
Doni dan Siska sudah tiba di kedai. Keduanya memakai celemek, lalu mulai berjibaku dengan pekerjaan.
Selama bekerja keduanya saling terdiam, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka, kecuali soal pekerjaan.
Doni memblender bumbu untuk marinasi dagingnya, sedangkan Siska mulai memotong sayur menjadi potongan yang lebih kecil.
Setelah selesai memblender bumbu, Doni menuang semua bumbu ke dalam baskom besar yang berisi potongan daging ayam. Lalu membantu Siska memasukkan sayuran yang sudah di potong dan di cuci ke dalam plastik.
Selesai mengerjakan hal itu, keduanya mengulek cabe. Sebenarnya keduanya bisa menggunakan blender untuk membuat sambel. Tapi rasa sambelnya jelas beda dengan sambel hasil ulekan sendiri. Dan rasa sambelnya yang khas, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan kedai itu.
"Siska, kita sholat dulu yuk. Kamu dengar suara adzan itu kan?"
Siska menganggukkan kepalanya, lalu keduanya segera membersihkan diri dan berjalan bersama menuju masjid yang ada di depan kedai mereka.
Jamaah di masjid itu memanglah tidak sebanyak saat sholat Isya'. Hanya ada sekitar sepuluh orang laki-laki beserta Doni dan tiga orang wanita beserta Siska. Setelah Siska mengerjakan sholat tahiyatul masjid, ia duduk di samping jama'ah ibu-ibu.
"Kok tumben pagi-pagi kamu sholat disini, nak?" tanya seorang jamaah perempuan, pada Siska.
"Kebetulan saya dan bos saya sedang mengerjakan pesanan orang untuk Jum'at berkah, Bu. Jadi jam dua tadi saya sudah berangkat."
"Oh, ibu pikir kamu dan laki-laki yang baru datang tadi adalah suami istri. Soalnya setiap pagi ibu lihat kalian berangkat bersama."
Siska mengulas senyum, sebelum menjawab.
"In shaa Allah sebentar lagi, Bu. Mohon doanya saja."
"Iya, ibu doakan semoga pernikahan kalian berjalan lancar, tidak ada halangan apa, dikaruniai anak yang sholih dan sholihah. Usahanya juga tambah lancar."
__ADS_1
"Aamiin, terima kasih do'anya ibu."
Tak lama kemudian, terdengar suara Iqamah, semua jamaah berdiri untuk mulai melaksanakan sholat subuh.
Setelah selesai, satu persatu jama'ah keluar dari masjid. Siska dan Doni berjalan beriringan.
Gadis itu tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya, karena ternyata ada orang-orang yang baik hati mau mendoakannya. Seperti ibu-ibu jamaah sholat subuh tadi.
"Sis, kenapa kamu terlihat bahagia sekali? Memang tidak capek atau mengantuk gitu." Siska menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak, mas. Aku memang sedang bahagia, mas. Karena ternyata ada orang-orang yang mau mendoakan aku dengan tulus. Padahal aku pikir, pendosa seperti ku tidak pantas untuk mendapat doa yang baik dari orang lain."
"Jangan salah, justru banyak orang yang mendoakan para pendosa agar bertaubat sebelum ajal menjemputnya. Tapi, tidak ada pendosa yang mau mendoakan orang baik agar mereka senantiasa tetap berada di jalan kebaikan.
Maka dari itu, banyak para pendosa yang insyaf dan bertaubat dari perbuatan dosanya. Dan ada beberapa orang yang justru murtad, karena imannya memang lemah, kurang baik akhlaq nya, sehingga tidak ada pula orang yang mendoakannya."
Siska mengulas senyum sambil menatap Doni. Sehingga membuat pria itu memerah wajahnya dan membalas senyuman Siska. Tak sadar tangannya ia kalung kan ke leher gadis itu.
"Mas, kita belum menikah." Siska mengingatkan.
"Eh, iya maaf. Aku jadi tak sabar ingin menikah dengan mu."
"Kamu saja belum melamar ku, bagaimana kita bisa segera menikah?"
"Maaf Sis, selama kamu dan Bu Mirna libur beberapa hari ini, kedai sedang ramai sekali. Tapi aku akan atur waktu supaya bisa segera melamar mu."
"Baiklah, mas. Aku tunggu kamu melamar ku."
__ADS_1
"Okay, sekarang ayo kita selesaikan pekerjaannya. Agar bisa buat tambah-tambah biaya menikah." kekeh Doni. Setelah itu keduanya kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tepat pukul setengah delapan, semuanya pekerjaan sudah keduanya selesaikan dengan baik. Mereka pun bersih-bersih lalu mengantarkan pesanannya ke alamat pemesan.
"Sepertinya yang pesan orang kaya ya, mas. Buktinya tinggal di perumahan elite." Doni menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di alamat yang dituju. Doni turun untuk bertanya pada security, kebenaran alamatnya.
Setelah bertanya, dan ternyata memang benar alamatnya, Doni melajukan mobilnya masuk ke dalam pelataran rumah mewah itu.
Tak berselang lama setelah menekan bel, terlihat pintu utama rumah itu dibuka lebar.
Tampak sepasang suami-istri tengah berdiri diambang pintu sambil mendorong stroller bayi.
Siska tampak terkejut ketika, yang berdiri dihadapannya tak lain adalah Mala. Doni juga tidak memberitahukan padanya. Mereka tampak menyunggingkan senyum canggung.
"Selamat pagi, mas. Saya mau mengantarkan pesanannya." ucap Doni ramah.
"Oh, iya mas. Biar dibantu sama asisten rumah tangga saya. Sayang, kamu panggil bibi dulu ya." pandangan Mahes beralih, dari Doni ke Mala.
"Mari masuk dulu." Mahes memundurkan tubuhnya sedikit, dan mempersilahkan tamunya masuk.
Setelah melihat nota tambahan, Mahes mengirimkan sejumlah uang ke rekening Doni, untuk membayar kekurangannya.
Setelah itu, barulah Doni dan Siska memindahkan makanan ke mobil Mahes, dengan dibantu oleh asisten rumah tangga.
"Terima kasih ya mas, mbak. Sudah membantu melarisi jualan saya, semoga rezekinya bertambah banyak." ucap Doni sebelum pulang.
__ADS_1
"Aamiin, sama-sama ya mas." balas Mahes.