Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
91. Meeting


__ADS_3

"Pak, kita hari ini ada jadwal meeting ya dengan perusahaan Artha Buana. Jam sembilan." ucap Bu Dewi, pada Mahes.


"Tante, kenapa Tante selalu memanggil Mahes seperti itu? Lihat nih, Mahes masih muda gini, sudah dipanggil, pak." protes suami Mala tak terima, sambil merapikan jas yang ia kenakan.


"Sebentar lagi kamu juga akan di panggil papa oleh anakmu, kan."


"Apa? Papa? Anak?" ulang Mahes sambil mengernyitkan dahi.


"Apa istriku hamil, tan?"


"Ya mana Tante tahu. Itu kan cuma misalnya. Wanita kalau sudah menikah, biasanya cepat hamil."


Mahes menurunkan pandangannya sambil menganggukkan kepalanya. Ia jadi ingin segera memiliki anak.


"Ah, kalau Tante bicara seperti itu. Mahes jadi ingin buru-buru pulang dan segera bikin anak." ucap Mahes cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Itu bisa nanti malam. Yang penting ayo kita persiapkan diri untuk mengikuti meeting, Mahes."


"Siap, Tan."


**


Kini Mahes sudah berada di ruang meeting perusahaan Artha Buana. Di situ juga sudah ada beberapa rekan bisnisnya.


Tak berselang lama, seorang laki-laki dan seorang wanita cantik memasuki ruangan itu. Ialah pemilik perusahaan Artha Buana. Yang bernama Sucipto Purnama.


Semua mata para laki-laki menatap wanita yang berdiri di samping pak Sucipto, yang bersamanya masuk tadi.

__ADS_1


Pak Sucipto terlebih dulu memperkenalkan wanita yang ada disampingnya, sebelum acara meeting dimulai. Yang bernama Amelia Putri. Gadis cantik itu baru saja pulang dari study nya di luar negeri. Dan setelah kembali, ia membantu papanya.


Amelia menganggukkan kepalanya, lalu menebar senyum ke semua penghuni ruang meeting. Matanya mengerjap, ketika melihat ketampanan Mahes.


'Oh, Tuhan. Rupanya masih ada laki-laki yang sangat tampan seperti dia.' batinnya, kegirangan.


"Mel, kamu duduk dulu." bisik pak Sucipto ketika melihat anaknya diam mematung.


"Eh, i-iya, pa." balasnya sedikit gelagapan, sambil menyematkan anak rambutnya di belakang telinga. Ia tampak salah tingkah, padahal Mahes tidak begitu memperhatikannya.


Selama meeting di mulai, Mahes begitu memperhatikan pak Sucipto. Berbeda dengan laki-laki lainnya, yang justru memperhatikan Amel. Sedangkan Amel sendiri, justru memperhatikan Mahes.


Ia kagum dengan Mahes, karena ia menjadi satu-satunya laki-laki peserta meeting yang termuda.


'Dia pasti belum menikah.' batin Amel yakin. Terbersit dibenaknya untuk mendekatinya. Karena sikap acuh yang ditunjukkan Mahes padanya.


Ia berusaha untuk melakukan hal itu sebaik mungkin, berharap Mahes memujinya.


Setelah selesai presentasi, ia mendapat tepuk tangan yang meriah dari seluruh peserta meeting. Mereka menatap penuh damba pada gadis cantik itu. Membuat nya tersenyum sumringah dan semakin bangga pada dirinya sendiri. Tapi senyumnya sedikit memudar, ketika melihat Mahes yang tampak biasa saja.


'Kenapa dia terlihat biasa saja. Berbeda dengan laki-laki lainnya? Ah, buat aku tertantang saja.' batinnya.


Rapat yang berjalan sekitar tiga jam itu akhirnya selesai. Pak Sucipto mengumumkan siapa yang berhak mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaannya.


Dan, perusahaan Mahes lah yang mendapatkan kesempatan itu. Semua bertepuk tangan dengan meriah, atas hasil yang diterima Mahes.


Amel pun ikut bertepuk tangan dengan penuh semangat, dan wajahnya juga berbinar. Karena itu tandanya, ia ada lebih banyak waktu dan kesempatan untuk mendekati laki-laki dingin seperti Mahes.

__ADS_1


Meeting siang itu selesai, dilanjutkan dengan jamuan makan siang. Beberapa pelayan perusahaan, masuk ke ruangan itu sembari mendorong meja makan.


Aneka makanan yang lezat tersaji di atas meja. Pak Sucipto segera mempersilahkan mereka untuk mencicipi makanan itu.


Mahes pun mengambil makanan yang tersedia dihadapannya, secukupnya.


"Rendang daging sapi ini rasanya enak sekali, mas. Bisa di coba." tawar Amel pada Mahes. Kebetulan Amel duduk di samping Mahes, jadi ia bisa leluasa bergerak.


Ia mengambil piring itu, dan bersiap menuang isinya ke piring Mahes. Tapi laki-laki itu segera menolaknya.


"Maaf, ini sudah cukup. Saya tidak suka terlalu menuang banyak lauk ke makanan." tangannya bergerak menghalangi di depan piring.


Amel pun tersenyum canggung sambil meletakkan kembali piring saji itu. Ia malu karena baru di awal sudah di tolak oleh laki-laki yang cukup mencuri perhatiannya.


Amel menghirup nafas panjang, lalu membuangnya. Ia mensugesti, bahwa suatu saat ia bisa menaklukkan hati pria disampingnya. Dia berpikir, jika mungkin dirinya terlalu cepat bertindak.


Sambil makan, Amel diam-diam mencuri pandang ke arah Mahes. Ia juga menghirup dalam-dalam, aroma wangi maskulin yang menguar dari tubuh pria disampingnya. Jantungnya terasa berdebar hanya dengan melakukan hal itu. Terlintas dipikirannya untuk mencuri perhatiannya.


Klunting...


Amel berpura-pura menjatuhkan sendoknya.


"Mas, bisa minta tolong ambilkan sendok ku yang terjatuh?" pinta Amel dengan suara yang dibuat lembut dan mendayu-dayu.


"Maaf, bukannya aku tidak mau. Tapi sendoknya sudah kotor, lebih baik kamu ganti saja dengan yang lebih bersih." tolak Mahes, yang membuat Amel menekuk wajahnya.


❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2