Sang Pemuda

Sang Pemuda
35


__ADS_3

"Mati aja kau! Tak guna kau hidup!" maki Haris pada Adinda. Adinda masih setia berlindung di belakang Adi.


"Kalau marahin Adek jangan di tempat ramai begini Ris. Kasian Adek malu jadi perhatian kawan-kawannya." sahut Adi berharap Haris mengerti situasi sekarang ini. Adi merasakan punggungnya basah dan badan Adinda sedikit bergetar.


"Tak dengar kah kau, Dek? Tak sayang kau sama badan sendiri? Udah tak peduli kah kau sama anak kau? Setidaknya ingat itu Dek setiap kali kau ingin bertindak. Hidup ini bukan tentang kau aja, ingat orang-orang di sekeliling kau. Apa kau memang......" ungkap Haris terpotong oleh bentakan dari Adi, "CUKUP! Aku bilang jangan marahin dia di tempat umum. Apa kau tak dengar, HAH?" suara Adi yang penuh penekanan dan emosi.


"Oh ya, aku lupa. Kalian kan memang jenis yang sama. Pantas kau minta Adi yang menemani kau. Agar kau bebas ngelakuin sesuka hati kau kan? Agar Adi bisa tutup mulut kan?" tutur Haris menunjuk Adi dan Adinda bergantian.


"Sini kau ikut aku. Pantas kah seorang ibu di tempat seperti ini?" ucap Haris dengan menarik tangan Adinda. Adi menahan Adinda yang hendak dibawa pergi oleh Haris.


"Biar aku yang antar!" ucap Adi terdengar tidak mau dibantah. Haris sesaat mendelik tajam pada Adi, lalu iya mengangguk menyetujui. Lalu mereka pergi dari tempat itu.


ADI POV


Aku tengah menenangkan Dinda yang menangis sesenggukan setelah dimarahi lagi oleh Haris. Aku memilih tidak melanjutkan lebih jauh emosiku pada Haris. Aku tak mau pertemanan kami pecah hanya karena masalah Dinda saja.


Jujur aku merasa geram, saat Haris memarahi Dinda di depan umum. Apa dia tak punya otak kah? Coba bagaimana perasaan Dinda saat itu, dibentak dicaci di depan umum.


Untuk masalah aku dan Dinda memiliki persamaan yang sama dalam bergaul, aku tidak mengelak. Memang betul adanya seperti itu. Tapi bukankah Dinda pernah mengatakan, aku diajaknya untuk menjaganya didalam pergaulannya. Bukan karena sebab lain. Dan aku yakin Dinda pun tak punya memiliki maksud lain, apa lagi sampai memanfaatkanku untuk tutup mulut dari Haris. Pemikiran macam apa itu?


"Tenang, Dek! Tak apa. Yang penting janji sama Abang kau jangan sampai gitu lagi ok. Ingat janji kau. Dan jangan pernah untuk lupain janji yang pernah kau ucapkan ini, ok?" ucapku membingkai wajah Dinda dan menghapus air matanya. Sudah empat kali ini Dinda menangis dalam satu hari. Benar-benar hari yang sial untuknya.


"Iya Bang, aku janji." sahut Dinda dengan air mata yang mulai menetes lagi. Dinda langsung memelukku kembali. Dasar cengeng, manja pula.


"Udah dong. Kenapa masih nangis aja?" tanyaku padanya.


"Aku belum lega, masih pengen nangis." balas Dinda terisak.


"Ya udah selesaiin nangisnya sambil rebahan aja yuk. Abang lelah sekali Dek." ungkapku mengajaknya merebahkan diri.


"Tidur di sini aja." tutur Dinda memposisikan dirinya di sampingku. Kami tidur di atas karpet ruang keluarga Haris. Aku mengelus kepalanya yang masih berhijab, dia masih terisak berbantal lenganku. Agak lucu memang, apa dia tidak sadar kalau dia menghadap ketiakku.


"Tak bau ketek Abang kah Dek?" tanyaku kemudian dengan melihat wajahnya.


Dia malah menghirup aroma ketiakku lebih dalam, "Tak Bang. Bau uang." jawabnya.


Aku terkekeh geli mendengarnya. Ada-ada saja tingkah perempuan ini. Memang sih aku tak bau badan. Tapi perempuan wajarnya tak begitu. Oh iya aku lupa, Dinda kan perempuan tak wajar.


Tak lama terdengar nafas Dinda yang mulai teratur. Sudah tertidur rupanya, ku usap sisa air mata yang ada di wajahnya. Lalu aku mencabut jarum pentul yang menautkan hijab dibagian lehernya. Aku takut jarumnya akan menusuknya. Lalu aku pun membawa diriku ke alam mimpi.


~


Aku terbangun dengan suara kekehan dari...Jefri. Kenapa bisa dia ada di sini? Aku menggeliatkan tubuhku, namun terasa berat sebelah. Pantaslah, ternyata ada Dinda yang masih tertidur dengan memeluk tubuhku.


"Begini kelakuannya yang pernah bilang tak tertarik?" ucapnya mengambil satu jepretan aku yang masih tertidur dengan Dinda.

__ADS_1


"Ah sialan kau! Hapus hapus!" sahutku dengan suara khas bangun tidur.


"Buat kenang-kenangan anak cucu." balas Jefri tertawa renyah. Lalu Dinda menggeliatkan tubuhnya dalam dekapanku.


"Jangan berisik aja, ini masih pagi." ucap Dinda dengan mata terpejam dan mengeratkan pelukannya kembali padaku.


"Jam tujuh Dek!" sahut Jefri, "Nih, nomor antrian kau. Kurang baik apa coba aku sama kau!" ucapnya dengan memberiku secarik kertas berangka tiga.


"Berapa lama hasilnya keluar?" tanyaku hendak bangkit dari tidurku namun langkah ditarik Dinda kembali. Terlihat Jefri menggeleng dengan tersenyum.


"Enam hari lah. Kau jangan sarapan dulu Di. Dan jangan aneh-aneh dulu sebelum hasilnya keluar." jawab Jefri memberitahu.


"Abang penyakitan?" tanya Dinda yang langsung melepaskan pelukannya dan bangkit dari tidurnya. Ia langsung menjaga jarak denganku, dan membenarkan posisi hijabnya, "Wah, aku pun mau tes juga lah. Pasti aku tertular penyakit dari Abang." lanjut Dinda dengan panik.


"Kau habis campur dengan Adi, Dek?" tanya Jefri pada Dinda.


"Campur apa Bang? Aku habis bangun tidur, Abang kan tau sendiri!" sahut Dinda sembari mengucek matanya.


"Maksudnya hubungan i*tim, Dek?" balas Jefri menjelaskan.


"Tak sei*tim yang Abang kira." sahut Dinda ringan. Kenapa dengan Dinda ini? Apa ada masalah di kepalanya? Biasanya hal begini dia langsung konek.


"Sebenarnya....." ucapku ingin menjelaskan namun Dinda memangkas ucapku mendadak.


"Kenapa itu jidatnya?" tanya Jefri padaku.


"Biasa." sahutku yang sebetulnya malas membahasnya.


"Kita berangkat ke acara adik kau jam berapa, Di?" tanyanya dengan membuka beberapa jendela.


"Sore ini aja, gimana?" tanyaku memperhatikan aktifitasnya.


"Bolehlah, sekalian cariin penginapan yang murah. Kita weekend an di sana yuk." ungkap Jefri memberikan ide.


"Nah, boleh juga tuh." sahut Haris yang muncul dari arah dapur, "Anget ya Di? Enak Di?" lanjut Haris berniat meledekku. Lalu Jefri dan Haris mentertawakanku.


"Memang perempuannya pun gatal betul sama dia. Nih aku ada fotonya." ucap Jefri mengatai Dinda gatal dan menunjukan foto aku dan Dinda yang ia jepret.


"Alesan kau mau buat kenang-kenangan anak cucu. Memang buat bahan ngeledekin aku kan nyatanya." ungkapku lanjut menarik selimutku. Eh tunggu dulu, ini selimut dari mana? Semalam aku dan Dinda tak mengambil selimut.


"Aku yang ambilin selimut. Baik kan aku?" ucap Haris ketika aku melihat selimutku bingung.


"Jadi? Boleh aku berzina di sini juga?" tutur Jefri menoleh pada Haris.


Haris langsung mendelik tajam pada Jefri, "Adi tak berzina pun." ucapnya menyalakan televisi.

__ADS_1


"Kau tidur! Kau mana tau." ucapku yang menarik selimutku menutupi kepalaku. Namun aku mendapat lemparan bantal yang mungkin dari Haris dan terdengar tawa Jefri yang langsung pecah.


~


Aku sudah berada di P*****A Lab, laboratorium dan klinik kesehatan yang cukup besar di kota C. Aku sendirian di sini, Dinda sibuk dengan anak-anak. Haris dan Jefri mereka berangkat tugas pagi.


Menurut Jefri tidak perlu aku melakukan tes. Tapi hanya untuk berjaga-jaga saja, lagi pula sudah lama juga aku tidak mengecek kesehatanku.


Dinda pun mengurungkan niatnya untuk tes kesehatan, menurut Dinda juga demikian. Aku tidak perlu sampai tes kesehatan segala. Menurutnya sudah tidak perawan bukan berarti dia kotor dan penyakitan. Ya aku sudah menceritakan masalahku dengan Devi, setelah kami selesai sarapan tadi.


Flashback On


"Ayo semuanya sarapan dulu." ajak Dinda saat aku, Haris dan Jefri masih berkumpul di ruang keluarga Haris. Dia sudah terlihat fresh namun matanya masih sedikit bengkak.


"Bang Adi mandi dulu, gosok gigi! Sini ikut aku, biar aku siapin peralatannya." ungkap Dinda ketika melihatku masih berselimut. Aku bangun dari posisiku dan beranjak mengikutinya.


"Sekarang kau jadi nurut batul, Di. Udah kena peletnya ya kau?" ucap Jefri dengan terkekeh. Aku mendelik tajam padanya dan berlalu dari hadapan mereka.


Aku menuruti Dinda, karena maksud Dinda baik untukku. Lagi pula aku juga akan pergi mengecek kesehatanku.


~


"Dek, Abang tak sarapan ya." ucapku ketika sampai di meja makan. Dan melihat yang lain sedang makan.


Dinda mengangguk, ia tak bertanya. Mungkin ia paham bahwa aku disarankan untuk tidak mengisi perutku dulu.


"Tolong suapin Givan dulu Bang! Aku mau selesaiin makanan aku dulu." ucap Dinda menyerahkan semangkuk makanan dengan menu sayur bening dengan isian potongan kacang panjang dan wortel saja.


"Tega kali kau Dek ngasih anak makan begini aja!" ucapku melihatnya melanjutkan makan. Lihat dia tidak memakan sayur yang ia buatkan untuk Givan.


"Sayur kesukaan Givan itu. Bukan ibunya yang tega." Haris menyahuti ucapanku. Benarkah begitu? Tanyaku dalam hati.


"Papah aaaa." ucap Givan tengah bermain ponsel dan duduk di sebelah kursi ibunya. Ia membuka mulutnya meminta diisi olehku.


"Udah besar tuh makan sendiri Bang." ucapku menyuapkan makanan ke mulut kecilnya.


"Papah Hendra dulu sering disuapin Mamah aku, padahal Papah udah besar." sahut Givan santai. Dinda menyelesaikan makanannya dan meminum segelas air putih hingga tandas. Lalu ia menaruh piringnya ke tempat cuci piring dan berlalu pergi entah kemana.


"Dek." seru Haris yang Dinda hiraukan. Hmm, kenapa ia sesensitif ini?


TBC.


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2