
Siska membantu mengupas bawang, menyiangi cabai. Ia juga membantu memotong ayam. Setelah selesai, ia membaca resep masakan ayam crispy. Lalu coba membuatnya.
Doni senantiasa ada disampingnya untuk menilai kinerja Siska dari nol. Walaupun Siska selama ini jarang memasak, karena memang tidak mau menyentuh kegiatan dapur yang bisa membuat kuku-kuku cantiknya menjadi rusak, nyatanya ia juga terampil dalam urusan dapur.
"Sudah matang. Coba saya cicipi dulu masakan mu." ucap Doni sambil memotong ayam crispy yang masih hangat itu, lalu melahapnya.
"Hem, sesuai dengan resepnya. Sekarang, coba ayam crispy buatan ku."
Doni menyodorkan sepotong ayam goreng ke mulut Siska. Gadis itu merasa aneh, karena laki-laki dihadapannya berniat menyuapi.
Ia merasa tidak enak, akhirnya mengambil potongan ayam itu dengan tangannya lalu mengunyahnya. Ia tersenyum puas, karena bentuk dan rasanya memang sama dengan milik Doni.
"Terima kasih ya, mas. Sudah mengajariku."
"Sama-sama. Omong-omong, sepertinya sudah sore. Ayo kita bereskan mejanya, lalu pulang." ajak Doni, dan Siska pun menganggukkan kepalanya.
Keduanya segera membereskan meja dan semua peralatan yang digunakan untuk memasak tadi. Setelah semuanya beres, barulah keduanya keluar dari kedai itu.
"Kamu kesini naik apa?" Doni celingak-celinguk memperhatikan sekitar, tapi yang ada hanya mobilnya saja.
"Aku berjalan kaki." jelas Siska yang membuat Doni membelalakkan matanya.
"Jalan kaki?" ulang Doni, seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan gadis dihadapannya. Tapi gadis itu menganggukkan kepalanya. Sehingga mau tak mau Doni mempercayainya.
"Apa tidak capek?"
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya apa-apa. Hidup pun sebatang kara. Aku cari kerja untuk biaya makan, dan sewa kost-kostan. Sudah itu saja. Makanya, gaji lima puluh ribu, bagi ku sudah cukup, mas."
__ADS_1
Doni seketika menelan saliva. Ia membayangkan bagaimana susahnya kehidupan yang harus dilalui Siska.
"Alamat kost-kostan mu dimana?"
"Jalan merpati nomor sepuluh."
"Kita searah. Kamu bisa ikut menumpang mobil ku."
"Tidak usah, mas. Aku terlalu banyak merepotkan mu nanti."
"Tenang. Ini gratis. Anggap saja fasilitas dari kedai ku. Daripada kamu jalan kaki, terus kecapekan. Besok tidak masuk kerja deh."
"Ampun. Jangan mendoakan yang jelek-jelek dong, mas. Iya-iya, aku mau ikut menumpang mobilnya kalau begitu."
"Nah, gitu dong. Ayo." ajak Doni sambil berjalan menuju mobilnya.
"Mas, aku naik di depan atau dibelakang?"
Sepanjang perjalanan, keduanya terus diam. Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Akhirnya, rumah kost Siska sudah terlihat. Dan tak lama kemudian, mobil pun berhenti.
"Terima kasih atas tumpangannya ya, mas. Semoga rezekinya lancar. Maaf bukannya saya tidak mau menawari mas Doni untuk mampir. Tapi peraturan ibu kost, memang tidak boleh membawa tamu laki-laki masuk."
"Hem, aku paham. Besok pagi kamu berangkat dengan ku saja. Kamu tunggu saja aku di sini."
"Ta-tapi, mas."
"Tidak ada tapi-tapian. Biar kamu tidak datang terlambat."
__ADS_1
Siska tak bisa menolak lagi. Karena ia memang takut terlambat. Dan akhirnya bisa dipecat. Padahal ini adalah pekerjaan yang diharapkan selama ini.
"Baik, mas. Kalau begitu, saya keluar dulu ya." Doni menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari mobil.
"Wah, siapa tuh, Sis?" tanya Mbak Ima, teman kost Siska, ketika gadis itu sudah sampai di depan pintu kamarnya. Kebetulan mbak Ima juga baru pulang kerja.
"Itu tadi pemilik kedai ayam tempat aku bekerja, mbak."
"Kamu sudah dapat kerja? Kapan?" tanya Mbak Ima dengan wajah berbinar.
"Baru saja, mbak. Aku masuk dulu ya, mbak." pamit Siska, ia masuk ke kamarnya. Ketika hendak menutup pintu, ia mengurungkan lalu membukanya kembali.
"Mbak, besok kedai ayam crispy tempat kerja ku mulai buka. Katanya ada diskonnya juga. Kamu sama teman-teman mu bisa mampir." ucap Siska sambil melongokkan kepalanya. Mbak Ima tertawa, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya. Besok aku usahakan mampir. Alamatnya di mana?"
"Jalan Garuda, mbak. Di seberang jalan ada masjid."
"Oh, daerah situ. Aku tahu. Karena memang sering lewat situ juga."
"Terima kasih ya, mbak. Kalau begitu aku mau mandi dulu. Rasanya benar-benar gerah."
"Okay. Aku juga mau mandi."
Siska mandi dengan menggunakan air hangat yang dicampuri kayu secang. Meskipun ia sudah dinyatakan sembuh, tetap saja ia masih melakukan hal itu. Sebagai anti biotik dari luar. Sedangkan dari dalam, ia juga masih rutin mengonsumsi obat.
Ia berendam di dalam ember. Karena kost-kostan nya hanyalah kost-kostan murah yang berukuran enam kali enam meter.
__ADS_1
Meskipun begitu, ia sudah sangat bersyukur sekali masih bisa beristirahat dengan nyaman, dan mampu membayarnya.
Mandi dengan menggunakan air hangat, benar-benar membuat badannya rileks. Rasa capek karena berjalan kaki puluhan kilometer dan pun seketika lenyap.