
Seperti biasa Doni berangkat pagi. Saat melewati kost-kostan Siska, ia menoleh. Berharap gadis itu menunggunya di depan pagar. Namun ia harus menelan kekecewaan, karena yang diharapkan tidak tampak.
Doni pun melajukan mobilnya menuju kedainya. Karena rasa kecewanya, hingga ia lupa untuk mengantarkan tas milik Siska.
Sesampainya di kedai, ia melihat bu Mirna tengah duduk lesehan di lantai teras kedai. Ia mengibaskan kertas untuk menghilangkan keringatnya. Maklum saja, ia baru saja menempuh perjalanan yang jauh dengan berjalan kaki.
Doni mengulas senyum karena melihat kerajinan Bu Mirna. Meskipun berjalan kaki, tapi ia tidak datang terlambat. Selain itu ia juga mengenakan jilbab, sehingga rambutnya yang beruban tidak terlihat. Penampilannya jadi terlihat lebih rapi dan segar.
Setelah Doni memarkirkan mobilnya, ia membuka pintu mobil, dan mengeluarkan barang-barang untuk stok jualan.
Bu Mirna yang melihat kedatangan Doni, bergegas menghampirinya. Apalagi ketika melihat Doni mengambil barang-barang dari dalam mobilnya, Bu Mirna berinisiatif untuk membantunya.
"Selamat pagi, nak Doni. Ibu bantu ya."
Doni yang tengah membungkukkan badan, karena meraih barang-barang yang ada di dalam mobil, menegakkan badannya.
"Oh iya, Bu. Selamat pagi juga. Bawa dan letakkan dekat pintu saja dulu Bu."
"Baik, nak." Bu Mirna mengangkat wortel dan buncis, dan membawanya menuju tempat yang dimaksud Doni.
Setelah itu, Doni pun menyusulnya. Dan membukakan pintu rolling door.
Kini semua barang-barang sudah dibawa masuk. Doni melakukan marinasi pada daging ayamnya sebelum di goreng. Sedangkan Bu Mirna memotong sayuran.
Sekian jam telah berlalu. Kini semuanya sudah siap. Doni pun membuka pintu rolling door lebih lebar. Jendela juga tak lupa dibuka.
__ADS_1
Bu Mirna menggelar tikar di bawah pohon. Karena ternyata banyak juga pengunjung yang ingin duduk lesehan di situ. Bisa sekalian menghirup udara segar.
Tak lama kemudian, seorang pembeli pun datang. Doni mulai menyapa dan melayaninya dengan baik. Sedangkan Bu Mirna melihat bos nya yang melayani pengunjungnya.
Setelah Doni mencatat pesanan pembeli, ia kembali ke dapur.
"Bu, tolong buatkan teh hangat satu ya. Gulanya dua sendok saja. Dan juga lemon tea dingin. Gulanya juga dua sendok."
"Baik, nak." Bu Mirna segera melakukan apa yang di perintahkan oleh bos nya.
"Ini nak, minumannya."
Bu Mirna meletakkan dua gelas minuman di dekat Doni, yang baru saja selesai menyiapkan makanan.
"Terima kasih, Bu."
Tanpa terasa waktu sudah siang. Doni menyuruh Bu Mirna untuk makan dan minum dulu. Mumpung pengunjung masih bisa di handle nya. Doni tidak mau kejadian seperti Siska terulang lagi.
Detik berganti menit, dan jarum jam juga berputar lebih cepat. Pengunjung datang silih berganti. Meskipun capek, rasanya terbayar lunas. Ketika semua pengunjung bisa terhandle dengan baik, dan puas dengan semuanya.
Stok jualan sudah habis. Hanya tersisa empat potong ayam crispy saja. Doni berniat memberikan ke Siska dan Bu Mirna. Sekalian nanti mengembalikan tas nya.
Saat Doni tengah menghitung omset jualan, ia melihat Bu Mirna sedang membersihkan kedai. Wanita itu memang masih mengingat, peraturan yang diucapkan Doni kemarin. Jadi, ia langsung melaksanakannya. Tanpa harus di perintah dua kali.
Kini semuanya telah bersih. Doni mengulurkan bungkus ayam crispy pada Bu Mirna. Tentu saja wanita itu sangat senang.
__ADS_1
Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih pada Doni. Tak lupa ia juga mendoakan agar Doni selalu diberi kesehatan dan kelancaran rezeki.
"Ibu rumahnya mana?"
"Di jalan rawa becek, nak."
"Oh, sayang ya. Tidak searah dengan saya. Tapi mari saya antar."
"Tidak perlu, nak. Nanti merepotkan kamu. Lagian ibu sudah terbiasa jalan kaki puluhan kilometer. Jadi masih kuat."
"Ya sudah, kalau begitu ibu hati-hati ya di jalan."
"Iya, tentu ibu akan hati-hati." balas Bu Mirna dengan senyum sumringah, sambil menatap wajah Doni lekat.
Keduanya pun berpisah. Doni berjalan menuju mobilnya terparkir, sedangkan Bu Mirna masih memperhatikannya.
"Jika Doni masih hidup, mungkin juga seumuran dia." gumam Bu Mirna, sambil memperhatikan punggung bos nya.
"Jika dia Doni, anak kandung ku. Pasti aku akan memeluknya dengan erat. Aku pasti sangat bahagia sekali."
Doni tersenyum sambil membunyikan klakson, pada Bu Mirna. Saat keluar dari pelataran kedainya. Bu Mirna menganggukkan kepalanya, lalu membalasnya dengan senyuman.
Doni melajukan mobilnya menuju ke kost Siska. Entah kenapa, ia sangat bersemangat untuk bertemu dengannya. Apalagi seharian ini, ia tidak bertemu dengan gadis itu.
Sesampainya di kost, Doni mengetuk pintu kamar Siska. Dan, tak berselang lama pintu itu di buka.
__ADS_1
Doni membulatkan matanya, ketika melihat Siska baru saja selesai mandi. Ia tengah memakai tangtop berwarna merah dan short pant lima centimeter berwarna senada. Rambut basahnya tertutup handuk.