
"Aku akan menolaknya, mas. Karena aku tidak ingin laki-laki itu maupun aku sama-sama sakit hati."
DEG!
Bagai dihantam godam, hati Doni saat mendengar jawaban Siska. Raut wajah pemuda itu berubah merah.
"Kenapa kamu tega menolaknya Sis?"
"Karena aku pernah menderita penyakit Gonore. Meskipun sudah sembuh, aku takut melakukan hubungan suami-istri. Bagaimana kalau setelah berhubungan badan penyakit itu muncul kembali? Lalu suamiku meninggal. Pasti aku yang akan di tuduh telah membunuhnya, mas." Siska mulai meneteskan air matanya.
Doni merasa bersalah melihat hal itu, tapi ia sudah tidak bisa lagi membendung perasaannya. Ia pun merengkuh Siska dan menenggelamkan wajahnya di dadanya. Sehingga membuat gadis itu semakin terisak.
"Siska, maafkan aku sudah membuatmu menangis. Aku tidak akan mengulangi lagi." setelah berkata seperti itu, keduanya saling mengurai pelukan. Doni pun menghapus air mata di pipi Siska.
**
Sehari dua hari Siska dan Bu Mirna masih terlihat cukup canggung. Tapi setelah sebulan keduanya bekerja ditempat yang sama, dan selalu berinteraksi, membuat hubungan keduanya perlahan membaik.
Bu Mirna diam-diam juga memperhatikan Siska yang ternyata sudah berubah. Begitu juga sebaliknya, Siska memperhatikan Bu Mirna yang telah berubah.
Bahkan Siska senang melihat Bu Mirna memakai jilbab. Ia ingin juga melakukan hal yang sama, yakni memakai jilbab.
Setelah mendapat gaji, Siska membeli selusin jilbab untuk dirinya dan Bu Mirna, lewat aplikasi belanja online. Tak hanya itu, ia juga membeli stelan yang nyaman untuk dipakai kerja, gamis dan mukena.
Semua barang-barang yang akan Siska serahkan pada Bu Mirna, ia bungkus rapi dan dimasukkan dalam paper bag besar. Ia akan menyerahkan saat di tempat kerja nanti.
Setelah mandi pagi, Siska pun merapikan diri. Hari ini adalah hari pertamanya berpenampilan berbeda. Ia memakai celana kulot berwarna cream, tunik panjang putih, dan jilbab berwarna senada dengan celananya.
__ADS_1
"Ya Allah, semoga Engkau ridhoi apa yang aku lakukan ini." gumamnya. Lalu melangkah keluar kamar dan berjalan menuju ke depan kost-kostan.
Tak lama kemudian, mobil Doni berhenti tepat dihadapannya. Pemuda itu menurunkan kaca mobilnya dan melihat dengan seksama penampilan Siska yang baru.
Ia mengerjapkan matanya karena semakin terpesona dengan penampilan gadis itu.
"Siska?" gumamnya.
"Iya, apa penampilan ku kurang bagus?" tanya Siska tidak percaya diri.
"Tidak. Justru sebaliknya. Penampilan mu bagus. Aku menyukainya. Ayo masuk."
"Terima kasih." balas Siska sambil menyunggingkan senyum. Lalu perempuan itu masuk ke mobil.
"Kamu bawa apa itu?" Doni melirik sebuah paper bag besar yang ditaruh Siska dekat kakinya.
"Bagus itu, semoga Bu Mirna menyukainya."
Doni pun segera melajukan mobilnya lebih cepat, karena keduanya masih harus mampir ke pasar.
Setelah keduanya dari pasar, lalu mobil menuju ke kedai. Tampak Bu Mirna sudah duduk di teras.
Bu Mirna sedikit kaget, melihat penampilan baru Siska. Dan gadis itu turun dari mobil bos nya.
Memang selama ini Doni dan Siska sengaja pulang akhir, dan berangkat awal. Agar Bu Mirna tidak mengetahui jika Siska menumpang mobil bos nya. Lalu berujung kecurigaan.
Bu Mirna mendekati mobil Doni dan ikut membantu mengeluarkan barang-barang belanjaan nya.
__ADS_1
Melihat Bu Mirna mendekat, siska meraih tangan Bu Mirna mencium punggung tangannya dengan takzim.
Hal itu sudah Siska lakukan, sejak hari kedua Bu Mirna bekerja. Awalnya Bu Mirna menganggap jika Siska melakukan hal itu untuk merebut perhatiannya dan perhatian Doni. Tapi lama-kelamaan Bu Mirna bisa melihat, jika Siska tulus melakukannya.
Setelah membawa masuk semua barang-barangnya, mereka bertiga bekerja sebagaimana biasanya. Di tengah-tengah mereka sedang sibuk, datang dua orang yang melamar kerja.
Doni memang membuka lowongan kerja. Karena setiap hari ia dan kedua karyawannya hampir kewalahan melayani pembeli.
Pria itu segera membersihkan diri dan melakukan beberapa tes sebelum menerima keduanya.
Dan hasil tes diumumkan hari itu juga. Keduanya diterima. Sehingga mulai hari itu juga keduanya bisa bekerja.
Sebagai orang yang lebih lama, Siska membantu membimbing dua orang karyawan baru itu. Doni yang melihatnya tersenyum simpul. Dan tanpa sengaja Bu Mirna kembali melihat hal itu.
Awalnya Bu Mirna hanya menganggapnya biasa. Tapi semakin lama ia bisa mengartikan jika, bos nya itu pasti sedang menaruh hati pada Siska. Namun wanita itu hanya membiarkan saja dan tidak mau ikut campur.
Matahari bergulir dengan cepat. Seperti biasa, tidak sampai pukul empat sore jualan Doni sudah habis. Mereka segera bersiap-siap untuk pulang.
Saat di luar, Siska mengambil paper bag dari dalam mobil dan memberikannya pada Bu Mirna.
"Bu, mohon diterima ya."
"Apa ini?" Bu Mirna mengernyitkan dahi menatap paper bag itu sejenak, lalu ke Siska.
"Baju buat ganti. Selama ini Siska selalu merepotkan ibu dan tidak pernah memberi apa-apa."
Dengan ragu Bu Mirna menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Siska tersenyum lega melihat ibu mertuanya itu mau menerima pemberiannya.
__ADS_1