Sang Pemuda

Sang Pemuda
119


__ADS_3

Aku berlalu pergi ke dalam kamar. Dan kembali dengan dompet yang sudah di tanganku. Sepertinya aku karma buruk untuknya. Sampai-sampai aku dikatakannya pelit.


"Sini Dek." panggilku yang duduk di sofa panjang depan tv.


"Apa?" sahut Dinda menuju ke arahku dengan bibir manyun. Gemas betul aku tengok bibirnya. Tak apa lah bersabar sedikit agar bisa tidur barengnya, yang penting kan sekarang aku dan Dinda sudah terikat pernikahan.


"Uang Abang di dompet tinggal segini." ucapku dengan mengeluarkan semua sisa uangku.


"Abang cuma ada delapan ratus ribuan. Nih di rekening tinggal segini." lanjutku dengan menyodorkan ponselku padanya.


Dinda menaik turunkan jarinya di layar ponselku. Mungkin ia mengecek mobile banking lainnya.


"Yang ini apa passwordnya?" tanya Dinda dengan menunjukkan kolom pengisian kode.


"××××××. Bisa tak?" jawabku.


Dinda terdiam sejenak, dengan mata masih fokus pada layar ponselku. Aku menempatkan tanganku di bahunya. Dan memperhatikan wajahnya dari samping. Tanpa sadar aku tersenyum samar hanya karena memperhatikan wajahnya.


"Uang Abang buat apa semua sih? Aku tinggal Rp,1.700.000. Abang cuma sisa Rp, 3.000.000. Cukup tak untuk akhir bulan. Udah gini, sepertinya aku udah tak digaji lagi." ucapnya seperti frustasi.


"Adek kan sekarang ladangnya sembilan hektar. Masa masih minta gaji aja." ujarku yang mulai tergoda dengan daun telinganya yang seperti kikil sapi itu.


"Ihh, diem Bang! Risih betul aku." tuturnya saat aku mulai menikmati telinganya.


"Hanya karena Abang lagi tak ada uang. Adek serisih itu Abang dekati." tukasku menyindirnya. Karena ia malah melepaskan rengkuhan tanganku dan duduk bergeser sedikit berjarak denganku.


"Makanya uangnya yang banyak!" sahutnya dengan melirik tajam.


"Bulan depan, ok? Terserah nanti uangnya mau Adek apakan. Untuk sekarang sabar dulu aja, ok?" balasku dengan memasang senyum lebar.


Sepertinya Dinda jenis perempuan yang lebih suka mengatur keuangan keluarga. Dan mungkin saatnya aku mempercayakan hartaku padanya. Karena menurutku aset yang paling berharga adalah Adindaku.


"Sana Abang kerja. Kalau tak repot-repot betul ajak Givan sekalian. Aku mau beli sayuran dulu." ucapnya dengan berjalan menuju kamar. Mungkin ia akan memakai hijabnya dulu.

__ADS_1


Lucu juga, aku disuruhnya untuk kerja. Plus momong anak sekalian. Cuma wanitaku sendiri yang seperti ini.


Terlihat ia sudah rapih dengan hijabnya dan berjalan menuju pintu depan. Namun tak lama ia kembali lagi. Dengan mengulurkan tangannya. Aku langsung menyambut uluran tangannya, dan berdiri.


"Heh, mana 75 ribunya? Ngapain pulak ini tangan. Abang mau ikut beli sayur?" ungkap Dinda dengan mengibaskan kasar tanganku yang tertaut dengan tangannya. Aku kira dia tadi mengajakku. Ternyata ia malah minta uang.


Aku terduduk kembali di sofa panjang. Dengan tawaku yang menggema.


"Dek, Dek. Abang kira Adek tak mau 75 ribunya. Dan kenapa lagi tangannya macam pangeran yang ngajak permaisurinya untuk berdansa?" sahutku dengan mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompet.


"Pas ya ini, Bang." balasnya dengan menarik cepat uang itu dari tanganku dan dia langsung berjalan pergi menuju pintu depan kembali.


Aku menggelengkan kepalaku dengan tersenyum geli. Dinda, Dinda. Kenapa kau selalu menarik duniaku. Selalu bisa menguasaiku.


Siang harinya, Dinda lebih banyak tidur. Mungkin karena ia masih kurang sehat.


Dari pagi, sampai malam hari. Ini anak laki-laki aku yang mengurus. Rasanya jangan ditanya lagi. Lebih capek dari kerja. Jadi begini kah rasanya jadi Dinda setiap hari. Itu cuma momong anak aja. Belum lagi cuci baju, masak, beresin rumah. Ditambah-tambah kemarin Dinda bekerja. Pasti rasanya lelah sekali.


Givan sudah tertidur. Jelas saja waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sekarang giliran aku bermain dengan ibunya. Setelah seharian penuh aku bermain dengan anaknya.


Aku memutari tempat tidur, untuk bisa menuju tepian paling kiri. Tentu saja karena Adindaku tertidur di sebelah sini.


Aku langsung merebahkan diri di tempat lebihan. Namun aku terkejut, saat kulitku bersentuhan dengan kulit istriku. Kenapa ia bisa demam lagi. Perasaan tadi siang suhu badannya sudah normal. Aku merasakan sesuatu yang tak beres dengan kesehatan Dinda.


Aku mengambil air hangat dan kain untuk mengompres dahinya. Setelah aku meletakkan kain yang sudah dibasahi dengan air hangat, aku langsung menaruhnya di dahi Dinda.


Lalu aku mengambil ponsel dan menghubungi Jefri. Sebelumnya siang tadi Haris dan Jefri sudah mendengar kabar pernikahan siriku dengan Dinda. Haris sempat memakiku habis-habisan dengan ancamannya, yang jika aku kabur dengan kondisi Dinda yang sudah hamil. Ia akan mencaca habis tubuhku.


"Jef, Dinda sakit. Demam tinggi kalau malam aja. Ini udah malam keempat Dinda macam ini." ucapku langsung setelah terhubung dengan Jefri.


"Hmm, terus apa lagi?" sahut Jefri yang bisa kudengar.


"Kurang nafsu makan. Terus…" balasku dengan berpikir.

__ADS_1


"Jelaslah dia lebih nafsunya ke kau!" ujar Jefri ringan. Rasanya aku ingin berteriak padanya. Bahkan sampai sekarang pun aku belum pernah memasuki istriku.


"Dinda lagi sakit, boro-boro mau nafsu-nafsuan. Terus Dinda sore tadi bilang sembelit." sahutku kemudian.


"Jangan bilang kau salah masuk lubang. Dan jangan bilang saking kau kepengen betul dapat perawan, kau sampai masuknya lewat belakang." balas Jefri. Aku tak paham dengan jalan pikirannya. Aku tengah membahas gejala sakitnya Dinda. Tapi pikirannya jauh melenceng ke mana-mana.


"Jef, kau dokter bukan sih?" tanyaku yang sebetulnya jengkel setengah mati padanya.


"Iyalah, aku udah punya gelar. Kau mau dengar cerita perjalanan pendidikan yang kutempuh dulu?" jawabnya lurus saja. Apa ia tak paham aku tengah kesal padanya.


"Udahlah, malas betul aku nanya sama kau." tukasku yang langsung mematikan sambungan telepon.


Lalu aku mencari nama Haris dikontakku, dan langsung meneleponnya. Panggilan kedua, dia baru mengangkat teleponnya.


"Nanti aku telepon balik." ucapnya dengan suara tertahan penuh tekanan. Ngapain pulak itu pejantan?


"Kau lagi ngapain sih? Aku mau nanya gejala sakitnya Dinda." sahutku langsung. Agar Haris bisa langsung memberitahu Dindaku tengah sakit apa.


"Aku lagi dinaikin. Nanti aku telepon balik." balas Haris disusul dengan desahan wanita yang bisa kudengar. Cepat-cepat aku langsung mematikan sambungan teleponnya. Aku yang nikah, Haris yang kawin. Memang kawan-kawanku pada tak jelas semuanya. Gelar dokter. Tapi perilaku tak mencerminkan profesinya.


Aku menggelengkan kepalaku dan merebahkan diriku di sebelah Dinda. Aku menarik kain yang menempel di atas dahinya. Dan menaruhnya di wadah yang berisi air hangat itu.


Aku sudah tak tahan sekali. Apa lagi melihat Dinda dari jarak sedekat ini. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang begitu panas.


Dengan tanganku yang sudah masuk dalam sarungku, menggenggam sesuatu yang menyembul dibalik celana dalamku.


Frustasi betul aku. Padahal aku pernah berucap untuk tidak akan pernah bermain busa lagi, jika sudah beristri nanti. Tapi jika dibiarkan seperti ini, aku pasti tak bisa tidur semalaman. Belum lagi rasa sakit di kepalaku yang harus aku rasakan, karena tak bisa mengeluarkan cairanku.


Tangan Dinda menyentuh pipiku. Terasa begitu panas sampai tangannya sedikit gemetaran.


"Bang……


TBC.

__ADS_1


Aduh, seru nih 😅


__ADS_2