Sang Pemuda

Sang Pemuda
61


__ADS_3

Semongko 🤣


Semangato Sampek Bungko


Happy reading


"Apa Dek?" tanyaku dengan menariknya kembali untuk duduk di ranjangku.


"Bapak sebenarnya tak setuju aku kerja jauh. Bapak nyuruh aku buka usaha aja." ungkap Dinda dengan menundukkan kepalanya.


"Abang masih butuh bantuan kau, Dek. Abang belum bisa balik dan ngurus ladang di sana lagi." sahutku jujur. Sebenarnya bisa saja aku kembali ke daerah asalku dan mengurus ladang kopiku kembali. Tapi aku belum siap melihat Shasha dengan perut besar yang beraktifitas di depan mataku.


Rumahku dan rumah Shasha hanya berbeda RT saja. Ibunya memiliki keude, toko sejenis warung kecil yang berada di sebelah rumahku. Ibunya berjualan makanan untuk para buruh ladang yang bekerja di ladangku. Tentu saja pasti ada Shasha yang setia membantu ibunya di sana.


Entahlah rasa untuknya masih ada atau tidak, yang jelas aku belum siap muncul di depannya. Bukan karena aku merasa bersalah karena tak menikahinya.


Tapi aku tak bisa menahan kekecewaanku padanya. Wanita yang selalu bisa menjadi perisaiku, wanita yang selalu menutupi keburukanku. Namun kenyataannya ia tak bisa bertahan sedikit saja menungguku.


Aku menjalani enam bulan masa rehabilitasi, dan satu tahun kurungan penjara. Tiga bulan pertama saat aku berada dalam sel, Shasha selalu membesukku setiap Minggu. Namun bulan-bulan berikutnya ia tak pernah datang lagi. Sampai saat masa hukumanku tinggal satu bulan lagi, ia datang dengan membawa kabar untuk menyudahi saja pertunangan ini. Dia mengembalikan cincin yang melingkar di jari manisnya.


Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada ini. Padahal waktu itu, aku sudah berencana untuk meminangnya. Tapi apa boleh buat, takdir berkata lain. Dan fakta yang mengejutkan untukku. Aku mengetahui Shasha menikah di hari pembebasanku. Dan yang paling membuatku kaget. Di hari Edi menikah, aku pun mengetahui Shasha menikah karena hamil.


Jelas itu bukan anakku, terakhir aku menyentuhnya sebelum aku diringkus polisi. Jadi jelas itu bukan darah dagingku.


"Jadi gimana?" tanya Dinda yang membuyarkan lamunanku tentang Shasha.


"Tolonglah pegang ladang Abang dulu, Dek! Abang pun lagi dirundung penyakit yang tak nampak gini. Kau tega mau ninggalin Abang? Tadi kau bilang ada kau yang selalu di samping Abang." ungkapku dramatis. Aku mengharapkan belas kasih darinya.


"Sebetulnya tadi cuma buat kalimat penenang aja." sahutnya sambil cekikikan. Ada pula orang yang terus terang begini. Aku merasa sedang dihidangkan piring kosong.


"Serius loh Abang, Dek!" seruku menggoyang-goyangkan lengannya.


"Aku mau fokus nulis, bikin karya baru. Terus kalau uang udah di tangan, rencananya mau bikin peternakan telor puyuh aja. Aku tak mau bikin orang tua aku setres karena aku, Bang." ungkap Dinda dengan tatapan sendu.


"Terus nasib Abang gimana, Dek?" balasku kemudian.


Dinda diam membisu, aku yakin sekarang ia sedang berpikir mencari jalan keluarnya.


"Ya udah, tenang aja. Yang penting Abang sembuh dulu. Cepet selesai masalahnya." ujarnya dengan tersenyum manis.


"Janji jangan tinggalin Abang? Abang janji bakal nganggap Givan macam anak sendiri. Abang bantu kau untuk ngebiayain kebutuhan Givan." ucapku berjanji padanya.


"Kau bilang gini, karena untuk bujuk aku ngizinin Givan untuk bantu kau kan?" jawab Dinda yang sepertinya ia tak suka Givan menjadi perantaraku.

__ADS_1


"Tolong bantu Abang sedikit aja Dek! Kau tak kasian kah sama Abang, hm?" balasku dengan menatap netranya.


"Bantu gimana? Aku tak pernah suka Givan bermain-main dengan mereka. Aku tak pernah mau anak aku memiliki kelebihan itu." tuturnya sedih dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa hm? Tak semua orang bisa sepertinya, Dek?" tukasku memegang dagunya untuk mendongak menatapku.


"Aku tak mau psikisnya terganggu. Bang, mereka itu memiliki rupa yang beragam. Dan anakku masih terlalu kecil untuk melihatnya. Aku takut anakku tak kuat. Aku takut mereka menyesatkan anakku." jawab Dinda jelas.


"Kenapa tak kau buat Givan tak bisa melihat mereka lagi?" tanyaku berharap Dinda memberitahuku.


"Tak bisa. Hanya bisa membuat Givan mengontrol kemampuannya. Tapi anak itu penasaran sekali. Semakin aku tekankan dia, semakin dia ingin tahu segalanya." sahut Dinda frustasi.


"Kali ini aja Dek! Tolong izinkan Givan menggunakannya untuk bantu Abang." pintaku memelas.


Dinda melihat wajahku, terlihat ia sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian ia mengangguk, "Ya udah. Tapi hanya untuk mengetahui siapa pelakunya ya? Lepas itu kau yang harus maju sendiri." ucapnya yang langsung aku sanggupi. Aku tak mau Dinda berubah pikiran lagi.


Dinda mengecup keningku sekilas, dan ia berjalan menuju spring bed single. Ia mencabut jarum pentul dari hijabnya, lalu ia tusukan jarum tersebut pada kepala ranjang yang berbusa. Setelah merapihkan hijabnya yang tanpa pentul itu, ia langsung merebahkan diri, bermain ponsel sejenak dan tak lama ia sudah tertidur.


Aku menuruti saran Givan untuk membaca tiga Qul. Dan aku sambung dengan surat-surat pendek lain yang aku hafal sampai aku terlelap.


~


Pagi harinya, umi dan ayah sudah kembali dengan membawakan sarapan pagi. Givan sedang menonton kartun pagi dengan beberapa cemilan yang tersedia di sini.


Tapi aku percaya, Dinda bukan malas. Mungkin memang ia benar-benar lelah.


"Abang mau makan tak? Biar umi ambilkan." ucap umiku dengan menyajikan makanan.


Sontak aku dan Givan menjawab bersamaan karena merasa terpanggil dengan sebutan abang, "Iya Umi." ucap aku dan Givan dengan kompak.


Umi tertawa kecil dengan aktifitasnya yang masih berlanjut, "Nih buat Papah Adi." ucap umi memberikanku semangkuk bubur berkuah sayur sop ayam.


"Ini buat Bang Givan." ucap umi menyajikan makanan yang sama seperti denganku pada Givan. Givan menatap heran makanannya sendiri.


"Kenapa Bang?" tanya umiku melihat Givan yang hanya menatap buburnya.


"Aku disuruh makan sendiri?" sahut Givan menunjuk wajahnya sendiri. Ia tak menyadari tingkahnya itu memiliki humor tersendiri bagi orang-orang di sekitarnya.


"Sini Umi suapin." ujar umiku yang mengambil alih mangkuk Givan yang terbengkalai karena tak disentuh oleh pemiliknya.


Givan mengangguk dan memulai doa sebelum makannya. Aku mengikutinya mengangkat tangan dan berdoa dalam hati.


~

__ADS_1


Sesi sarapan sudah selesai. Aku sudah dibilas dan memakai kemeja. Sebenarnya aku sudah baik-baik saja, nafasku pun sudah normal seperti biasanya. Tapi entah mengapa aku masih belum diizinkan pulang. Ditambah lagi selang infus masih terpasang di tangan kiriku. Sungguh ini cukup menyakitkan dan membuat tanganku sedikit membengkak.


Dinda menguap dan menggeliatkan tubuhnya, kulihat matanya perlahan terbuka. Lalu ia mengelap mulutnya. Aku langsung terbahak-bahak melihat tingkahnya.


Semua mata tertuju padaku, karena tawaku yang menggema. Kulihat Dinda menutupi wajahnya dengan hijabnya yang sudah tak beraturan itu. Rambutnya pun terlihat kemana-mana.


"Ngeces ya?" ejekku memperhatikan gerakannya.


Dinda tak menyahuti ejekanku, mungkin ia masih ngantuk. Dinda memiringkan badannya dan sepertinya tertidur lagi dengan memunggugiku yang sedang melihatnya.


"MAMAH BANGUN!!!" teriak Givan cukup kuat.


"Hmm" gumam Dinda yang mendengar teriakan anaknya.


Namun ia masih tetap di posisinya. Benarkah Dinda tidur lagi, atau jangan-jangan dia sakit.


"Sakit kah, Dek?" tanyaku dengan mengambil kantong infusku, dan berjalan ke arahnya.


Aku menyentuh keningnya, tak panas. Lalu aku membuka hijabnya yang menutupi wajahnya itu.


"Diamlah Bang! Masih ngantuk aku!" serunya yang membuatku terkejut.


Jadi seperti ini sifat aslinya. Kenapa tak ia tutup-tutupi saat di depanku. Aku kan laki-laki juga, apa dia sengaja ingin dinilai minus olehku.


"Heh, kau perempuan Dek. Tak pantas bangun siang begini. Kemarin-kemarin kau bangun pagi, sekarang siang gini kau masih tidur aja." ungkapku mencoba membangunkannya.


"Sepuluh menit lagi. Aku masih ngantuk!" ucapnya dengan suara khas bangun tidur dan mata kecilnya yang setengah terbuka.


"Semoga bukan kau yang jadi isti Abang kelak." balasku geram dan mengambil tiang untuk menggantungkan kantong infusku. Dan berjalan menghampiri Givan yang sedang bermain di sofa dengan umi.


"Tak boleh ngomong gitu." ucap umiku saat aku duduk di sampingnya setelah menempatkan kantong infus ke tiang dengan benar.


"Kesel aku umi!" sahutku menghela nafas panjang.


Aku melihat Dinda tak ada pergerakan, jangan-jangan ia tidur lagi, "Tak cepet bangun tuh! Mandi, sarapan! Untung ada umi di sini buat ngurus anak kau. Yang Inget coba Dek, kau ini punya anak. Tak pantas kau begini. Jangan bersikap seolah kau masih sendiri. Kau punya tanggung jawab sekarang. Mau jadi apa siang gini masih tidur aja." kesalku dengan sifatnya ini.


Umi menepuk tanganku, "Biarin aja." tutur umiku pelan.


Aku lihat Dinda bangkit dan masuk ke kamar mandi.


TBC.


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.

__ADS_1


Terimakasih 🥰


__ADS_2