Sang Pemuda

Sang Pemuda
133


__ADS_3

Aku langsung menuju kamar Zulfa, dan menarik gagang pintu yang ternyata tidak dikunci itu.


"ANJ*NG, SIALAN KAU!" seruku saat melihat Jefri tengah memakai celana jeansnya dengan terburu-buru.


Dan Zulfa, ya Allah dek. Dia tak berbusana di balik selimutnya.


Aku langsung menghujamkan beberapa pukulan di wajah dan perut Jefri. Berulang kali aku memberinya pelajaran padanya, dan dia tak melawanku sedikit pun.


"Bang, udah Bang. Bisa horor rumah Abang kalau Jefri sampai mati di sini." ucap Dinda menyadarkanku dari emosi yang menguasaiku sekarang. Dinda menarik lenganku, dan membawaku keluar dari kamar Zulfa kembali.


"Pakai pakaiannya, Zulfa." ujar istriku untuk Zulfa.


"Mana Givan?" tanyaku mencari keberadaan anakku. Aku tak mau Givan melihat ini semua.


"Di kamar Abang. Dia lagi main hp aku." jawab Dinda yang masih memeluk lenganku.


"Abang, jangan macam itu. Kita omongin baik-baik, ok?" ungkap istriku dengan mengelus lenganku. Aku paham ia tengah menenangkanku sekarang.


Siapa yang tak emosi, melihat adiknya tengah bertelanjang dengan temanku sendiri. Dia merusak adik kecilku. Sampai hati dia merenggut kesucian adikku yang baru berumur dua puluh tahun itu.


Bagaimana nanti masa depan adikku? Aku tak bisa membayangkannya.


"Di, aku bisa jelasin." ucap Jefri setelah keluar dari kamar Zulfa.


Aku hendak mendekatinya lagi, namun Dinda langsung memelukku erat.


"Tenang, Bang." ujar istriku pelan.


"Apa kau gila? Tak mampu kah kau jajan betinanya? Zulfa masih dua puluh tahun, Jef. Masa depannya masih panjang. Kau pasti bodohi dia, biar bisa nyerahin begitu aja sama kau." tuturku dengan menatapnya dengan tajam.


"Maaf, maaf yang sebesar-besarnya. Aku janji tak akan ninggalin Zulfa gitu aja." sahut Jefri seperti memohon.


Lalu aku meninggalkannya, aku berjalan cepat menuju kamar Zulfa. Dengan bau khas seperti ini. Aku paham apa yang sudah terjadi di kamar ini.

__ADS_1


"Apa kau tak punya otak, Dek? Ya ampun, Zulfa. Apa kau tak mikirin gimana nanti suami kau tau kau udah tak perawan? Masa depan kau masih panjang, dan kau relain laki-laki itu ngerusak kau macam ini? Dek, coba pikirkan gimana kecewanya umi nanti?" ucapku begitu kecewa dengan dirinya. Zulfa menundukan kepalanya, dan mungkin ia menyesali semua ini.


"Maaf, Bang. Aku cinta sama Bang Jefri." sahut Jefri dengan lirih. Apa dia kata?


"Bukan begini caranya, Zulfa! Bukan begini!" balasku dengan memperhatikan dirinya. Lihat apa yang harus aku banggakan. Ia penuh tanda merah dengan statusnya yang belum menikah.


"Maaf Bang. Tolong jangan kasih tau umi." ungkap Zulfa dengan menutupi lehernya dengan rambutnya.


Aku hanya terdiam membisu, aku menundukkan kepalaku. Aku teringat kelakuanku dulu yang selalu mengambil keperawanan gadis dengan alibi cinta. Sekarang giliran adikku yang harus menjadi korban dari laki-laki b*jingan sepertiku.


Ya ampun, Zulfa. Apa ia tak paham bahwa Jefri hanya mempermainkannya. Ia baru putus cinta, laki-laki tak langsung pulih dari patah hatinya. Bisa-bisanya Jefri memperalat adikku untuk kebutuhannya.


AUTHOR POV


"Bang, betul ucapan kau yang mau ngerusak anak perempuannya umi?" tanya Adinda pada Jefri, setelah Adi masuk ke dalam kamar Zulfa.


Jefri menggeleng, "Sebetulnya, aku dan Zulfa udah deket sejak kau diminta ke provinsi A. Bukan tanpa alasan, aku dan dia sama-sama suka, Dek!" jawab Jefri kemudian.


"Tapi, bukannya kau masih sama Ganis? Gimana rencana pernikahan kalian?" sahut Adinda dengan ekspresi bingungnya.


"Apa pun alasannya, harusnya kau tak begini Bang. Masa depan Zulfa masih panjang, kau pun belum tentu bakal nikahin dia. Keperawanan masih cukup penting, untuk jadi tolak ukur perempuan baik-baik." tutur Adinda.


"Apa kau tak ada rasa tak enak sama bang Adi? Kau akrab sama dia, tapi di belakangnya kau rusak adiknya." lanjut Adinda.


"Mau gimana lagi? Semua udah terjadi. Dan, Zulfa pun tak akan hamil anak aku juga. Sejauh ini aku bermain aman." tukas Jefri kemudian.


"Apa kau tak berpikir, gimana malunya Zulfa saat suaminya tau bahwa dia udah tak perawan? Pikirin nasib lawan main kau, sebelum kau tidurin dia." ucap Adinda dengan memperhatikan bekas pukul dari suaminya.


"Secepatnya aku tunangin dia. Kau tenang aja." sahut Jefri pada Adinda.


"Hanya tunangin, belum tentu kau dinakahin. Dan yang pastinya, hal ini pasti lebih sering kau lakukan nanti." ungkap Adinda, lalu ia pergi menemui suaminya yang berada di dalam kamar Zulfa.


Jefri menatap kepergian Adinda. Sebenarnya, ia pun tak paham dengan isi hatinya sendiri. Tapi, karena kepergok seperti ini. Ia sadar, ia tak akan bisa lari dari tanggung jawab. Terlebih lagi, Adi mengetahuinya sendiri.

__ADS_1


Adi duduk di lantai, dengan memeluk lututnya sendiri. Ia merasa hukum karma benar adanya. Yang lebih menyedihkan lagi, adiknya yang mendapat balasan dari kelakuannya dulu.


Adi hanya terdiam membisu dengan telinga yang mendengarkan nasehat istrinya untuk Zulfa. Terdengar suara tangis Zulfa yang begitu terdengar menyesal.


"Bukan Akak tak ingin kau dan Jefri menikah. Tapi, dengan kalian bertunangan nanti malah bikin Jefri bisa sepuasnya dengan kau. Kau yang paham, untuk laki-laki se*s ini kebutuhannya. Cinta bukan tentang se*s melulu, kau yang paham dan bedakan antara cinta yang tulus dan hanya sekedar penyaluran kebutuhan aja." ucap Dinda menyahuti perkataan Zulfa yang mengatakan Jefri berjanji akan mengajaknya bertunangan. Dan tahun depan, mereka akan menikah.


"Pulanglah ke orang tua kau. Kalau Jefri sungguh-sungguh, dia pasti akan ngejar cinta kau dan ngomong baik-baik sama orang tua kau." lanjut Adinda dengan memperhatikan wajah ayu Zulfa, yang penuh dengan air mata.


"Kalau Jefri malah sebaliknya gimana, Kak?" balas Zulfa merasa tak yakin akan saran Adinda.


"Ya dengan begitu kan kita jadi tau gimana keseriusan Jefri. Kalau memang dia sebaliknya, ya udah kau yang ikhlas. Mungkin Jefri memang bukan jodoh kau. Dan kau berdoa, semoga ada laki-laki yang nerima kau apa adanya." jawab Adinda mantap.


"Akak mudah berbicara begitu. Akak gak paham perasaan aku." ucap Zulfa dengan mulai menangis lagi.


"Aku paham, aku pernah di posisi kau. Makanya aku saranin kau lebih baik tinggalin dia. Karena bertahan itu lebih sulit. Belum lagi kau harus rela tubuh kau dijamahnya sesuka hatinya. Awal-awal kau memang merasa paling dicintainya. Tapi saat rasa bosan mulai datang, bukan hanya hati kau, badan kau pun hancur karena hubungan tak sehat sebelum pernikahan ini." ujar Adinda membuat Adi menoleh pada istrinya.


Adi tak paham dengan pikiran istrinya. Pasalnya dua kali ini ia mendengar ucapan Adinda yang meminta meninggalkan pasangan kita. Waktu Adi sendiri pun, Adinda meminta untuk melupakan satu sama lain. Dan ia menyarankan adiknya sekarang untuk meninggalkan Jefri.


"Kak, kita saling cinta, kita saling suka, saling sayang. Berat Kak untuk dipisahkan." ungkap Zulfa dengan menundukkan kepalanya.


"Lebih berat lagi kalau nanti kau semakin rusak terus setelah ia bosan, kau ditinggalkannya. Itu bukan hal yang tidak mungkin." sahut Adinda dan pergi keluar dari kamar Zulfa. Untuk memenuhi panggilan anaknya yang semakin tak sabaran itu.


Adinda terkejut, ia kira Jefri sudah pulang. Ternyata laki-laki itu masih duduk di tempatnya tadi. Adinda melewatinya begitu saja, dan masuk ke kamar suaminya untuk menemui anaknya yang ia tinggalkan sendirian.


Adinda menemani Givan bermain ponselnya. Ternyata, anaknya tengah kesulitan untuk menyelesaikan game yang sedang ia mainkan.


"AKAK, BANG ADI…" teriak Zulfa dari dalam kamarnya.


TBC.


Wah, tak patut. Dasar kurang bahan percobaan rupanya.


Heran aku sama Pemuda yang ada di cerita ini. Kok pada suka unboxing perawan.

__ADS_1


Eh, kenapa lagi nih dengan Adi Riyana pemilik Adi's bird yang gacor ini?


__ADS_2