
Mala memasuki lobby perusahaan dengan kaki yang bergetar. Ia berhenti sejenak dan mengambil nafas panjang, lalu menghembuskan perlahan.
"Ada Tante disini. Kamu tidak perlu takut, gugup atau lainnya." ucap Bu Ningrum yang bisa melihat dengan jelas kegugupan di wajah Mala.
"Iya, Tante." ucap Mala, ia kembali teringat akan pesan Mahes untuk bersemangat.
Mala pun kembali melanjutkan langkahnya. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya, menatap tak berkedip. Terpesona akan kecantikannya. Mala pun tersenyum ke arah mereka.
Karena dengan tersenyum, bisa membuat kita jauh lebih rileks. Itu adalah kalimat yang sering diucapkan Mahes padanya.
Setelah keluar dari lift, keduanya berjalan menuju ruangan direktur utama. Yakni ruangan papanya dulu.
Ketika ia membuka pintu, sekelebat bayangan papa muncul di kepala Mala. Wanita itu membayangkan papanya duduk di kursi kerjanya sambil mengecek setumpuk dokumen penting.
Kembali ia menghirup nafas, dan membuangnya pelan. Ia coba tersenyum, agar air matanya tidak tumpah. Ia tidak boleh cengeng. Karena itu akan melemahkan nya.
Mala mengitari meja kerja papanya, lalu dengan sangat hati-hati duduk di kursinya.
"Tante yakin, kamu bisa memimpin perusahaan ini dengan baik, Mala." ucap Bu Ningrum sambil menepuk pelan bahu Mala.
"Terima kasih atas kepercayaannya Tante." Mala mendongak menatap Bu Ningrum, keduanya saling tersenyum.
"Kamu sudah mempersiapkan diri untuk presentasi nanti kan?"
"Insyaa Allah, sudah Tante."
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Masuk." titah Bu Ningrum.
Pintu pun akhirnya terbuka. Muncul seorang wanita yang berpenampilan rapi dan sopan sambil membawa map di dadanya.
"Mala, kenalkan dia adalah Lisa. Sekretaris mu. Jika butuh bantuan, kamu bisa minta tolong padanya."
"Saya, Lisa bu." ucap gadis yang memakai stelan kemeja warna coklat dan jilbab warna senada.
"Iya, Lisa. Saya Mala. Semoga kita bisa bisa bekerja sama dengan baik ya." ucap Mala dengan ramah.
"Insyaa Allah, bu." Lisa kembali membungkukkan badannya.
"Semua sudah siap di ruang rapat, Bu."
"Baiklah, ayo kita segera kesana." Mala bangkit berdiri dan berjalan beriringan Bu Ningrum, menuju ruang rapat.
Mala, bu Ningrum dan Lisa berdiri di ujung meja. Lalu Bu Ningrum, membuka acara pada pagi hari itu. Ia memperkenalkan Mala pada jajaran staffnya. Setelahnya, ia memberikan waktu pada Mala untuk memperkenalkan lebih jauh tentangnya.
"Selamat pagi semua." ucap Mala dengan suara yang lembut namun tegas. Bahkan juga diiringi dengan sebuah senyuman.
"Selamat pagi, Bu." balas mereka sangat kompak.
"Seperti yang sudah dijelaskan oleh Bu Ningrum, nama saya adalah Kemala Ayu. Kalian bisa memanggil saya dengan Mala, atau terserah kalian memanggil saya apa.
Saya adalah putri dari almarhum bapak Sumitro Djojohadikusumo, pemilik perusahaan ini. Karena suatu hal, saya yang akan menggantikan beliau seterusnya.
Saya mohon doa, dukungan dan kerjasama yang baik dari kalian semua, para staff. Untuk memajukan perusahaan ini. Dengan cara-cara yang baik."
__ADS_1
Suara tepuk tangan yang meriah memenuhi ruangan pada pagi hari itu, setelah Mala selesai memberi sambutan.
Selanjutnya, ia mempersilakan semua staf nya untuk memperkenalkan diri. Dilanjutkan dengan pembahasan target kedepannya nanti.
Rapat berlangsung selama kurang lebih satu jam. Beberapa poin penting sudah terekam di kepala Mala, dan juga sudah dicatat oleh Lisa, sekretarisnya.
Akhirnya, rapat pada pagi hari itu pun selesai. Mereka kembali memasuki ruangan masing-masing.
**
Sesampainya di kantor, Mahes segera turun dari mobil. Ia melenggang santai menuju ruangannya. Bu Dewi yang mengetahui kedatangannya, bergegas menyusulnya ke ruangannya. Sambil membawa beberapa berkas penting.
"Permisi. Ini saya bawakan beberapa berkas laporan untuk bulan ini, tuan."
"Terima kasih, Bu." Mahes segera membuka map yang ada dihadapannya.
"Sepertinya, tuan bahagia sekali." cetus Bu Dewi sambil menyunggingkan senyum. Mahes pun mendongakkan kepalanya, menatap sang asisten.
"Bu dewi bisa saja. Saya harus selalu bahagia, Bu. Tidak boleh larut dalam kesedihan."
"Saya senang bisa melihat tuan selalu bersemangat seperti itu. Pasti karena ada seseorang yang membuat tuan Mahes jadi seperti ini."
Bu Dewi memang sengaja menggoda atasannya itu, karena ia sudah tahu tentang hubungannya dengan Mala. Bahkan, terkadang ia juga memberi saran untuk meluluhkan hati wanita pujaannya.
"Bu Dewi, terima kasih ya, sudah menjadi orang kepercayaan di keluarga saya."
"Sama-sama tuan. Hanya ini yang bisa saya lakukan, untuk membalas kebaikan tuan Sadewa. Karena berkat beliau, saya bisa menafkahi keluarga saya, dan bisa menyekolahkan anak-anak saya ke jenjang yang lebih tinggi. Hanya beliau yang percaya pada wanita yang tak memiliki ijazah sarjana seperti saya, untuk menjadi asistennya."
__ADS_1
Sejatinya, kebaikan yang kita tebar, akan berbalik pada kita, atau anak turun kita. Maka, jangan lah bosan, untuk terus menerus menyebar kebaikan.