Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
58. Story WhatsApp Mala


__ADS_3

"Tante." ucap Mala sambil melambaikan tangan ke arah bu Ningrum, yang tengah berdiri di ambang pintu sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan keponakannya.


Bu Ningrum tersenyum melihat Mala melambaikan tangannya, lalu bergegas mendekatinya.


Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan, lalu duduk di kursi yang masih kosong.


"Maafkan Tante, Mala. Tadi ada meeting penting, jadi tidak bisa menghadiri sidang perceraian mu."


"Tidak apa-apa Tante. Justru saya sangat senang, karena Tante masih mau membantu dan setia memajukan perusahaan papa." ucap Mala.


"Itu sudah kewajiban Tante. Kamu tenang saja."


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa menu spesial yang telah di pesan oleh Mala.


Mata para asisten rumah tangga berbinar ketika melihat makanan yang enak dihidangkan satu persatu.


"Ayo bi, mulai di makan. Jangan dilihatin melulu. Nanti ngga kenyang." kekeh Mala.


Mereka pun mengangguk, lalu mengambil menu makanan yang ada di dekat mereka.


Mala menghentikan suapannya, saat matanya mengunci bayangan seseorang yang berjalan di depannya, tapi jaraknya sekitar tiga meja dari tempat ia duduk. Siska tengah bergandengan mesra dengan seorang laki-laki berkumis tebal dan perutnya buncit.


"Non, kenapa tidak jadi makan?" ucap Mahes, yang duduk disamping Mala dan selalu memperhatikan gerak-geriknya.

__ADS_1


Laki-laki itu pun akhirnya mengikuti arah pandang Mala. Ia tidak syok melihat apa yang sedang di lihat oleh wanita disampingnya. Karena Mahes bisa menebak apa pekerjaan Siska dilihat dari gaya penampilan dan ucapannya.


Bahkan kejadian dulu saat makan bersama dengan Mala dan para asisten rumah tangga, lalu Siska jatuh di sampingnya. Itu adalah suatu bentuk kesengajaan, dan ingin mendekatinya.


Melihat Mala dan Mahes tengah serius memperhatikan seseorang, para asisten rumah tangga juga mengikuti arah pandang mereka. Dan betapa terkejutnya mereka, ketika mengetahui kelakuan Siska. Hingga mengurut dadanya masing-masing.


"Allah begitu cepat memberikan balasan pada hamba-Nya. Kemarin non Mala diselingkuhi oleh mas Doni. Dan sekarang justru mas Doni diselingkuhi oleh istrinya." celetuk bi Minah.


"Iya, makanya mas Mahes harus ingat baik-baik itu. Kalau kamu ngga mau mendapat balasan dari Allah, jangan coba-coba selingkuh, ketika nanti sudah menikah dengan non Mala." imbuh bi Surti.


"Astaghfirullah." ucap Mahes dan Mala bersamaan, kedua beradu pandang lalu terkekeh bersamaan. Karena sering sekali mereka itu bicara bersamaan.


"Bibi ini ngomongnya ada-ada saja." imbuh Mahes.


"Kasian non Mala mas, sudah tidak memiliki kedua orang tua. Masa iya, hidupnya harus diselingkuhi terus." ucap bi Sumi, yang justru mengundang gelak tawa mereka.


"Sudah-sudah, ayo makannya dilanjutkan dulu. Keburu dingin." ucap Bu Ningrum.


Mereka kembali menyuap makanan ke mulut masing-masing, dan mulai bercakap-cakap. Karena tadi Bu Ningrum tidak ikut menghadiri sidang, ia lebih banyak bertanya.


Tak hanya membahas soal sidang, mereka juga membahas soal perusahaan, dan masih banyak lagi lainnya.


Terkadang terdengar gelak tawa mereka, karena menganggap suatu masalah sebagai lelucon.

__ADS_1


Sedangkan di meja seberang, Siska menepuk jidatnya ketika tahu rombongan mantan istri suaminya tengah makan di restoran yang sama, dan dengan laki-laki yang diam-diam mencuri hatinya.


Dan tanpa Siska sadari, ternyata tadi Mala mengabadikan momen makan siangnya bersama pria disampingnya dalam bentuk foto. Lalu mengunggah di akun story' WhatsApp nya.


Tak lupa ia membubuhi dengan caption : ' Allah membalas sesuai dengan amal perbuatannya. Dulu selingkuh di belakang istri cacatnya. Sekarang di selingkuhi istri barunya.'


Cukup lama rombongan Mala makan siang, makanan pun sudah habis. Mereka berjalan beriringan keluar dari restoran. Dengan masih diiringi suara gelak tawa.


**


Sementara itu, di rumah Doni. Laki-laki itu tampak semrawut sekali penampilannya.


Wajahnya dipenuhi jambang halus, ia juga malas mandi, sehingga semakin terlihat tidak sedap dipandang. Bajunya pun juga tidak pernah ganti. Karena malas mencuci bajunya sendiri.


Jika meminta tolong ibunya, pasti ibunya akan meminta uang. Padahal uang pesangon di rekeningnya hanya sisa sedikit.


"Doni!" seru Bu Mirna.


Ia memang sering berteriak keras memanggil nama anaknya. Karena laki-laki itu terus menerus mengunci diri di kamar.


Ia sangat pusing memikirkan kehidupannya. Bukannya semakin membaik, malah semakin tidak karuan.


"Don, kamu jangan mengunci diri di kamar terus-menerus. Enak saja, kerjaannya cuma makan, tidur. Begitu saja seterusnya." imbuh Bu Mirna lagi sambil menggedor-gedor pintu. Tapi Doni tetap saja tidak membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Dasar, anak tidak berguna." umpat Bu Mirna karena kesalnya.


Terpaksa ia harus menghutang lagi ke warung sebelah, karena beras sudah habis. Ia segera berlalu pergi, meninggalkan Doni yang masih mengurung diri di kamar.


__ADS_2