
Doni tersentak kaget ketika Mala bertanya padanya dengan nada yang keras dan kasar. Tidak ada rasa sopan sedikit pun pada suami.
"Tenang sayang. Mas datang kesini karena masih mencintaimu. Pasti kamu juga masih mencintai mas kan? Lupakan semua yang terjadi, dan mari kita buka lembaran baru." ucap Doni sambil mendekat dan berlutut ke arah Mala.
Ia terus mengeluarkan kata romantis untuk memikat hati Mala. Bukannya membuat Mala bahagia dan luluh, tapi justru membuatnya semakin takut.
"Non Mala, ada apa?" sebuah suara dari dalam mengejutkan Mala dan Doni.
"Usir dia Mahes." titah Mala sambil menunjuk wajah suaminya.
Mahes terkejut ketika melihat Doni sudah bersimpuh dihadapan Mala.
Sesaat Doni bingung. Mau mengatakan hal yang sebenarnya tentang Mahes pada Mala atau tidak. Dan akhirnya ia lebih memilih bungkam.
Doni takut jika Mala sampai tahu tentang status Mahes yang notabenenya adalah seorang kaya, maka Mala akan bertambah rasa percaya dirinya. Karena merasa beruntung di dekati oleh pria tampan dan kaya.
Doni berjanji harus mendapatkan Mala. Agar tidak perlu susah payah mencari kerja.
"Maaf tuan. Bisa kah kamu pergi dari sini? Majikan saya sangat takut pada anda." ucap Mahes pada Doni dengan sangat sopan.
"Aku ini masih sah suaminya. Apakah tidak boleh menemui istriku sendiri? Karena ingin menjalin hubungan yang sempat rusak karena salah paham."
"Aku tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan mu. Bagiku sejak melihat kamu duduk bersanding dengan wanita itu, sudah cukup membuktikan bahwa diantara kita tidak ada hubungan apapun."
__ADS_1
"Ini semua pasti karena hasutan dari mu kan? Dasar, pembantu tidak tahu diri. Pasti ingin merebut hati majikannya, agar bisa hidup mewah."
Doni bahkan berani menunjuk wajah mantan bosnya itu dengan telunjuk tangan, dan wajahnya merah padam penuh dendam yang membara.
"Ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan Mahes. Lagi pula meskipun dia hanya pembantu, tapi dia baik. Lebih baik aku menikah dengan pembantu yang baik hati. Daripada menikah dengan laki-laki yang tidak tahu diri. Seperti kamu." tegas Mala.
Mahes membulatkan matanya ketika mendengar luapan hati Mala. Entah kenapa hatinya justru merasa bahagia. Karena majikan cantiknya terang-terangan mau menikah dengan pembantu.
Sedangkan Doni geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan kebodohan yang telah istrinya lakukan.
"Mala, kamu harus sadar diri. Kamu itu sudah cacat, tidak akan ada laki-laki yang mau menikah dengan mu, kecuali aku."
"Jaga ucapan mu. Seharusnya sebagai seorang suami, kamu mendukung dan mensupport nya. Bukan malah menjatuhkan mental nya dengan cara mengkhianati dan berkata buruk seperti itu." tegas Mahes. Ia sungguh tak terima Mala diperlakukan seperti itu oleh laki-laki yang mengaku suaminya.
Sementara Mala sudah menangis sesenggukan.
Merasa di panggil, laki-laki berseragam putih navy itu segera mendekat ke arah kerumunan.
"Bawa dia keluar pak. Karena sudah membuat non Mala menangis." titah Mahes.
"Wo, dasar laki-laki tak tahu diri. Ayo pergi dari rumah ini." ucap security sambil menarik paksa tangan Doni. Bahkan laki-laki yang menjabat sebagai security itu juga sangat tidak suka dengan sikap Doni.
"Sentuh tangan ku bayar satu juta." ucap Doni dan security itu pun seketika melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Tidak perlu takut pak. Dia hanya menggertak, karena kekurangan uang." ucap Mahes berhasil membuat Doni jengkel dan merasa kalah telak.
Security kembali menarik lengan Doni dan menyeretnya mendekati gerbang.
"Lepaskan. Aku bisa jalan sendiri." seru Doni sambil memberontak. Ia malu jika sampai sopir melihatnya.
"Jalan pak." titah Doni setelah menghempaskan tubuhnya di kemudi belakang.
Sepanjang perjalanan, Doni terus menggerutu seorang diri. Bingung harus bagaimana lagi mendapatkan kekayaan dari istri cacatnya.
Menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya Doni tiba di kediamannya.
"Berapa pak totalnya?" tanya Doni sambil mengeluarkan dompetnya.
"Seratus tiga puluh ribu mas."
"Hah, mahal amat. Pakai diskon dong. Jadi seratus ribu saja. Nih." Doni mengulurkan selembar merah, tapi belum sempat uang itu diterima oleh sopir, sudah dijatuhkan nya.
"Maaf mas, masih kurang. Saya juga tidak mau rugi di suruh kesana-kemari. Belum lagi saya juga menunggu lama."
"Uangnya tinggal segitu." ucap Doni sambil menekan handle mobil, hendak turun. Tapi sang sopir dengan sigap menekan kunci. Agar pintu otomatis tidak bisa dibuka oleh Doni.
Akhirnya dengan perasaan jengkel, Doni kembali mengulurkan uang tiga puluh ribu pada sopir. Barulah ia bisa keluar taksi.
__ADS_1
"Makanya mas, kalau jadi orang ngga punya, harus sadar diri. Jangan berbuat sesuatu yang bisa menimbulkan efek buruk pada diri kita."
"Halah. Sopir sialun. Belum bisa ceramah saja, sudah berlagak jadi ustadz." Doni menendang mobilnya dengan sangat keras, hingga kakinya sakit.