
"Siska, sudah sore. Apa kamu tidak pulang ke kost-kostanmu?"
"Siska sudah pamit sama ibu kost, kalau mau menemani Bu Mirna sampai sembuh."
"Kalau begitu, kamu tinggal disini saja, biar kita tidak sama-sama kesepian."
"Ibu tidak keberatan, aku numpang di rumah ibu lagi?"
"Tidak." Bu Mirna menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Baiklah, besok Siska akan bicara dengan ibu kost."
"Oh iya, Sis. Apakah kamu serius ingin menjanda seumur hidupmu?" Siska menganggukkan kepalanya.
"Ibu bisa melihat kalau nak Doni menyukaimu. Terima saja dia. Kalian berdua sama baiknya. Almarhum suamimu pasti juga bahagia, menyaksikan istrinya sudah berubah dan bisa menikah lagi dengan orang yang baik."
"Bu..."
Belum selesai Siska berbicara, sudah terdengar suara pintu terbuka. Ternyata Doni sudah berdiri diambang pintu.
"Kenapa tidak mengucap salam, mas? Mengejutkan kami saja." Siska mencebikkan bibirnya, kesal.
Pria itu memang sudah masuk ke rumah sejak tadi. Mungkin karena terlalu serius berbicara, jadi Bu Mirna dan Siska tidak menyadari kedatangannya.
Dan sengaja ia berdiri di dekat pintu, karena mendengar keduanya tengah berbicara. Apalagi yang dibicarakan adalah dirinya.
"Aku sudah mengucapkan salam, tapi tidak ada balasan. Karena pintunya sedikit terbuka, ya aku masuk. Apalagi, ketika mendapat pendukung."
Doni melangkah masuk dan meletakkan buah-buahan di meja nakas dekat tempat tidur Bu Mirna. Ia masih tetap berdiri, karena memang tidak ada kursi di kamar itu.
"Sepertinya aku tadi mendengar ada yang mendukungku untuk mendapatkan cintaku. Apa itu betul Bu?"
__ADS_1
Doni menatap Bu Mirna, lalu wanita itupun mengangguk. Lalu pria itu berjongkok dihadapan Siska. Sehingga membuat gadis itu sedikit kebingungan.
"Kenapa kamu seperti itu, mas? Duduklah disini, biar aku pindah." Siska beranjak dari tempat tidur Bu Mirna, tapi pergelangan tangannya di cekal oleh Doni.
"Duduklah. Tidak apa-apa aku duduk dibawah. Aku cuma ingin bilang. Bu Mirna saja mendukung kita untuk bersatu, lalu apa yang membuatmu ragu?"
Siska tak menyangka, jika Doni akan melakukan hal itu dihadapan Bu Mirna. Terus terang, gadis itu malu.
"Soal itu..."
"Sudah aku katakan, kita akan ke dokter untuk memeriksakan kesehatan mu. Biar kita sama-sama tenang."
"Betul apa yang dikatakan nak Doni, Sis. Ibu akan merestui kalian berdua."
Sejenak Siska menatap Bu Mirna, lalu mengangguk setuju.
"Baiklah, aku setuju." lirih Siska sambil menunduk.
"Alhamdulillah. Aku senang sekali Sis."
Doni dengan spontan memeluk Siska. Gadis itu juga tidak menyangka bahwa pria yang dicintainya akan bersikap seperti itu dihadapan Bu Mirna.
Sedangkan Bu Mirna yang melihat, tersenyum lebar melihat kebahagiaan dua insan itu. Ia pun sengaja berdehem, karena keduanya belumlah menjadi suami istri.
"Besok kita ke rumah sakit ya. Aku akan menjemputmu." Siska mengangguk.
Cukup lama mereka bertiga bercakap-cakap. Karena hari sudah mulai gelap, Doni ijin pulang. Dan berjanji akan berkunjung esok hari.
Pada malam harinya, Siska tidur sekamar dengan Bu Mirna. Ia memeluk Bu Mirna seperti ibunya sendiri. Dan tak lama kemudian, keduanya terlelap tidur.
**
__ADS_1
Pagi harinya, Siska bangun lebih pagi. Ia mengerjakan pekerjaan rumah seperti hari kemarin. Setelah selesai memasak, ia berniat membawa makanan itu ke kamar Bu Mirna. Tapi wanita paruh baya itu sudah muncul di dapur duluan.
"Ibu, kenapa menyusul kesini? Siska baru saja mau membawa makanan ini ke kamar."
"Tidak perlu, Sis. Kita makan disini saja berdua."
Bu Mirna menarik sebuah kursi lalu duduk di sana. Siska pun ikut menarik kursi dan duduk dihadapannya.
"Masakan mu cukup enak. Ibu suka." Bu Mirna mendecap makanan yang ada di mulutnya.
"Terima kasih, Bu. Nanti setelah pulang dari rumah sakit, aku masak kan lagi untuk ibu."
"Iya, tapi kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Karena ibu bisa beli sayur yang sudah matang di warung sebelah. Yang penting kamu fokus pada kesehatan mu."
"Baik, Bu."
Siska bangkit berdiri, untuk mencuci piring dan membereskan meja. Setelah itu barulah ia mandi dan bersiap-siap.
**
Di tempat lain, setelah mengantarkan barang-barangnya ke kedai, sesuai janjinya kemarin, Doni menjemput Siska di rumah kontrakan Bu Mirna.
Pemuda itu bersenandung riang sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya, ia sudah tiba di pelataran rumah Bu Mirna.
Ia pun mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Tak lama kemudian, pintu perlahan terbuka. Tampak Bu Mirna lah yang berdiri di ambang pintu. Wanita paruh baya itu mempersilahkannya masuk, dan duduk di ruang tamu.
"Dimana Siska, Bu?"
"Sabar, tunggulah dulu. Dia baru mengerjakan sholat Dhuha."
Doni manggut-manggut dan memuji dalam hati, Siska yang mau mengerjakan sesuatu yang Sunnah.
__ADS_1