
"Ok, nanti aku bikin listnya." sahut Zulfa tersenyum gembira. Ah sudahlah, yang penting umi tak tau kelakuanku. Biarkan aku rela diperas Zulfa habis-habisan.
~
Kami baru sampai di rumah Haris. Mereka berdua menatapku dengan pandangan meledek.
"Tadi ada adek perempuan yang laporan katanya Abangnya lagi di kamar sama Dinda lama sekali." sindir Jefri melirik padaku.
"Hmmm, tak usah kau sindir-sindir aku. Macam tak pernah aja kau!" sahutku dengan duduk di sebelahnya.
"Pernah memang. Tapi aku tak pernah pakai janda." jawab Jefri terdengar mengejek. Kenapa bisa aku melupakan prinsipku itu dengan Dinda. Bahkan tadi aku sempat memohon padanya.
"Tak sampai masuk. Dinda tak bagi ijin." Ungkapku jujur. Jefri tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Lalu Haris menghampiri kami.
"Ada apa Jef?" tanya Haris pada Jefri. Lalu Jefri membisikan sesuatu yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal tanpa memperdulikan keberadaanku. Sialan memang kawan macam mereka!
Dinda tengah sibuk mengecek keperluan anak-anak Haris. Lalu Haris kembali membantu Dinda menyebutkan apa saja yang penting. Haris sampai membawa kedua anaknya dan kedua pengasuh anaknya. Begitu juga kah aku saat akan bepergian jauh serta membawa anak-anakku.
Aku memikirkan sesuatu. Tentang perasaan Dinda padaku. Sejauh ini aku mengetahui Dinda benar hanya seintim ini denganku. Tidak dengan Haris ataupun Jefri.
"Jef, menurut kau Dinda naksir kah sama aku?" tanyaku dengan pandangan lurus ke depan.
"Hmmm." Jefri tengah berpikir, "Memang udah sejauh apa?" Jefri bertanya balik padaku.
"Kejadian ini sudah dua kali terjadi, tapi yang pertama aku melepaskan Dinda." jawabku mengaku jujur. Aku percaya dengan Jefri. Lagi pula mereka berdua sudah seperti saudara untukku di kota ini.
"Jangan tersinggung ya, Di. Menurutku kau ini sedikit mirip dengan mantan suaminya. Maka dari itu dia seperti pengen nempel terus dengan kau. Jadi macam kau dianggapnya sebagai bayang-bayang suaminya." ungka Haris bersungguh-sungguh. Benarkah Dinda seperti itu?
"Tapi, lebih tepatnya kau tanyakan langsung padanya. Takutnya salah paham kan. Nanti malah kau jadi jaga jarak lagi dengan Adek." lanjut Jefri menoleh padaku.
"Memang kek mana ciri-ciri mantan suaminya?" tanyaku mencari tahu.
"Tinggi, tegap, hitam juga macam kau. Beda badan kau agak berisi aja." ungkap Jefri memberikan informasi tentang mantan suami Dinda. Aku manggut-manggut mengerti.
"Yuk berangkat. Bang Jef kau bareng Bang Adi aja, ok? Aku ikut mobil Bang Haris." ucap Dinda dengan berlalu pergi.
Entahlah perasaan apa yang aku miliki, aku sedikit kecewa mendengar ucapan Jefri. Apa benar Dinda menganggapku bayang-bayang mantan suaminya? Ini cukup mengganggu pikiranku.
Aku meminta Jefri yang mengemudi, aku merasa aku sedang tidak baik-baik saja. Aku memejamkan mata berharap moodku tidak semakin memburuk. Zulfa dan Jefri terlihat begitu akrab. Dengan Zulfa memiliki nomor telepon Jefri berati sebelumnya mereka pernah berkenalan.
"Oh iya. Kok kau tau nomor telepon Zulfa, Jef?" tanyaku menoleh pada Jefri yang berada di sebelahku.
__ADS_1
"Waktu minggu lalu kau ke rumah orang tua kau itu, aku kan datang ke rumah kau ngasih undangan pernikahan Revi. Jangan bilang kau lupa, lusa nanti acara Revi." Ungkap Jefri panjang lebar. Ah iya betul sekali, aku melupakan undangan itu.
Aku hanya mengangguk dan mencoba memejamkan mata kembali. Namun tiba-tiba Zulfa bertanya tentang masalah yang tadi.
"Abang pacaran sama kak Dinda?" tanya Zulfa mendadak. Aku bingung menjawabnya, jika ku iyakan aku takut disangka mengada-ada. Jika aku menjawab tidak, maka Zulfa akan berpikir bahwa Dinda perempuan gampangan.
"Kok Abang diem aja sih." tutur Zulfa kembali.
"Abang kau tengah galau." ungkap Jefri dengan terkekeh. Beginikah rasanya galau? Aku hanya ingin memastikan langsung pada Dinda. Tapi jika kenyataannya Dinda menyukaiku bagaimana? Aku tak mungkin memiliki hubungan lebih lanjut dengannya. Aku sungguh tak menginginkannya. Apa lagi aku harus naik pangkat jadi ayah sambung Givan, aku tak bisa membayangkannya.
Sudahlah lebih baik aku tidur sejenak. Aku pusing sekali memikirkannya.
AUTHOR POV
Rombongan Adi dan kawan-kawan sudah sampai di kediaman keluarga Adi. Adi terlihat sedikit kacau dengan rambut yang tak tertata rapi tidak seperti biasanya.
"Assalamu'alaikum." ucap mereka semua dengan melangkah masuk dipersilahkan Zulfa.
"Wa'alaikum salam." sahut ibu Meutia, ibunda Adi. Lalu mereka mencium tangan ibu Meutia seperti yang Adi dan Zulfa lakukan. Ibu Meutia menyambut baik mereka.
Ibu Meutia sudah menyiapkan beberapa kamar untuk mereka semua. Dan melarang mereka untuk mencari penginapan. Terlihat Jefri sedikit kecewa.
"Kenapa pula kau?" tanya Adi setelah berada di dalam kamarnya. Adi tengah menyalakan pompa elektrik untuk mengembangkan kasur angin, yang ia dapatkan dari asisten rumah tangga.
"Aku pengen maen ke club yang ada di kota ini. Makanya aku minta cari penginapan aja biar bebas." ungkap Jefri dengan menikmati rokoknya. Ya mereka semua adalah perokok aktif.
" Tinggal keluar aja" sahut Adi masih sibuk dengan aktifitasnya.
"Ya tak enak. Aku ini tamu di sini!" balas Jefri terlihat kecewa.
Tak ada percakapan lagi diantara mereka. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Namun mereka dikejutkan dengan pintu yang terbuka lebar dengan Givan yang terlihat ketakutan. Givan berlari kearah Haris, posisi yang paling dekat dengan jarak pintu kamar.
"Aku takut Bi." ucapnya dengan memeluk Haris dan tangisnya pecah.
"Kenapa Bang? Cerita sama Abi!" ucap Haris yang langsung memeluk Givan.
"Mamah jadi korban walking dead. Aku gak mau bobo sama Mamah, pasti sebentar lagi Mamah berubah jadi zombie. Aku takut digigit." ungkap Givan yang terisak sesenggukan. Namun Jefri yang mendengarnya malah tertawa terbahak-bahak. Haris menahan tawanya, karena ia paham Givan mudah marah. Adi malah terdiam tanpa ekspresi.
Haris membawa Givan keluar dari kamar Adi. Haris mencoba menenangkan Givan dengan mengajaknya turun ke lantai bawah bertemu dengan Ken dan Kin.
Jefri menepuk pundak Adi, ia masih tertawa saja. Adi terlihat acuh dan kesal pada Jefri.
__ADS_1
"Puas kau tertawain aku?" ungkap Adi melirik tajam pada Jefri.
"Lain kali jangan kau gigit-gigit leher emaknya, ok?" sahut Jefri yang meredam tawanya. Adi melengos pergi meninggalkan Jefri. Ia turun ke lantai bawah, di sana ada Edi yang sedang menikmati makanan. Dan Adi langsung menghampirinya.
"Eh, datang kapan Bang?" tanya Edi melihat Adi berjalan ke arahnya.
"Barusan." jawab Adi singkat dan mengambil posisi duduk di sebelah Edi. Edi memperhatikan abangnya yang sedang terlihat tidak bersahabat itu.
"Kenapa Bang?" ucap Edi menanyakan keadaan Adi.
"Tak apa." sahut Adi dengan memejamkan matanya dan memijat pelipisnya. Mereka terdiam cukup lama.
"Bang, kau tengok Givan tak?" tanya Adinda yang sedang menuruni tangga.
"Heh Bang, siapa itu? Putihnya mantap." ucap Edi pelan dengan menyenggol lengan Adi.
Adi langsung membuka matanya, "Itu Dek, dibawa Haris. Tak tau kemana." jawab Adi memperhatikan Dinda yang mendekat ke arahnya.
"Oh iya Dek, ini pengantin laki-lakinya. Edi, adik pertama Abang." ucap Adi memperkenalkan Edi pada Adinda.
Adinda tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya. Edi menyambut uluran tangan Adinda, ia tersenyum sesaat dan menyebut nama masing-masing.
Adinda permisi pergi, melanjutkan mencari keberadaan anaknya.
"Nah, cari betina tuh yang begitu Bang. Shasha kau gilain, gak ada cantik-cantiknya tapi banyak tingkah betul." ucap Edi membuyarkan lamunan Adi.
"Dia janda." sahut Adi ringkas.
"Lebih bagus lagi Bang. Berarti dia ini sudah ada pengalaman kerja, dan lagi terbukti bisa kasih Abang keturunan." tutur Edi mengutarakan pendapatnya.
"Kau kira apa? Pengalaman kerja segala." balas Adi mendelik pada Edi.
"Ya ada pengalaman dia di ranjang, dan lagi dia paham urusan rumah tangga. Kau tak perlu ngatur-ngatur dia buat beresin ini itu." sahut Edi menjelaskan.
Namun obrolan mereka terhenti saat Adinda lewat dengan tampang wajah yang kesal. Tanpa menyapa Adi dan Edi, Adinda berlalu pergi menaiki tangga. Adi langsung mengikuti langkah kaki Adinda dan mulai menjauh. Edi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak mengerti dengan abangnya.
"Dek, kenapa hei?" tanya Adi setelah berhasil menggapai tangan Adinda.
TBC.
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
__ADS_1
Terimakasih 🥰