
...CRAZY UP 😱...
Happy reading
"Biar sekalian sama Givan juga. Aku harus nemuin penerbit yang minang cerita terbaruku di kota Y. Jadi aku tak bisa nemenin kalian." tukas Adinda.
"Susah kali kau dibilangin. Pantas Haris sampai berani kasar sama kau." ucap Jefri dengan melirik sekilas pada Adinda.
"Ok ya Bang. Deal ya? Gih dikabarin Bang Adinya. Aku balik dulu ke orang tuaku. Sekalian mau ngasih tau kakak aku juga." sahut Adinda yang bangkit dari ranjang, "Oh iya. Nanti kau jemput di rumah kakak aku yang di gang B****** aja ya Bang." lanjutnya dengan berlalu pergi dari kamar Haris.
Jefri menggelengkan kepalanya, menolak pun percuma. Karena Adinda begitu keras kepala.
Lalu Jefri memainkan ponselnya dan menempelkannya di telinganya.
"Di?" ucapnya begitu panggilan telepon sudah tersambung.
"Ya, Jef. Gimana?" sahut Adi di sebrang telepon.
"Ada kawan aku, yang punya kenalan ustad yang udah terkenal di mana-mana. Rencananya besok aku mau ajak kau ke sana. Kebetulan aku udah daftarkan juga, jadi besok tinggal berangkat aja kita." ujar Jefri jelas.
"Ustad apa dukun?" tanya Adi.
"Ustad. Jam enam pagi aku jemput ya?" balas Jefri.
"Ya udah. Aku pengen sembuh sekarang. Biar bisa hamili Dinda." tutur Adi yang membuat Jefri mentertawainya.
"Dinda yang tak mau kau hamili." tukasnya menyahuti perkataan Adi tadi.
"Kenapa tak mau? Dengan aku hamili dia kan jadi aku gampang dapetin restu dari umi." ucap Adi jelas.
"Licik juga kau! Kau mau berjodoh sama dia sampai cara kau maksa begitu, gila memang." ujar Jefri terkekeh kecil, "Tapi asal kau tau. Dinda tak akan mungkin setuju dengan ide gila kau." lanjutnya kemudian.
"Kenapa tak setuju? Cuma ini ide satu-satunya yang masih bisa aku usahakan." sahut Adi menimpali.
"Dinda paham masalah agama. Dia paham hukum anak hasil di luar nikah. Dari pada kau habis diceramahinya nanti. Lebih baik kau tau dari aku begini kan." balas Jefri memberitahu Adi, "Ya udah, inget aku jemput jam enam pagi." lanjut Jefri kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Lalu ia menyelesaikan acara merokoknya, dan turun ke lantai bawah setelah ia mematikan puntung rokoknya.
Di rumah Adi.
"Umi, besok Abang diajak Jefri buat berobat." ucap Adi yang menemui ibunya yang sedang menikmati acara televisi.
"Sama Dinda juga?" tanya ibu Meutia menoleh sekilas pada Adi.
"Tak." jawab Adi ringkas.
"Betul?" sahut ibu Meutia memastikan.
__ADS_1
"Iya, Umi." balas Adi dengan jelas, "Lagian kenapa sih sama Dinda sampai segitunya? Kalau dia sakit hati karena ucapan Umi, gimana?" ujar Adi kemudian.
"Lebih sakit lagi kalau denger kau jadi doyan mabuk. Umi begini, karena Umi tak mau Abang jadi macam dia." tutur ibu Meutia yang sudah tak menyimak acara yang ia tonton.
"Umi mau yang terbaik buat Abang. Nanti Umi kenalkan sama anaknya rekan bisnis ayah." lanjut ibu Meutia dengan tersenyum lebar pada Adi.
Terlihat raut tidak suka dari wajah Adi. Ia sepertinya tak menginginkan ibunya bertindak demikian.
"Udah, Umi tak perlu kenalin….." perkataan Adi terpotong dengan interupsi ibu Meutia.
"Namanya Retno Wulandari Nasution. Asal kota M, tetangga provinsi A. Jadi enak kalau kau maen ke rumah orang tuanya. Tak perlu nempuh jarak bermeter-meter. Masih satu pulau dengan kau." ungkap ibu Meutia dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Dan dia juga bercadar, pasti sholehah dan taat beribadah. Tapi kalau kau ingin kenal dia dulu, dan tak mau buru-buru nikah. Umi bisa minta Retno untuk kau khitbah dulu." lanjut ibu Meutia yang membuat Adi geleng-geleng kepala.
"Umi tau Abang nurut sama Umi." ucap ibu Meutia agar Adi tak bisa membantahnya.
Adi menghela nafas panjang, "Terserah Umi aja." ujar Adi terdengar pasrah.
Lalu Adi bangkit dan berjalan menuju kamarnya lagi. Ia memainkan ponselnya, dan masuk dalam aplikasi chatting. Berulang kali ia mengetikkan kalimat. Namun ia enggan mengirimnya, dan malah menghapusnya kembali.
'Ada yang mau Abang omongin, Dek. Abang ke rumah kau ya?' pesan Adi yang tak sengaja terkirim ke Adinda karena tersentuh oleh jari-jari Adi.
Tak lama Adinda langsung menelponnya. Adi panik, ia khawatir ibunya mendengar percakapannya dengan Adinda.
Terlintas di pikirannya untuk mengangkat telepon dari Adinda di bawah bantal. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil bantalnya dan menaruhnya untuk menutupi kepalanya, agar suara yang ia ucapkan teredam dengan bantuan bantal.
"Ya Bang. Aku lagi di jalan mau ke rumah ibu. Rumah aku udah kelewatan jauh. Kalau penting-penting kali, temuin aku nanti malam di stasiun K*******. Jadwal kereta yang aku naiki berangkat jam sembilan malam." ucap Adinda dengan cepat.
"Kau mau ke mana, Dek?" tanya Adi kemudian.
"Kenapa suara kau macam orang ngeden begitu, Bang?" ujar Adinda dengan terkekeh geli di seberang telepon.
"Banyak cakap kau! Jam delapan kau udah stay di stasiun ya, nanti Abang temuin kau." ungkap Adi pada Adinda.
"Ok." sahut Adinda yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Adi menyadari Adinda memutuskan sambungan teleponnya dan langsung keluar dari bantal.
Namun seketika ia terlonjak kaget dengan kehadiran ibunya yang tengah berkacak pinggang di samping tempat tidur.
"Terkejut aku! Ada apa Umi?" tanya Adi dengan bangkit dari posisinya, dan duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Siapa yang kau telpon? Sampai kau ngumpet di bawah bantal macam itu. Udah macam anak SMP yang lagi telepon pacarnya tengah malam." ucap ibu Meutia yang membuat Adi terhenyak.
"Tadi….. Abang lagi tidur. Silau kali, jadi Abang tutup pakai bantal. Eh tak taunya Zulfa nelpon. Minta dijemput sore nanti katanya." sahut Adi berbohong.
Ibu Meutia manggut-manggut paham, "Betul begitu?" tanya ibu Meutia dengan memperhatikan wajah Adi yang menurutnya berekspresi aneh itu.
__ADS_1
"Ya, Umi. Abang mau tidur, sore nanti bangunin Abang ya, Mi. " jawab Adi dengan meminta ibunya untuk menjadi alarmnya.
"Iya." sahut ibu Meutia kemudian berbalik badan dan berlalu pergi dari kamar Adi.
Setelah pintu kamar tertutup kembali, Adi membuang nafas lega dan bergumam, "Alhamdulillah selamat. Aduh...mau sampai kapan aku ngumpet-ngumpet macam ini." ucapnya lirih dengan menggelengkan kepalanya.
~
Malam harinya, pukul 19.30. Adi sudah bersiap untuk menemui Adinda di stasiun yang telah dijanjikan.
"Umi, Abang mau keluar sebentar. Mau ada yang aku obrolin sama Jefri." ucap Adi dengan pakaian yang sudah rapi.
"Malam ini kan Bang Jefri tugas malam." sahut Zulfa menimpali.
Sontak membuat Adi memutar otak untuk mencari alasan yang lebih baik lagi.
"Hmm, besok kan Abang ikut dia. Jadi mau ada yang diobrolin dulu. Sekalian mau nanya tentang ustadnya juga, Umi." ujar Adi dengan tersenyum lebar.
"Kok kau tau Jefri tugas malam?" tanya Adi untuk Zulfa. Namun Zulfa hanya tersenyum lebar, tanpa menjawab pertanyaan dari abangnya itu.
"Kayanya tak jadi Bang. Jefri pasti ngantuk kalau abis jaga malam." balas umi setelah menyimak ucapan kedua anaknya.
"Ya mungkin gantian nyetir. Soalnya Jefri kata dia udah daftarkan Abang juga. Jadi tak mungkin juga kalau tak jadi." tukas Adi kemudian.
"Abang keluar dulu ya Umi. Sebentar kok." lanjutnya dengan berlalu pergi keluar dari rumah. Ibu Meutia memperhatikan Adi yang berjalan pergi begitu saja. Ia merasa Adi tengah menutup-nutupi sesuatu.
Adi terlihat begitu semangat dengan senyum lebar yang ia pasang di wajahnya. Dengan berhati-hati, ia perlahan menginjak pedal gasnya dan menjauh dari halaman rumahnya.
Lima belas menit ia berkendara, akhirnya ia sampai di depan stasiun yang Adinda katakan di telepon. Ia turun dari mobil dan menunggu Adinda di tempat duduk yang tersedia. Sengaja ia duduk di tempat yang mudah Adinda lihat, agar tak terlalu banyak waktu yang terbuang untuk mencari lokasi duduk masing-masing.
Sepuluh menit berlalu, Adi merasa jenuh menunggu. Namun Adinda tak kunjung menampakkan batang hidungnya yang minimalis itu. Lalu Adi merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel, dan mencari nama Adinda.
"Hallo Dek, Abang udah di tempat. Kau masih lama kah?" tanya Adi setelah menyambungkan telponnya untuk menghubungi Adinda.
"Ini aku mau turun mobil. Aku bisa liat posisi Abang." jawab Adinda. Adi langsung berdiri dari tempatnya. Dan ia bisa melihat mobil PAnas jaba JERO hitam yang baru terpakir di sebelah mobilnya.
Adi menaikkan alisnya, begitu keluar seorang laki-laki sebayanya dari tempat kemudi mobil itu. Laki-laki itu berjalan memutari mobilnya untuk membukakan pintu sebelahnya.
Dan keluarlah Adinda yang mengucapkan terimakasih karena laki-laki itu telah membukakan pintu untuknya.
Adi menatap tajam pada Adinda yang berjalan ke arahnya dengan menarik satu koper kecil. Terlihat urat-urat rahang Adi mengencang, karena apa yang telah ia lihat barusan membuat Adi naik pitam.
TBC.
Bantu sundul dong 😁
Boleh kali author minta di vote seikhlasnya, tapi kalau gak ikhlas. Boleh tambahin lagi votenya biar ikhlas 😋
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, rate 5, coment nya juga kak 😁