Sang Pemuda

Sang Pemuda
101


__ADS_3

"Assalamualaikum, A." ucap Jefri dengan tersenyum ramah. Kemudian menjabat tangan kakak kedua Adinda, yang biasa dipanggil A Arif itu.


"Wa'alaikum salam. Kirain siapa, sampai Givan teriak-teriak begitu." sahut Arif, "Ayo mari masuk." ajaknya begitu berjabat tangan dengan Adi.


Lalu Jefri dan Adi yang masih menggendong Givan itu masuk ke dalam rumah sederhana yang terlihat masih setengah jadi itu.


"Duduk-duduk aja dulu. Givan baru bangun, belum apa-apa dia." ujar Arif yang mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.


"Iya A, santai aja." balas Jefri menanggapi.


Adi menyenggol kaki Jefri. Lalu Jefri menoleh sekilas pada Adi, dan mengerti maksud kode Adi yang ingin dikenalkan dengan kakak Adinda itu.


"Oh iya. Kenalin A, ini Adi. Dia juga mau sekalian berobat ke sana." ucap Jefri pada Arif.


"Oh gitu. Jadi kita ke sananya bareng-bareng?" tanya Arif yang melihat ke arah Adi sekilas. Lalu mereka berdua mengangguk mengiyakan.


"Syukur deh. Jadi aku ada gantiannya untuk jagain bocil yang satu ini." lanjut Arif dengan mengelus kepala Givan. Lalu mereka semua tertawa ringan.


"Aa mandi dulu sana, panggil budenya. Bude, Aa mau mandi gitu." ucap Arif pelan, namun bisa didengar oleh Jefri dan Adi.


"Abang, bukan Aa!" ujar Givan sewot.


"Iya, Abang. Sana cepet mandi dulu." ulang Arif yang melupakan keponakannya sekarang hanya ingin disebut dengan Abang.


Lalu Givan turun dari pangkuan Adi, dan berlari ke belakang dengan memanggil "Bude...bude…"


"Sebentar ya." ucap Arif ramah dan pergi mengikuti keponakannya itu.


"Kau tau tak, ini tanah sama bangunannya uang dari Dinda tau. Hebat ya jadi janda aja bisa ngehasilin yang sebanyak ini." ungkap Jefri pelan.


"Dari harta gono gini sama suaminya dulu kah?" tanya Adi kemudian.


"Bukan, dari hasil kerjanya. Nulis novel, bikin artikel, bantu usaha teman-temannya. Pas awal-awal aku kenal Dinda, dia juga jualan online. Dari sepatu, baju, kerudung, tas, ada semua. Sekarang dia udah punya toko kecil-kecilan, jual barang-barang begitu yang serba tiga puluh lima ribu. Reseller onlinenannya juga banyak." jelas Jefri memberitahu Adi tentang pekerjaan sambilan Adinda.


"Artinya bukan karena dia jadi janda terus dia hasilin uang banyak!" tukas Adi dengan menoyor kepala Jefri pelan. Jefri terkekeh geli karena ucapannya sendiri.


"Kau cakap macam itu, kan pikiran aku langsung menerawang ke barang delapan puluh juta itu." lanjut Adi dengan mata yang menerawang jauh.

__ADS_1


Tawa Jefri pecah karenanya, "Tak lah. Dia tak jual barang delapan puluh juta itu. Menurutnya delapan puluh juta terlalu murah." ucap Jefri yang masih tertawa.


"Tapi aku tak pernah tau Dinda punya usaha toko pakaian serba tiga lima." ujar Adi dengan memperhatikan rumah setengah jadi ini.


"Yang ngelola istrinya Arif ini. Arif juga bantuin sesekali." jawab Jefri memberitahu.


"Oh, namanya Arif kakaknya?" tanya Adi yang langsung diangguki Jefri.


"Iya, aku Arif. Kakak keduanya Dinda. Kakak pertamanya namanya Afan." sahut Arif yang datang dengan membawa nampan berisi kopi dan beberapa kue kering.


Adi merasa tak enak, dan tersenyum canggung. Pasalnya pertanyaannya tadi malah didengar oleh kakak Adinda langsung.


"Jadi, Dinda tiga bersaudara? Dia anak bungsu?" tanya Adi yang sudah kepalang tanggung.


Arif menganggukan kepalanya, "Iya. Tapi yang bungsu ini yang paling susah di atur. Yang paling nekad, dan kayaknya gak punya rasa takut." jawab Arif mencairkan suasana.


"Memang gimana?" sahut Adi yang terlihat ingin tau sekali tentang Adinda.


"Kaya semalam aja. Dibilang ayo ditemenin aja ke kota Y nya. Dia nolak, malah minta sana temenin Givan berobat aja. Bolak balik A*** sama anak aja. Udah kaya bolak balik kabupaten kota. Belum sebulan, udah balik lagi. Dimongin malah nangis. Susah nyikapin anak itu. Kita sebagai kakaknya kan ngerasa khawatir, dia perempuan tapi ke mana-mana sendiri. Eh yang dikhawatirkannya malah enjoy aja. Pusing kalau udah bersangkutan sama dia." ungkap Arif yang mendapat tawa ringan dari mereka semua. Lalu mereka melanjutkan obrolan mereka dengan pertanyaan yang banyak muncul dari Adi. Sampai Arif sendiri merasa curiga dengan Adi.


"Abang ini yang nelpon waktu subuh bukan? Logat dan suaranya kayaknya sama." tanya Arif kemudian.


"Ceritanya ini mau jadi calon papahnya Givan." ungkap Jefri yang membuat suasana di pagi ini serasa begitu menegangkan.


"Yang orang A*** itu?" tanya Arif dengan memperhatikan Adi dengan tajam. Adi mengangguk ragu, ia berpikir jangan-jangan Adinda sedikit banyaknya sudah bercerita tentangnya.


"Kasusnya sulit. Aku dapat orang sebrang. Lima tahun baru bisa ngehalalinnya. Itupun dengan bantuan sana sini." tutur Arif yang menceritakan sendiri garis besar permasalahan cintanya dengan istrinya dulu.


"Masalahnya orang tua saya, orang tua Dinda ini terlalu sayang anak-anaknya. Gak mau jauh sama anak-anaknya." lanjut Arif kemudian.


Adi mengerti sekarang, jadi kenyataannya begitu. Tapi dia tetap masih ingin memperjuangkan cintanya pada Adinda.


Namun ia enggan buka suara, dan lebih memendam sendiri apa yang ia rasakan sekarang. Biar nanti jika sudah waktunya tiba, akan jadi kejutan untuk semua orang. Termasuk Adindanya.


"A, Givan sarapannya di mobil aja. Ini perlengkapan Givan. Hp, kabel casan sama PB ada di paling atas ya." ucap seorang perempuan berkulit hitam manis, dengan mata lentik dan gigi gingsul yang menjadi ciri khas istri seorang Imam Arif. Ia tengah menggendong bayi yang berusia empat bulan, sambil membawa tas perlengkapan bayi berwarna ungu kehitaman. Dengan tepak makan polos yang berbalut kantong plastik hitam. Terlihat ia begitu kerepotan.


"Adek ke ibu aja. Biar ada yang buat gantiannya buat ngurus Anas." ucap Arif yang menggapai tas dan tempat makan dari tangan istrinya.

__ADS_1


"Anasha, Pakde! Kalau Pakde nyebut Anasha, Anas-Anas terus. Aku bawaannya pengen ngaji aja." tutur Givan yang membuat orang dewasa itu tertawa geli.


"Biarpun Anasha masih kecil, Abang manggil Anasha harus pakai embel-embel kakak loh Bang." ucap Jefri yang mengajak Givan dalam gendongannya.


"Mamah pun bilang begitu. Aku udah kepengen dipanggil Abang, punya adik yang banyak. Yang larinya kenceng, yang kuat disenter bola. Terus adiknya harus laki-laki semua, soalnya aku mau buat team kesebelasan." ujar Givan saat mereka semua berjalan ke arah mobil Jefri.


"Ok siap. Requestnya sama papah Adi ya, Bang." sahut Jefri yang membuat Adi semakin merasa malu di depan kakak kandung dari wanita yang ia cintai tersebut.


Lalu Givan pun menoleh ke arah Adi, dan mengulangi kalimatnya yang membuat orang yang mendengarnya tertawa geli.


Istri Arif yang bernama Maylani itu hanya mengantarkan mereka sampai di depan rumahnya saja. Dan mobil yang mereka semua tumpangi perlahan menjauh dengan dikemudikan oleh Adi lagi.


"Di, kau bawa alat bantu napas portabel tak? Aku khawatir kau bengek di sana nanti." ucap Jefri yang duduk di bangku belakang dengan memainkan ponselnya.


"Bawa. Di saku jaket aku." sahut Adi dengan mulai menstabilkan laju kendaraannya.


"Aku tidur ya. A Arif tau kok alamatnya." balas Jefri.


"Yang di kota J itu kan? Di situ lagi kan?" tanya Arif yang duduk di sebelah Adi dengan menyuapi Givan.


"Iya A, di situ. Aku semalam tugas malam, A. Pengen tidur sejenak gitu." jawab Jefri dan menjelaskan keadaannya.


"Dipaksa Dinda buat anter?" tanya Arif yang langsung mendapat anggukan kepala dari Jefri.


"Kalau mau gantian sama A Arif aja, Di." ujar Jefri pada Adi.


"Jangan Pakde yang bawa. Macam keong, lambat kali." ucap Givan yang menoleh pada Adi.


"Pakde bukan pembalap kayak mamah kamu!" sahut Arif gemas.


Adi langsung menoleh pada Arif. Sepertinya Arif mengetahui sesuatu tentang adiknya.


TBC.


LIKE dong 😁


VOTEnya jangan lupa πŸ™

__ADS_1


terima kasih πŸ˜πŸ™


__ADS_2