Sang Pemuda

Sang Pemuda
109


__ADS_3

"Jef, mana korek?" tanyaku dengan menoleh pada Jefri.


Jefri memberikan korek, dengan melihatku sekilas. Aku mengedipkan mata dengan rapat beberapa kali. Dan terlihat ia mengangguk samar.


"Dinda di kota Y. Ada penerbit asal sana yang ngelirik cerita barunya." jawab Jefri pada umi. Jawabannya tak sepenuhnya berbohong. Meski kenyataan Jefri memang tengah berbohong.


"Oh, tapi kedengarannya kaya lama di sana. Soalnya dia bilang sampai akhir bulan begitu." sahut umi yang ternyata begitu jeli menyimak obrolan Jefri dengan Dinda. Aku paham Jefri meloud speaker panggilan teleponnya tadi agar aku bisa mendengar juga. Namun nampaknya Jefri tak memperhatikan tindakannya tadi dengan matang.


"Soalnya naskahnya masih cacat. Perlu pengeditan lebih dan juga belum diselesaikan oleh Dindanya." balas Jefri sedikit gugup. Umi hanya mengangguk menanggapinya.


Lalu tak lama pun kami bergegas menuju ke mobil setelah membayar makanan.


Sepanjang perjalanan aku memikirkan Dinda dan Givan di sana. Cukup tak kira-kira sampai akhir bulan nanti. Sepertinya aku harus memastikannya sendiri ke sana. Ya betul, projekku bisa langsung dimulai dari sekarang.


Aku mengirimi Safar pesan chat. Untuk bertanya sedikit tentang keadaan ladang, dan tentunya untuk memintanya menjemputku nanti. Aku akan membuat sedikit kejutan kecil untuk Dinda dan Givan.


~


Setelah sampai di rumah, aku bercerita sedikit tentang masalah ladang pada umi. Tentu saja untuk menjadi alasan kepulanganku ke provinsi A.


"Apa perlu umi temani? Umi khawatir serangan penyakit itu datang lagi." ucap umi setelah menyimak ceritaku.


"Tak perlu Umi. Di sana juga aku banyak saudara. Nanti Abang janji bakal sering-sering nelpon Umi." sahutku meyakinkan ibuku ini.


"Ya udah. Kapan Abang berangkat? Umi juga sekalian mau pulang ke kota J. Kasian kan Zuhra di sana cuma sama asisten rumah tangga aja. Ayah pasti sibuk sama beberapa kedai cabang sana." balas umi yang langsung ku iyakan.


Senangnya bukan main. Aku sudah membayangkan hal-hal manis dengan Dinda. Aku sudah membayangkan bagaimana serunya bermain bola dengan Givan di lapangan bola depan rumahku. Dan nanti akan kuajak mereka berdua untuk mandi dan cuci baju di sungai.


Karena aku tau Dinda suka sesuatu yang alami. Sampai kamar tidur yang berada di rumah orang tuanya pun diberi kolam ikan dan air terjun buatan. Tunggu Abang ya Dinda sayang.


~

__ADS_1


Aku sudah berada di dalam mobil Safar. Ia sengaja kuminta untuk tak memberitahu kepulanganku pada Dinda.


Hari sudah terlihat gelap. Semoga saja Givan belum tidur. Aku ingin mendengar teriakannya memanggilku papah dan berlarian menuju ke arahku.


"Cepat lah. Kenapa kau bawa mobil santai kali?" tanyaku pada Safar.


"Masih kurang laju? Segini udah cepat Bang." sahut Safar yang fokus pada jalanan.


"Mau diantar ke mana ini, Bang? Ke rumah abusyik apa ikut aku ke rumah?" ucapnya dengan memberikan pilihan.


"Macam aku tak punya rumah aja. Aku pulang ya ke rumah aku." jawabku padanya. Tujuanku pulang untuk bertemu dengan Dinda dan Givan. Eh malah ia tawarkan aku untuk pulang ke tempat lain.


"Pesan aku…awas ketahuan pak geuchik dan warga kampung." ujarnya yang membuatku sadar. Aku lupa lingkunganku cukup kental dengan agama. Bisa-bisa aku kena cambuk jika ketahuan tinggal serumah dengan Dinda.


"Tenang aja, nanti Abang tidur di rumah abusyik." sahutku kemudian. Safar hanya mengangguk mengerti.


Namun saat aku sampai di depan rumah. Tak terlihat aktifitas makhluk hidup di sana. Kenapa rumahku ini sepi betul. Kemana perginya Dinda dan Givan?


Kulirik jam tanganku, ini baru jam sembilan. Givan biasanya kuat melek. Waktu dititipkan padaku dulu, ia kuat menahan kantuknya sampai jam sebelas malam.


Lalu aku memutar tubuhku. Aku melangkah menuju pintu samping rumahku yang langsung terhubung dengan ruang televisi. Mengerikan sekali keadaan rumahku. Yang tinggi ilalang dengan pagar kayu yang sebagian sudah patah semua. Sepertinya aku akan memperbaiki sedikit rumahku ini. Atau membangun ulang setelah uang deposito berjangka itu cair.


Terlihat lampu dalam ruangan itu masih menyala, dan terdengar suara televisi bersamaan dengan suara anak kecil yang samar terdengar. Tidak salah lagi, ini pasti suara anak laki-lakiku, Ananda Givan.


Aku langsung membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci. Namun apa yang kulihat. Astagfirullah, Dinda… Kenapa lagi dengannya? Kenapa harapanku tak sesuai dengan realita? Aku mengharapkan disambut mereka dengan bahagia. Namun aku harus melihat keadaan yang membuat siapa saja tersentuh.


Terlihat Givan tengah memasangkan plester penurun panas pada dahi ibunya. Aku langsung menghampiri mereka dan bersimpuh untuk bisa melihat keadaan Dinda yang tertidur di atas sofa santai.


"Papah Adi." ucap Givan yang baru sadar atas kehadiranku.


Aku langsung tersenyum ke arahnya. Dan Givan langsung melengkungkan bibirnya ke bawah.

__ADS_1


"Untung Papah datang. Mamah aku sakit, aku harus gimana? Aku sedih, aku takut." ungkapnya yang membuatku kasihan padanya. Jelas ia merasa demikian. Ia harus minta tolong ke siapa? Sedangkan keluarganya berada jauh dengannya.


Terlihat Dinda terganggu dalam tidurnya. Lalu ia membukakan matanya perlahan.


"Bang? Kapan datang?" sapanya yang mencoba bangkit dari posisinya.


"Sini Abang bantu. Dari kapan sakit?" tanyaku dengan memegang tangannya dan menahannya, agar ia bisa menjadikan tanganku sebagai pegangan.


"Aku baik-baik aja." jawab Dinda lirih.


"Bohong. Air mata Mamah keluar terus. Badan Mamah panas. Aku takut betul." tutur Givan yang langsung memeluk ibunya. Lalu terdengar isakan pelan dari Givan. Entah mengapa aku jadi merasa sedih.


Aku yang masih bersimpuh pun semakin mendekatkan diriku untuk bisa memeluk kaki Dinda. Aku memeluk kakinya dengan kepala kusandarkan pada lututnya, karena di atas pahanya ada Givan yang tengah memeluk tubuhnya.


Aku merasakan tangan Dinda mengelus pelan kepalaku. Lalu aku mendongakkan wajahku untuk melihat Dinda.


Givan masih terisak pelan dengan mata yang terpejam. Mungkin ia sudah mengantuk.


Aku bangkit dari posisiku dan beranjak pergi sebentar untuk melepaskan sepatuku dan membersihkan diri.


Bagaimana ini? Aku tak tega meninggalkan Dinda dan Givan, dengan keadaan Dinda yang demam begini. Tapi bagaimana kalau aku tidur di sini? Jelas tadi banyak orang yang melihatku masuk ke dalam rumah. Aku khawatir nanti malah digrebek oleh warga dan dihakimi mereka.


Aku masuk ke dalam kamarku. Sepertinya kamarku sedikit berbeda. Aku menuju ke lemari pakaian dan…. Kenapa bajuku di tumpuk menjadi satu bagian paling atas? Dan apa ini? Pakaian dalam wanita? Wadah part depan? Apa ini semua milik Dinda? Tapi kenapa wadahnya tak sebesar isinya?


Aku langsung mengambil kaos yang paling mudah kuraih. Dan menarik sarungku. Karena jujur aku tak nyaman menggunakan celana jeans terlalu lama. Saat di rumah aku lebih nyaman menggunakan sarung, atau celana pendek saja. Tapi bukan kolor dua puluh lima ribuan juga yang aku pakai. Intinya celana pendek yang membuatku semakin pantas.


Aku berjalan cepat menuju ruang depan, karena terdengar ketukan pintu berulang kali yang sepertinya akan membuat pintuku jebol.


"Di… Adi." panggil pelaku yang menggedor-gedor pintu rumahku.


TBC.

__ADS_1


Hah, jangan-jangan warga kampung? 😱


__ADS_2