
Doni menatap perlahan wajah Mahes. Sambil berangsur-angsur melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju laki-laki tampan yang baru saja ia rendahkan.
Ia meringis sambil merapikan kerah baju yang sedikit berantakan karena ulahnya. Lalu berangsur-angsur turun dari tubuh Mahes. Karena tadi ia berada di atas tubuhnya. Doni memang bertindak kelewatan.
"Maafkan saya pak. Tadi hanya sekedar bercanda saja kok. Ya sudah, saya balik kerja lagi ya." ucap Doni menahan malu.
Rasanya saat itu Doni ingin menutup wajahnya dengan karung goni, untuk menutupi rasa malunya.
"Tunggu dulu." ucap Mahes yang membuat langkah Doni terhenti dan berbalik arah.
"Ada apa pak?"
"Silahkan kamu duduk di kursi itu." Mahes menunjuk sebuah kursi yang ada dihadapannya.
Sedangkan Bu Dewi yang sejak tadi juga masih berdiri di situ, dipersilahkan duduk di sofa dekat mereka.
Doni patuh dan duduk di hadapan Mahes.
'Harusnya aku yang duduk di kursi itu, bukan dia. Lagian dia itu jadi laki-laki kenapa serakah sekali. Sudah punya perusahaan, kenapa masih jadi asisten rumah tangga di rumah Mala? Apa dia sengaja menyamar agar bisa mendekati Mala, dan bisa mengambil keuntungan seperti menguasai harta wanita cacat itu? Sehingga semakin bertambah kaya raya.' Doni terus saja berpikir buruk tentang Mahes.
"Kamu tahu kenapa saya panggil kesini?" tanya Mahes membuka obrolan.
"Haduh, saya jadi ngga enak kalau mau bicara." Doni terkekeh kecil sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Tidak apa-apa, coba katakan saja."
"Mungkin saya bakal naik jabatan, karena saya sudah lama bekerja disini pak."
__ADS_1
Bu Dewi yang mendengar ucapan Mahes seketika menepuk jidatnya. Ia heran kenapa ada manusia yang tingkat percaya dirinya keterlaluan tingginya.
Sedangkan Mahes hanya tersenyum simpul, lalu menyodorkan sebuah amplop coklat di hadapan Doni.
"Apa ini pak? Bonus ya? Atau sumbangan untuk saya karena habis menikah?" tanya Doni dengan senyum sumringah, karena merasakan amplop itu cukup tebal.
Mahes sengaja diam, ketika mendengar Doni keceplosan soal pernikahannya.
"Buka saja, tidak perlu banyak tanya."
Doni yakin jika isi di dalamnya adalah uang. Bukan kardus bekas. Saat tangannya coba menekan amplop itu.
Dengan penuh binar bahagia, Doni membuka amplop itu dan mengernyitkan dahi ketika melihat isinya.
'Apa ini?' batinnya sambil menarik lembar kertas warna putih. Ia membentangkan kertas itu dan membaca isinya dengan seksama.
"Doni!" seru Bu Dewi karena tak terima dengan perlakuan laki-laki itu pada Mahes.
"Diam! Jangan ikut campur." seru Doni pada bu Dewi.
Lalu ia pun kembali menoleh ke arah Mahes dengan tatapan tajam yang berbahaya.
"Kenapa kamu memecat ku, hah! Aku ini sudah lama bekerja di kantor ini. Harusnya naik pangkat, bukan malah di pecat. Anak kemarin sore saja lagaknya sudah seperti bos saja."
"Satu, kamu sudah tidak masuk kerja selama hampir dua Minggu tanpa ada pemberitahuan. Dua, hasil pekerjaan mu terakhir sungguh buruk. Tiga, aku tidak mau memperkerjakan seorang laki-laki yang berbuat dzolim pada istrinya. Dan justru diam-diam selingkuh dibelakangnya sampai berbuat yang tidak pantas di dalam mobil."
"Oh iya, tambahan lagi. Semua manusia di dunia kedudukannya sama di mata Tuhan. Jadi jangan merendahkan mereka, meskipun pekerjaannya hanya sebagai OB, cleaning servis atau yang lainnya. Kita tetap harus menghargai mereka."
__ADS_1
Mahes dengan tenang menjelaskan kesalahan Doni, yang membuat laki-laki itu skakmat.
'Dari mana dia tahu semua tentang aku? Apa diam-diam dia menyelidiki ku?' batin Doni penuh tanda tanya.
"Aku tetap tidak terima. Harusnya kamu memberikan aku surat peringatan dulu. Bukan main pecat-memecat seperti ini."
"Perusahaan sudah mengirim email dan bahkan sampai menelpon mu. Tapi tidak pernah ada jawaban atas itu semua."
Doni terdiam sekian detik. Ia memikirkan tentang ucapan Mahes sambil mengingat-ingat.
Memang beberapa hari yang lalu ada panggilan dan pesan masuk, ada juga email masuk. Tapi ia tak pernah menggubrisnya. Karena rasa sakit yang menderanya selama beberapa hari. Belum lagi di tambah setiap malam Siska yang selalu memberinya jatah.
"Merenunglah. Jangan hanya bisa menyalahkan orang lain. Terkadang kita di tegur Allah dengan berbagai cara, agar kita mau instrospeksi diri dan berubah."
"Bu Dewi, tolong nanti uang gaji dan uang pesangon segera di transfer ke saudara Doni ya. Agar bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.
"Siap pak." balas bu Dewi sambil mengangguk.
"Pak, tolong beri kesempatan untuk memperbaiki sikap saya selama ini. Saya janji akan berubah." Doni berlutut dihadapan Mahes.
"Kesempatan untuk memperbaiki sikap itu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Tidak harus di perusahaan ini saudara Doni. Silahkan kamu bangkit berdiri."
"Saya tidak mau bangkit berdiri sebelum bapak menerima saya kembali bekerja di sini lagi."
Mahes menyunggingkan senyum simpul sambil berpikir.
"Baiklah kalau begitu. Kamu boleh bekerja disini lagi. Tapi menjadi seorang OB."
__ADS_1
"Apa! OB?" Doni mendongakkan kepala sambil membulatkan matanya.