Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
160. Melamar


__ADS_3

Di hari yang sudah ditentukan, Doni datang ke rumah Bu Mirna. Pria itu datang bersama dengan ketua RT dan ketua RW nya, karena ia adalah seorang yatim piatu. Ia juga tidak memiliki sanak keluarga. Kedua orang tuanya adalah anak tunggal dalam keluarganya.


Siska, Bu Mirna dan ketua RT setempat, menyambut kedatangannya dengan ramah. Siska dan Doni sama-sama terpesona dengan penampilan masing-masing.


Malam itu Doni mengenakan kemeja batik lengan panjang warna hitam dan coklat, serta celana panjang warna hitam.


Sedangkan Siska mengenakan gamis batik berwarna sama dengan yang di pakai Doni. Jilbab warna coklat menutupi kepalanya.


Wajah keduanya tampak berseri, dan aroma keduanya juga sangat harum.


Setelah dipersilahkan masuk dan duduk di sofa, Siska menyiapkan jamuan makan untuk para tamunya. Lalu bercakap-cakap sejenak, sebelum akhirnya masuk pada pembahasan inti.


Dengan diwakili oleh ketua RW, Doni menyampaikan maksud kedatangannya. Bu Mirna dan Siska merasa sangat senang, karena apa yang diucapkan oleh Doni, bukanlah semata-mata hanya ucapan belaka. Karena pria itu benar-benar datang untuk melamarnya.


Setelah ketua RW dari pihak Doni selesai berbicara, ketua RW dari pihak Siska membalas dengan ucapan, lalu ia menyerahkan seluruh keputusannya pada Siska.


Gadis itu menganggukkan kepalanya, sebagai sebuah jawaban, bahwa ia menerima lamaran dari Doni. Semua yang ada di ruangan itu mengucapkan syukur dan selamat atas diterimanya lamaran itu.


Sebagai tanda jadi, Doni memberikan sebuah cincin untuk Siska. Keduanya berdiri dan pria itu menyematkan cincin emas di jari manis wanitanya.


Setelah itu, mereka sekalian membahas tentang tanggal pernikahan. Karena hanya sebuah pesta pernikahan sederhana, mereka akan menggelarnya dua Minggu lagi.


Malam kian larut, setelah sejenak bercakap-cakap sambil menikmati hidangan, rombongan Doni pun ijin pulang.


Setelah kepulangan rombongan Doni, Siska dan Bu Mirna membereskan semuanya. Lalu bersih-bersih dan bersiap tidur.

__ADS_1


Tapi, rasanya sulit sekali untuk Siska memejamkan matanya. Karena selalu terbayang wajah Doni dan hal yang baru saja dilalui tadi.


Dalam hati Siska sangat bersyukur, karena ada laki-laki baik hati yang mau mempersuntingnya dan mau menerima segala masa lalunya yang buruk.


Ia berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang baik, dan tidak akan kembali melakukan hal-hal buruk yang ia lakukan dimasa lalu.


**


Ternyata, hal yang sama juga dialami oleh Doni. Sulit sekali rasanya untuk memejamkan matanya. Ia hanya bisa berguling-guling ke kanan dan kiri.


Dalam pikirannya selalu terbayang wajah Siska. Seorang mantan pendosa yang telah bertaubat.


Doni menyukai semangat Siska, dalam mengubah kebiasaannya yang buruk menjadi lebih baik. Tentu tak mudah melakukan hal itu.


**


Keesokan harinya, Doni tampak bersemangat menjemput Siska. Sesampainya di rumah Bu Mirna, gadis itu ternyata telah menunggunya di depan teras rumah.


Sementara itu, Siska yang melihat mobil Doni masuk ke pelataran rumah, segera masuk ke dalam untuk berpamitan pada Bu Mirna.


Tak lama kemudian, Siska keluar rumah bersama dengan Bu Mirna. Doni yang sudah berdiri di teras rumah, bersalaman dengan Bu Mirna. Lalu pasangan calon pengantin itu berangkat kerja bersama.


"Apakah semalam kamu bisa tidur?" tanya Doni ketika sampai setengah perjalanan. Siska pun menggeleng lemah.


"Kenapa?" Doni memindai wajah Siska sejenak.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


"Pasti kamu sedang memikirkan ku." tebak Doni sambil terkekeh kecil.


"Pasti kamu juga sama seperti ku, tidak bisa tidur. Iya, kan?" Siska menuding Doni sambil menyunggingkan senyum tipis. Doni pun tergelak.


"Benar sekali, sayang. Dua Minggu rasanya begitu lama."


**


Doni dan Siska telah sampai di pasar, keduanya berjalan berbeda arah untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan. Setelah itu, keduanya bertemu di tempat parkir. Lalu bergerak menuju kedai.


Karyawan **** pagi, yang sudah sampai di kedai segera membantu Doni dan Siska membawakan barang-barangnya.


Mereka mulai mengerjakan tugas masing-masing. Karena masih proses persiapan, Siska membantu di dapur. Ia mau mengerjakan apapun yang belum dikerjakan oleh temannya. Tetap menganggap dirinya sebagai seorang karyawan.


Shif siang sudah datang, Mira membuang muka saat melewati meja kasir. Sengaja ia tak mau melihat dan menyapa Siska. Siska pun tak ambil masalah tentang hal itu.


"Sayang, kita keluar yuk." ajak Doni, yang sudah berdiri di dekat Siska.


"Kemana mas? Kenapa kamu memanggilku dengan sebutan sayang? Aku tidak enak dengan teman-teman, mas." bisik Siska, sambil menoleh ke kiri-kanan.


"Kenapa memangnya? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Nanti kedai ini juga akan libur, saat kita menikah nanti. Karena semua karyawan juga akan ku undang untuk menghadiri acara pernikahan kita."


Siska diam sambil menatap calon suaminya. Pria itu tak ragu menunjukkan pada dunia, siapa calon istrinya. Terkesan bangga padanya.

__ADS_1


__ADS_2