Sang Pemuda

Sang Pemuda
45


__ADS_3

Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰


happy reading


Aku membatalkan rencana dengan gadis itu. Pikiranku terpaku pada kemolekan tubuh Dinda. Dinda bentuk terindah yang pernah kulihat, tentu karena perawatan mahalnya juga. Untungnya Adi's bird bisa tertidur kembali, namun kepalaku rasanya sakit sekali. Selalu saja begini, efek tak kesampaian.


Aku sampai di rumahku dengan kemeja yang tak terkancing sempurna. Aku terlihat buruk sekali sepertinya, terlihat dari beberapa pasang mata yang memperhatikanku. Aku tak peduli dengan mereka, sampai kulihat Haris dan Jefri keluar dari rumah dengan diantar oleh umi. Anak-anak Haris dan pengasuhnya berjalan memasuki mobil.


"Mau balik kau?" tanyaku pada mereka.


"Ya. Kau kemana saja?" jawab Haris melihatku heran.


"Abis berantem kah Bang?" tanya umi mendekatiku.


"Tak umi, tenang aja. Ada masalah sedikit tadi." sahutku dengan merangkul umiku yang setinggi Dinda. Kenapa Dinda lagi? Memang tak ada contoh yang lain kah? Kenapa Dinda terus yang terlintas dipikiranku.


"Kau jangan lupa acara Revi besok!" sela Jefri menepuk bahuku. Aku menoleh padanya dan melepaskan rangkulanku pada umi.


"Heran aku, kok Revi tau aku stay di kota C?" tanyaku pada Jefri.


"Aku ada grup chat SMA dulu. Jadi aku bagi tau kau stay bareng aku." jawab Jefri santai. Pantas saja Revi tau. Aku berniat ikut dengan Dinda pulang ke provinsi A. Bagaimana ya baiknya? Kenapa aku bertambah pusing.


"Kau ikut pulang tak?" tanya Haris memperhatikanku yang terdiam. Entah kenapa aku malah teringat ucapan Dinda yang mengatakan ia tengah tak punya uang.


"Besok aja aku balik. Masih ada urusan yang belum siap." tuturku mencoba fokus pada sekelilingku. Setelah mereka semua pergi meninggalkan pekarangan rumah umi, aku langsung berjalan cepat menuju kamar Dinda. Aku yang pergi, aku pula yang kembali lagi ke kamar ini. Pasti Dinda menyepelehkan amarahku.


"Bang, mau kemana?" tanya umiku saat melihatku berlalu pergi begitu saja.


"Bentar umi." sahutku melanjutkan langkahku.


Ceklek.


Aku langsung membuka pintu kamar Dinda. Terlihat ia tengah menangis memeluk bantal. Kenapa lagi ini perempuan?


"Kau kenapa, Dek? Lapar kah?" tanyaku dengan menyibakkan rambutnya.


"Heh, kemana hijab kau? Kenapa dari tadi kau tak pakai hijab?" lanjutku bertanya setelah menyadari saat tadi aku dan Givan masuk Dinda tak pakai hijab. Sekarang pun sama. Tapi tak seheboh waktu awal ia tak berhijab di depanku.


"Nanti kalau ada yang masuk gimana Dek? Kau pun tak kunci pintu!" ungkapku lagi. Namun Dinda masih setia menangis saja. Entah apa yang ditangisinya.

__ADS_1


Aku duduk di tepian kasurnya. Aku terdiam mendengarkan Isak tangisnya yang masih terdengar.


"Jangan nangis terus! Givan bangun nanti, Dek!" ungkapku mencoba menenangkannya. Aku sejujurnya masih kesal padanya. Malas sekali rasanya untuk memeluknya agar dia merasa tenang.


Aku mendiamkannya cukup lama. Sampai terdengar suara yang begitu lirih, "Lon lake meuah." ucapnya menggunakan bahasa daerahku, yang berarti aku minta maaf. 


Aku langsung menoleh pada Dinda. Memperhatikan wajahnya yang memerah, apa dia cukup lama menangis?


Aku mencium pucuk kepalanya dan mengelus kepalanya pelan, "Jangan diulangi lagi, ok? Bercandanya jangan keterlaluan." tuturku halus, ia mengangguk mengerti. Setelah ia meminta maaf, aku merasakan amarahku menguap begitu saja.


Walaupun aku sadar ia yang membuat kesalahan, tapi aku tak tega melihatnya menangis menyesali perbuatannya seperti ini.


"Haris sama Jefri udah pada balik. Kau tau tak?" ucapku kemudian. Dinda mengangguk, lalu aku pun tak melanjutkan lagi percakapan kami. Biarlah dia tenang dulu. 


Setelah cukup lama kami terdiam, aku memutuskan untuk keluar dari kamar Dinda. Dan membersihkan diriku di kamarku sendiri, di sebelah kamar Dinda.


Setelah selesai berpakaian, aku menuruni tangga untuk menemui umiku lagi. Aku butuh makanan, obat pereda sakit kepala dan juga pijatan di kepalaku.


"Umi, Abang lapar." ucapku duduk di sebelah umiku yang sedang bersantai menonton televisi.


"Umi tak masak. Masih ada sisa kateringan tadi. Abang mau tak?" tanya umiku menoleh padaku.


"Bikin telor mata sapi kesukaan Abang aja umi." ucapku memberitahu umi. Umi mengangguk dan berlalu pergi ke dapur. Sebenarnya aku ini salah, menyuruh umiku menyiapkan makananku. Tapi aku malas  sekali untuk berada di dapur.


Di kota C saja, aku selalu menyuruh Zulfa atau langsung order makanan. Aku tak pernah berada di dapur dengan alat masak.


Aku memainkan ponselku mencari tiket penerbangan untuk Dinda dan Givan, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh ternyata Edi yang tengah tersenyum lebar.


"Apa kau?" tanyaku menyingkirkan tangannya di pundakku.


"Aku yang nikahan tadi. Abang yang nyelup duluan." ucapnya mengejekku. Pasti ini membahas saat aku berpapasan dengannya di depan pintu kamar Dinda tadi.


"Sembarangan. Kau kira Abang teh berkantong!" sahutku bernada sewot. Dia terkekeh geli dan duduk di sebelahku.


"Terus ngapain tadi? Tak dapat ya? Pas keluar kamar belum pakai baju lagi, ditambah mukanya tak bersahabat gitu." ungkap Edi dengan mengejekku.


"Jak let bui keudeh!" balasku mendorongnya untuk pergi dari sini. Pergi kejar b*bi sana! arti dalam bahasa pemersatu bangsa. Ungkapan ini sering terucap dari seseorang yang sedang tak ingin diganggu.


"Apa sih Ed? Jangan gangguin Abang kau terus!" tutur umi yang datang membawa makanan untukku. Karena aku bisa makan di mana saja, tak harus di meja makan.


"Ya, gangguin sana betina kau!" aku bersuara lagi dengan menatapnya sengit.

__ADS_1


"Abang tak mau gangguin lagi? Ayo masuknya bareng-bareng. Kita lihat teriakan siapa yang lebih kencang." ucap Edi tanpa memperdulikan keberadaan umi di sini.


Tentu saja umi langsung menatapku heran. Aku langsung melemparkan bantal sofa pada Edi, dan dia berlari pergi dengan tawa pecah. Rasanya jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya saat ditatap umi seperti ini.


Setelah aku menghabiskan makananku, aku meminta obat sakit pereda kepala pada umi. Umi memberikannya dan berujar, "Sakit sedikit tuh tidur. Bukan minum obat!" 


Umi tak paham sakit kepalaku disebabkan oleh hal lain. Sebelum tuntas, mana bisa aku tidur pulas. Aku meminta umi memijat kepalaku, umi menurutiku dan memintaku duduk di bawah. Sedangkan umi duduk di atas sofa.


Ku lihat Givan turun dari tangga seorang diri. Kemana dengan ibunya, "Pah, makan." ucap Givan berjalan ke arahku.


Tentu saja umi dan adik-adikku yang lain menahan tawanya. Mungkin mereka baru tau aku dipanggil Papah oleh Givan.


Aku mengisyaratkannya untuk duduk di pangkuanku, "Jangan naik turun tangga sendiri, ok?" ucapku memperingati Givan.


"Mamahnya mana? Mau makan apa?" tanyaku pada Givan yang tengah bersandar pada dadaku. Sepertinya ia baru bangun tidur.


"Mamah masih bobo. Makan sayur kacang panjang Pah." jawabnya dengan menggosok matanya dan menguap.


"Bangunin Mamahnya. Papah tak bisa bikin sayur kacangnya." sahutku menunduk memperhatikan wajah Givan yang masih mengantuk.


"Papah aja. Mamah marah nanti kalau dibangunin." balas Givan merengek dengan mendongak wajahnya menghadap padaku.


Aku menyenggol kaki umi, "Umi, bikinin sayur kacang itu loh." ucapku meminta umi membuatkannya.


"Kau Papahnya, sana kau buatkan!" jawab umi dengan tersenyum sampul.


"Ngomong apa sih umi?" cetusku pada umi, "Zuhra, tolong buatkan sana. Ada kali kacang panjang di kulkas." lanjutku menyuruh Zuhra.


"Jangan mau, Dek! Biar Bang Adi aja!" sela umiku pada Zuhra.


"Apa kali umi ini!" seruku pada umi, lalu aku berlalu pergi dengan menggendong Givan. Aku mendengar kekehan pelan saat aku pergi tadi. Aku paling tak suka diejek dan disudutkan begini.


Aku mendudukkan Givan kursi makan. Lalu aku membuka lemari es, membuka laci sayuran dan menemukan seikat kacang panjang yang masih segar.


"Pah aku disuruh nunggu ya?" tanya Givan memperhatikankanku. Aku mengangguk mengiyakan.


"Sambil main handphone pah. Nanti aku bosan, gimana?" ucap Givan dengan melihat kedua lututnya. Aku pun mengeluarkan ponselku dari saku celanaku dan memberikannya padanya. Anak kecil jaman sekarang, handphone terus mainannya.


Aku tak mengerti cara memasaknya. Kemana asisten rumah tangga di sini? Kenapa tak kelihatan dari tadi?


TBC.

__ADS_1


__ADS_2