Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
49. Rahasia Doni terbongkar


__ADS_3

Hari sudah sore, ketika Doni sampai rumah. Ia turun dari taksi. Dan di depan taksinya, sebuah taksi juga berhenti. Ternyata Siska lah yang turun dari taksi tersebut.


"Mas, kamu dari mana?"


"Cari kerja sayang. Aku tuh pengen buatkan rumah yang megah untuk kamu." Siska tersenyum bahagia mendengar ungkapan hati suaminya, lalu mengapit lengannya.


Mendapat perlakuan manis dari istrinya, rasa kesal di hati Doni sedikit berkurang. Walau sebenarnya apa yang ia ucapkan tadi, hanya untuk bersandiwara. Agar Siska tidak curiga tentang hubungannya dengan Mala.


"Terima kasih sayang sudah ada tekad untuk membangunkan ku rumah." Siska meletakkan kepalanya di bahu Doni.


"Iya sayang." balas Doni, lalu keduanya pun bergandengan tangan dengan mesra sampai masuk ke rumah.


Siska masuk ke kamar, sedangkan Doni menuju ke dapur. Karena tenggorokannya terasa kering, setelah beradu mulut dengan Mala.


"Lhoh, kamu sudah pulang Don? Bagaimana hasilnya?" Bu Mirna yang tengah menggoreng ikan, menoleh pada anaknya, dan menunggu jawabannya dengan tidak sabar.


Sementara itu, Siska yang mau mandi mengurungkan niatnya. Ia berhenti di dekat kongliong dapur dan menajamkan pendengarannya. Penasaran dengan apa yang tengah diperbincangkan oleh suami dan mertuanya.


"Gagal. Gagal total bu. Ngga Majikan, ngga pembantu, semua sama saja. Memusuhi Doni bu."


"Kenapa mereka cepat sekali berubah ya? Harusnya Mala itu percaya padamu. Kalian kan sudah kenal cukup lama." gumam Bu Mirna sambil mengernyitkan dahi.


"Aku disana sampai bersujud dihadapan Mala. Tapi balasannya ia justru meninggalkan ku dan mengusir ku bu."

__ADS_1


"Huh. Kelewatan si Mala." Bu Mirna menggebrak meja makan. Dadanya naik turun dengan tatapan yang nyalang.


Sedangkan Doni dan Siska sama-sama terkejut, hingga mengusap dadanya.


"Tahu ngga Bu? bos ku yang sudah meninggal, sekarang diganti sama anaknya. Dan anaknya itu jadi pembantu di rumah Mala. Aku curiga, pasti ada rahasia yang disimpan sama tuh si Mahes."


"Iya Don. Pasti ada rahasia. Kalau kamu bisa mengungkap, pasti kamu bisa mempertahankan Mala untuk menjadi istri mu. Dan kita bisa tambah kaya."


'Mala, istri mas Doni? Jadi, mas Doni sudah menikah? Hem, tega sekali mereka membohongiku.' batin Siska tak terima, tangannya mengepal kuat.


Prok...Prok...Prok


Sebuah tepuk tangan keras mengejutkan pasangan ibu dan anak yang tengah bercakap-cakap itu.


"Oh, jadi begini ya mas kelakuan mu. Kamu tega membohongiku. Bilangnya belum menikah, tahunya sudah punya istri. Bilangnya mau buatkan aku rumah megah, membahagiakan ku, tapi semenjak menikah sampai sekarang kamu belum pernah sepeser pun memberiku uang. Aku jadi curiga. Pasti uang itu kamu kasih sama istri pertama mu. Hayo ngaku?" seru Siska.


"Sis-siska, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu." Doni bangkit berdiri dan hendak memeluk istrinya.


"Ehm, bau apa ini?" celetuk mereka bersamaan.


"Ikan ku!" teriak bu Mirna histeris. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan mematikan kompor. Terlihat ikan di wajan warnanya sudah hitam dan menimbulkan bau yang tidak sedap.


"Hua...Hua, ikan ku jadi gosong." sesal Bu Mirna, hingga menangis tersedu.

__ADS_1


"Sudah sudah Bu. Nanti kita kan bisa beli lagi."


"Beli, beli. Memangnya kalau beli tidak pakai uang? Mama bulan ini kamu juga belum kasih jatah ke ibu."


"Lhoh, kok ibu juga mau minta jatah uang belanja ke mas Doni?" gumam Siska sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Memangnya kenapa, tidak boleh? Kalian itu disini tidak gratis. Harus membayar."


"Mas, ibumu ternyata mata duitan juga ya." ucap Siska sambil geleng-geleng kepala.


"Sudah, aku tidak mau kamu mengatakan hal yang tidak baik pada ibuku. Lagian wajar saja aku memberikan ibu uang. Dia sudah melakukan semuanya untuk ku. Mencucikan bajuku, memasak untukku, dan banyak lagi."


"Oh, jadi kamu itu lebih membela ibumu? Lalu kenapa kamu menikahi ku? Kenapa ngga menikah dengan ibumu saja sekalian, hah?" bentak Siska. Lalu ia pun pergi.


Doni menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia pikir Siska adalah wanita yang baik. Bisa hidup berdampingan dengan ibunya. Tidak meminta jatah uang belanja, karena memang sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Tapi ternyata semua berbanding terbalik.


Sedangkan di dalam kamar, Siska sudah tidak berselera makan masakan ibunya. Akhirnya ia mendapatkan sebuah ide.


Ia mengambil handphonenya dan memesan banyak makanan yang enak. Sambil menunggu pesanannya datang, ia mandi.


Siska menyunggingkan senyum sinis, melihat ibunya yang kembali memasak dari awal. Sedangkan Doni, hanya duduk saja, sambil memasang wajah cemberut.


'Hahaha, rasain kalian. Sebentar lagi aku akan makan makanan enak.' batin Siska sambil berlalu ke kamar mandi, dan tidak menghiraukan pandangan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2