
Setelah Mahes memberi sambutan, acara dilanjutkan kembali. Yakni potong rambut bayi.
Mahes menjemput istrinya, lalu keduanya berjalan menuju panggung acara. Mala berdiri sambil menggendong bayinya, sedangkan Mahes mulai memotong sedikit rambut bayinya. Setelah Mahes, dilanjutkan oleh seorang ustadz.
Acara pemotongan rambut bayi telah selesai, lalu di lanjutkan ceramah singkat oleh ustadz.
Pak ustadz menyampaikan tentang makna Aqiqah. Para hadirin mendengarkan dan menyimak baik-baik apa yang disampaikan.
Hingga tanpa terasa pak ustadz telah selesai berceramah. Lalu acara pun dilanjutkan dengan menikmati makanan yang telah disediakan sambil menikmati marawis.
Akhirnya, kini tiba di penghujung acara. Satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara. Mereka mengucapkan terima kasih karena telah diundang di acara yang bagus itu.
Mala dan Mahes mengucapkan terima kasih, sambil memberikan gift untuk para undangan. Yakni dengan sepasang mug yang bergambar domba.
**
Di tempat lain, Siska sudah sembuh dari sakitnya. Pagi itu sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Setelah mandi dan menghabiskan sarapannya, Siska menunggu Doni di depan pagar kost-kostan.
Dari arah kejauhan, ada sebuah mobil hitam yang melintas. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Doni.
Di dalam mobil, Doni juga tengah menyunggingkan senyum, melihat Siska sudah berdiri menunggunya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan gadis itu. Lalu membuka jendelanya.
"Kamu sudah beneran sehat kan?" Siska mengangguk membalas pertanyaan Doni.
"Ayo, masuk." ajak Doni dengan penuh semangat.
Siska segera mengitari mobil Doni, lalu masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, keduanya terus bercakap-cakap. Seolah-olah keduanya sudah lama tidak bertemu. Doni juga tidak tahu kenapa dia bisa bersemangat seperti itu.
"Lhoh, kok belum datang?" gumam Doni, saat ia sudah sampai di kedai.
"Siapa, mas?" tanya Siska sambil mengernyitkan dahi.
"Karyawan baru. Tapi tidak apa-apa, aku maklum. Karena dia jalan kaki."
"Seperti aku dulu dong. Tapi aku sangat bersyukur, mas Doni baik hati mau memberiku tumpangan. Gratis pula. Sampai bingung bagaimana cara ku membalas."
"Kamu serius mau membalas?"
"Iya." Siska menganggukkan kepalanya cepat.
"Balas saja pakai rasa cinta." ucap Doni sambil menatap gadis dihadapannya dengan serius.
Melihat Siska yang hanya diam menatapnya, Doni mulai menyunggingkan senyum. Laki-laki itu merasa tak enak dengannya. Mungkin gadis itu menganggap ucapannya hanya sekedar candaan, tapi sebenarnya dia serius.
"Lupakan, tadi aku hanya bercanda. Ayo keluar dan mulai bekerja." ucap Doni sambil keluar dari mobilnya.
'Ber-bercanda? Ya Tuhan, aku pikir dia serius. Bodohnya aku, mana mungkin ada laki-laki yang menyukai ku. Apalah aku ini yang hanya seorang pendosa.' sesal Siska dalam hati.
Gadis itu segera turun, dan ikut membantu mengambil bahan-bahan di bagasi.
"Duh naik Doni sudah datang duluan. Maafkan ibu ya nak, datang terlambat."
Mendengar suara seseorang, Doni dan Siska menoleh bersamaan. Lalu melihat ke asal suara.
"Tidak apa-apa kok, Bu. Doni juga baru datang." balas Doni ramah sambil menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Sementara Siska tengah menatap orang yang baru saja menyapa bos nya. Begitu wanita itu yang menatap balik Siska.
"Bu Mirna."
"Siska."
Ucap kedua wanita beda usia itu bersamaan. Bu Mirna langsung mendekati Siska dengan wajah merah padam menahan amarah. Lalu tangannya terulur menarik rambutnya.
"Arghhh... Ampun, sakit Bu." teriak Siska, hingga barang-barang yang ia bawa tadi terjatuh, dan tangannya mencengkram tangan Bu Mirna agar melepaskan rambutnya.
"Kamu wanita pembawa sial. Gara-gara kamu anakku meninggal." Bu Mirna terus mengumpat dan mengatai Siska yang buruk-buruk.
Doni yang melihat pemandangan itu seketika terkejut. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Hingga memutuskan membantu Siska.
"Bu Mirna, tolong lepaskan Siska. Kasian dia kesakitan." ucap Doni, sambil memegang tangan Bu Mirna, dan menjauhkan dari Siska.
Akhirnya usaha Doni itu berhasil, walaupun di sela-sela jari Bu Mirna terdapat rambut Siska yang rontok.
"Bu, ibu tenang ya. Kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik. Yuk masuk dulu, biar Doni ambilkan minuman." dengan bijak Doni menasehati Bu Mirna.
Sebenarnya pria itu juga kasian melihat Siska menangis sesenggukan. Ingin rasanya ia memeluk dan menenangkan gadis dihadapannya. Tapi jika ia memeluk gadis itu, pasti Bu Mirna akan mengamuk lagi.
"Maafkan ibu, nak. Terus terang ibu tidak bisa tenang. Karena gara-gara wanita itu, ibu harus kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Dan namanya juga sama seperti namamu."
Siska semakin menangis sesenggukan, ketika mendengar nama suaminya disebut-sebut oleh ibu mertuanya, jika sudah meninggal.
"Ibu." Siska menubruk Bu Mirna, dan bahkan berlutut dihadapannya.
"Maafkan Siska, Bu." ucap gadis itu disela-sela isak tangisnya.
__ADS_1