Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
36. Menjadi direktur utama


__ADS_3

"Woi, Don, mukamu semakin hancur saja ku lihat." sapa Adi sambil terkekeh kecil, saat Doni baru saja tiba di tempat kerjanya.


"Ini tuh cuma luka ringan, ngga usah terlalu membesar-besarkan deh. Lebay." sahut Doni tak suka di ledek temannya seperti itu.


"Woi pengantin baru. Nikah ngga ngundang-ngundang." ucap teman Doni yang lain.


"Ah, mengundang kalian hanya menambah jatah pengeluaran ku saja."


"Apa salahnya, lagian kita menikah paling seumur hidup sekali kan?" balas teman yang lainnya lagi, dan disertai anggukan oleh teman-temannya.


"Eh, tunggu-tunggu, istri kamu seperti apa sih orangnya? Kok habis jadi pengantin baru, bukannya bertambah ganteng, justru semakin bertambah ngeri mukamu?"


Banyak lagi teman-teman Doni yang mengolok-olok dirinya. Membuat hatinya semakin jengkel dan ingin memukul mereka satu persatu.


Semua huru-hara itu seketika bubar dan mulai berpura-pura sibuk, ketika salah satu dari mereka melihat Mahes berjalan ke arah mereka.


"Halah, kalian itu cemen. Belum aku apa-apain juga, sudah kabur saja." ucap Doni sambil menunjuk satu persatu temannya dengan kesal.


Ia tak tahu jika teman-temannya berhenti mengolok-olok dirinya bukan karena takut dengannya, tapi takut dengan kedatangan Mahes.


"Ini tuan minuman pesanannya." ucap Mahes sambil meletakkan mug yang berisi cairan coklat yang masih mengepulkan asap panasnya, di hadapan Doni.


"Hem, sesuai janjiku. Nih aku kasih tips untuk kamu." Doni mengeluarkan selembar uang merah dari dalam dompetnya, dan mengulurkan pada Mahes.


Laki-laki itu sengaja mengangkat uang tersebut tinggi-tinggi, agar teman-temannya bisa melihat begitu baik dirinya.


Dan teman-temannya yang melihat hal itu membulatkan matanya. Membuat Doni merasa lebih bangga pada dirinya sendiri karena rencananya berhasil.

__ADS_1


"Terima kasih tuan. Tapi saya tidak memerlukan uang ini. Mungkin uang ini untuk anda saja atau untuk teman-teman anda." tolak Mahes.


"Apa! Kamu berani menolak pemberian ku? Sombong sekali dirimu? Cuma seorang asisten rumah tangga, dan kini jadi office boy saja bangga." ucap Doni penuh emosi sambil menunjuk ke arah Mahes.


Lagi-lagi teman-temannya membulatkan matanya karena tak percaya dengan apa yang dilakukan Doni.


"Ya sudah, pergi saja kalau begitu. Ingat, kalau sewaktu-waktu aku membutuhkanmu, kamu harus siap sedia."


"Baik tuan. Saya permisi." Mahes membungkukkan badannya lalu berlalu pergi menuju ke ruangannya.


Setelah kepergiaan Mahes, teman-teman Doni menggelengkan kepalanya, ada juga yang menepuk jidatnya.


Mereka sengaja tidak memberitahu pada Doni. Biar laki-laki sombong itu tahu fakta yang sebenarnya dengan caranya sendiri.


Lain teman-temannya, lain pula Doni. Laki-laki itu masih saja tersenyum jumawa. Ia merasa sangat disegani oleh teman-temannya.


Ia membalikkan badan dan menatap ke arah wanita yang kini berdiri di belakangnya. Dia adalah Bu Dewi.


"Masih masuk kerja kamu? Saya pikir kamu sudah bosan kerja disini dan memutuskan resign tanpa memberi surat pengunduran diri. Karena seminggu lebih tidak masuk kerja." ucap Bu Dewi.


"Saya ini sangat setia dengan perusahaan ini bu. Tidak mungkin lah saya resign."


Doni terkekeh kecil menanggapi asisten bos nya yang telah almarhum. Selagi belum ada penggantinya, ia masih bisa bersikap santai.


"Ya sudah, sekarang kamu masuk ke ruangan direktur utama."


"Masuk ke ruangan direktur utama Bu?" ulang Doni dengan wajah yang berbinar, sementara bu Dewi mengangguk saja.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, ia langsung berdiri sambil membenarkan letak jas dan dasinya. Lalu berjalan menuju ruangan yang di maksud penuh keangkuhan.


Ia yakin pasti akan di angkat menjadi direktur utama perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kain itu.


Karena tidak ada karyawan lain yang pekerjaannya lebih mumpuni daripada dia. Apalagi Doni memang menjadi karyawan yang paling lama bekerja di perusahaan tekstil itu.


Sehingga harus mempersiapkan diri agar layak ketika nanti bertemu dengan kolega.


Tanpa permisi seakan ruangan itu adalah miliknya sendiri, Doni memutar knop pintu, lalu masuk menuju ruang direktur.


Matanya membulat ketika melihat laki-laki yang tadi membuatkan minuman untuknya, duduk di kursi direktur.


"Woi, pergi-pergi. Dasar OB ngga tahu diri. Bukannya kerja, ini malah main ke ruangan saya. Ayo berdiri, dan cepat bersihkan kursi itu. Saya tidak mau terkena najis mugholladhoh."


"Kalau saya tidak mau pergi kenapa?" tanya Mahes enteng. Tapi mampu membuat Doni tersulut emosi. Ia mendekat ke arah Mahes dan mencengkeram kerah lehernya erat.


"Doni." teriak Bu Dewi sambil membulatkan matanya ketika melihat hal itu terjadi. Wajahnya terlihat sangat pias, mungkin sebentar lagi ia akan pingsan.


"Mulai sekarang, panggil saya pak. Pak Doni. Kalau tidak, bakal saya pecat kamu. Karena berlaku tidak sopan pada atasan." Doni menunjuk ke arah bu Dewi dengan angkuh, lalu kembali melihat ke arah Mahes.


"Doni." Bu Dewi memanggilnya lagi. Lidahnya serasa kelu untuk sekedar berkata.


"Apaan sih panggil-panggil seperti itu, tidak sopan." bentak Doni pada bu Dewi.


"Di_dia itu pak Mahesa Sadewa, anaknya pak Brama Sadewa. Pemilik perusahaan ini." ucap Bu Dewi dengan tubuh bergetar, karena takut jika Mahes sampai meledak amarahnya.


"Apa?" seru Doni yang sangat terkejut.

__ADS_1


__ADS_2