu itu.


Untuk menjaga gengsi pada kasir wanita yang tersenyum manis padaku, aku langsung membayarkannya. Dan keluar dengan membawa tiga telur itu. Eh bukan telur, tapi seperti telur.


"Jajan yang bener! Kenapa tak beli telor asin aja. Sama pun ukurannya." ucapku pada Givan setelah berada di luar minimarket.


"Ini coklat, ada mainannya juga di dalamnya. Coba Papah buka. Nanti aku kasih nyicip." sahut Givan mengambil satu barang tersebut dan menunjukannya padaku. Aduh, nak nak. Kau tak tau kah berapa banyak kau habiskan saat di mall tadi. Masih kurang aja, memang dasar ajaran ibunya.


Aku membeli beberapa macam gorengan pinggir jalan, dan berjalan kembali menuju ke tempat nasi goreng tadi.

__ADS_1


Dinda terlihat sedikit lagi akan menyelesaikan makanannya, namun ada beberapa wanita menghampirinya dan menyapanya. Dinda sedikit terkejut dan langsung tersenyum ramah pada mereka. Siapa mereka? Semoga tak terlalu lama acara sapa menyapa itu. Karena jujur aku merasa mengantuk sekali.


TBC.


__ADS_2