
Siska merasa tak enak hati, ketika Doni memandangnya sampai seperti itu. Ia menutup pintunya dan memakai baju yang lebih sopan.
Sejujurnya Siska tidak tahu, jika yang mengetuk pintu adalah Doni. Ia pikir mbak Ima. Karena teman kostnya itu juga melakukan hal yang sama, ketika ingin bertemu dengannya. Yakni mengetuk pintu tanpa bersuara.
Doni seketika menutup matanya, dan mulutnya yang tadi menganga langsung tertutup rapat. Ia pikir Siska akan marah dengannya. Karena ketahuan matanya tak bisa dikondisikan.
"Siska, aku minta maaf. Tolong bukakan pintunya." ucap Doni, sambil mengetuk pintu kamar Siska.
Setelah sekian menit berlalu, akhirnya pintu dibuka kembali oleh Siska.
"Maaf, mas. Tadi aku ganti baju dulu. Aku pikir kamu mbak Ima."
Doni menghirup nafas lega. Ternyata ia sudah salah duga.
"Ini. Aku hanya ingin mengembalikan tas mu, dan ada sedikit makanan. Untuk kamu makan malam nanti." Doni menyerahkan tas dan plastik berisi ayam crispy tadi.
"Terima kasih ya, mas."
"Hem, sama-sama. Oh iya, bagaimana keadaan mu? Besok sudah bisa masuk kerja belum?"
"Sudah membaik. Iya, besok aku akan masuk kerja, mas."
"Semoga kuat ya. Aku senang kalau kamu besok beneran masuk kerja."
Siska mengulas senyum, yang membuat jantung Doni berdebar.
"Oh iya, aku sudah mendapatkan karyawan baru. Walaupun cukup tua, tapi setidaknya kerjaannya lumayan bagus."
"Oh ya. Aku ikut senang mendengarnya mas."
Keduanya sejenak saling beradu pandang dan mengulas senyum. Debaran aneh menggerayangi relung dada keduanya.
__ADS_1
"Eh, ya sudah aku pamit dulu ya. Tadi aku belum beli bahan-bahan. Kalau kamu besok berangkat kerja, kita ke pasar dulu ya."
"Iya, aku akan menunggumu di depan."
"Aku pamit, sampai bertemu besok." ucap Doni, yang di balas anggukan kepala dan senyuman oleh Siska. Laki-laki itu pun melangkahkan kakinya, menjauh dari kamar Siska.
**
"Kenapa jam segini mas Mahes belum pulang juga ya?" gumam Mala, sambil mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia mengusap perutnya yang buncit.
Entah kenapa, seharian ini badannya terasa pegal-pegal. Ingin rasanya dipijit oleh suaminya. Tapi, yang ditunggu, malah belum datang. Dan bahkan tak memberi kabar.
Setelah menunggu sekian jam, akhirnya pintu kamar di buka pelan. Mahes mengendap masuk. Ia terkejut ketika melihat istrinya yang belum tidur.
Sedangkan Mala terlihat berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya terlihat marah dan khawatir yang bercampur menjadi satu.
"Sayang, kamu belum tidur?" Mahes pun mendekati Mala.
Agak luluh juga hati Mala, kalau sudah di kecup kening dan perutnya. Bahkan bayi dalam perutnya juga terlihat bergerak dan menendang lapisan kulit nya, sehingga Mahes juga ikut merasakannya.
"Kok diam saja, sayang?" Mahes bangkit berdiri dan menatap wajah istrinya lekat.
"Kalau aku seperti ini, tandanya kamu buat masalah." ketus Mala.
"Masalah?" ulang Mahes, sambil garuk-garuk kepala.
Seketika ia teringat, jika malam ini memang ia lembur dan lupa memberi tahu Mala. Dan baterei handphonenya juga lowbat.
Laki-laki itu menjatuhkan tas kerjanya, lalu kedua tangannya menangkup pipi Mala yang cuby. Ia menjelaskan semuanya pada istrinya.
Semenjak Mala hamil, hatinya memang semakin sensitif. Maka dari itu, Mahes berusaha sebisa mungkin untuk menjaga hatinya.
__ADS_1
Entah salah atau benar apa yang Mahes lakukan, jika sudah membuat istrinya marah atau bersedih, ia akan tetap meminta maaf.
Karena pria yang baik dan sejati itu adalah pria yang meminta maaf duluan tanpa di suruh. Pria yang mau dan berusaha untuk membahagiakan pasangan bagaimana pun caranya.
Setelah mendengar penjelasan suaminya, kemarahan Mala perlahan berkurang.
"Ya sudah, kamu buruan mandi dulu sana. Aku siapkan makan malamnya."
Mala berlalu keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju dapur. Untuk menghangatkan makanan.
Mahes tersenyum lega, melihat istrinya yang tidak lagi marah padanya. Bergegas ia mandi, lalu menikmati makan malam yang telah lewat bersama istrinya. Karena perutnya sudah sangat lapar.
Di dapur, Mala mengeluarkan makanannya dari microwave. Lalu menyusunnya di meja.
Sambil duduk menahan ngantuk dan perut yang sedikit mules, ia menunggu suaminya. Sampai akhirnya yang di tunggu datang juga. Aroma harum yang menguar dari tubuh suaminya begitu menenangkan hati.
"Maaf sayang, kelamaan menunggu." ucap Mahes, sambil mengecup kening istrinya lagi. Lalu duduk di sampingnya.
"Kamu harus temani aku makan, sayang. Biar semakin lahap." Mahes menyendok nasi, lalu menuang ke piringnya.
"Kamu saja yang makan, mas."
"Kenapa?"
"Ya aku lagi tidak ingin makan."
"Ngga, pokoknya kamu juga harus ikut makan." paksa Mahes, bahkan ia justru mendekatkan sesendok nasi dan sayur ke mulut Mala.
Pokoknya Mahes tidak akan membiarkan bayi dalam kandungan Mala kekurangan gizi. Karena melihat suaminya memaksa, akhirnya Mala mau membuka mulutnya.
❤️❤️
__ADS_1