Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
114. Rasa yang menggelitik


__ADS_3

Setelah beberapa kali menguyah, Mahes membulatkan matanya. Karena rasa makanannya, benar-benar enak. Seperti apa yang di bilang oleh istrinya.


"Sayang, kini giliran kamu yang aku suapi." Mahes menyodorkan sendoknya ke arah Mala. Ibu hamil itu membuka mulutnya, dan menerima suapan itu.


Hingga beberapa menit ke depan, keduanya menghabiskan waktu mereka dengan saling menyuapi.


"Mas, aku mau lagi." rengek Mala seperti anak kecil.


"Nanti aku tanyakan ke Ima. Dimana ia membelinya. Lalu kita datangi tempatnya."


"Hah! Sungguh, mas?" Mala membulatkan matanya. Tampak jelas binar bahagia menyelimuti hatinya.


"Bohong itu dosa." ujar Mahes sambil terkekeh pelan.


"Baiklah, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku. Lalu kita segera pergi keluar." ucap Mala dengan penuh semangat.


Mahes yang melihat istrinya seperti itu, hanya bisa tersenyum. Lalu segera menyeimbangi kerja istrinya. Agar bisa selesai bersamaan.


Akhirnya, setelah satu jam berjibaku dengan pekerjaannya, keduanya berhasil menyelesaikan tugas mereka.


Mereka pun segera membereskan meja kerjanya, lalu bersiap-siap menuju ke tempat yang menjual paket ayam crispy itu.


Tak lupa Mahes meminta alamat penjual itu, agar lebih memudahkan pencariannya.


"Jangan lupa, pasang sabuk pengamannya, sayang." titah Mahes, mengingatkan istrinya.


"Tidak akan pernah lupa, mas. Terima kasih ya sudah diingatkan."

__ADS_1


Mala menatap suaminya sambil tersenyum. Lalu suaminya itu juga membalas tatapannya dengan penuh kasih, dan mengulas senyum yang indah.


Mobil pun melaju pelan.


**


Sementara itu, di kedai. Siska membuka menu makanan yang dibelikan oleh Doni, untuknya.


Ketika membuka tutupnya, bau ayam bakar terasa menyeruak. Membuat perut Siska kembali keroncongan.


Dari pada kena marah, dan juga terdorong rasa lapar yang menyelimuti perutnya, akhirnya Siska mulai menyuap makanan itu ke mulutnya.


Perlahan-lahan ia menyuap, sampai akhirnya makanannya habis. Ia meneguk air putih yang ada di dalam gelasnya hingga tandas.


Meskipun dalam cuaca panas sekali pun, Siska menghindari minum es. Ia ingin menjaga kesehatannya dengan lebih baik. Walaupun hal itu memang cukup susah untuk dilakukan.


"Mas, sekarang giliran mu, makan. Silahkan. Aku yang gantiin jaga." ucap Siska mengejutkan Doni, yang tengah memplating makanan.


"Iya. Aku selesaikan kerja ku dulu. Kamu bisa bantuin aku kan. Buatkan es lemon tea dua, untuk pengunjung di meja nomor sepuluh itu." Doni menunjuk sebuah meja yang ada samping kiri, dekat jendela.


"Siap, mas." Balas Siska terlihat bersemangat. Apalagi ia baru saja makan. Sehingga ia tampak segar bugar dan antusias dalam melaksanakan tugas-tugasnya.


Pengunjung terus berdatangan. Doni pun melupakan makan siangnya. Sampai stok jualannya habis, ia belum juga sadar jika dirinya belum makan.


Setelah tidak ada pengunjung yang tersisa, keduanya segera membersihkan kedai dan juga peralatan yang masih kotor.


Keduanya duduk berhadap-hadapan, sambil menghirup nafas lega. Karena pekerjannya bisa selesai dengan baik.

__ADS_1


Kini, keduanya tengah menghitung uang yang ada di dalam laci. Lalu mencocokkan dengan angka yang tertera di layar monitor komputer.


"Alhamdulillah. Hasilnya sama, Sis." ucap Doni dengan suara yang cukup keras.


Terlihat laki-laki itu juga mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, sebagai bentuk rasa syukurnya.


"Al-alhamdulillah. Aku juga ikut suka mendengar nya, mas." ucap Siska, sedikit terbata, saat mengucapkan kata Alhamdulillah.


"Kita pulang yuk?" ajak Doni.


"Kita, ngga ke pasar dulu mas? Bukannya setiap hari kita belanja daging dan sayur yang banyak. Untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung."


Doni menatap lekat wajah Siska. Sebenarnya ia ingin mengajak Siska ke pasar. Tapi membayangkan hal yang kemarin, membuat Doni kasihan pada gadis itu, jika nekat mengajaknya ke sana.


"Mungkin besok pagi."


"Ya sudah. Aku nurut apa katamu saja, mas." ucap Siska, sambil menyelempangkan tas di bahu kanannya. Doni pun juga ikut menyelempangkan tas di bahunya.


Keduanya berjalan keluar menuju mobilnya terparkir.


"Mas, kita serius kan mau pulang? Tidak jadi ke pasar?" tegas Siska lagi. Sebelum mobil yang dikendarainya berbelok arah.


"Sebenarnya aku ingin ke pasar. Tapi membayangkan kamu seperti hari kemarin, terus terang saja membuat hatiku cemas, dan merasa tak enak."


Siska menoleh ke arah Doni. Dan ternyata, pemuda itu juga tengah menatapnya. Gadis itu merasa tersentuh, dengan perlakuan bos nya. Yang begitu memperhatikan kenyamanan karyawannya. Dan, suatu perasaan aneh, tiba-tiba menggelitik hatinya.


Tidak hanya Siska saja yang merasakan hatinya tergelitik, ketika bertatapan. Doni pun merasakan hal yang sama. Entah itu rasa apa, keduanya juga tidak tahu.

__ADS_1


Akhirnya keduanya sama-sama membuang pandangan ke sisi jalan. Dan suasana menjadi canggung.


__ADS_2