Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
128. Di rumah sakit


__ADS_3

Doni sangat khawatir dengan kondisi Siska. Akhirnya, ia segera menutup kedainya. Lalu membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat.


"Siska, apa yang terjadi dengan mu?" gumam Doni sambil menatap Siska sekilas, lalu kembali fokus melihat jalan.


Tak lama kemudian, ia telah tiba di rumah sakit. Doni dengan sigap mengangkat tubuh Siska yang ringan.


Bagaimana berat badan Siska tidak ringan, jika ia bekerja dengan keras dari pagi sampai sore. Di tambah lagi, ia juga hanya makan saat pagi dan sore saja. Saat siang, bahkan ia tidak sempat makan, karena pengunjung kedai terus berdatangan.


Perawat yang melihat Doni mengangkat tubuh Siska, segera mendekat sambil membawa brankar dorong. Laki-laki berseragam putih itu menyuruh Doni meletakkan tubuh Siska di atasnya.


Setelahnya, mereka mendorong Siska menuju ruang IGD. Doni di persilahkan menunggu di luar, sedangkan team medis menutup pintunya dan bersiap untuk melakukan tindakan.


Laki-laki itu menyugar rambutnya frustasi. Lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu, setelah mondar-mandir tidak jelas di depan pintu ruang IGD.


Sedangkan di dalam ruang IGD, Siska tengah di tangani oleh dokter dan beberapa perawat.


Dokter pun menghela nafas panjang, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan akhirnya menemukan apa penyebab Siska sampai jatuh pingsan.


Perawat merapikan peralatannya, sedangkan dokter berjalan keluar ruang IGD.


"Bagaimana keadaan pasien, dok?" Doni yang melihat dokter keluar dari ruang IGD, segera mencecarnya dengan pertanyaan.


"Asam lambung pasien naik. Hal itu dipicu karena sering telat makan, banyaknya aktivitas pekerjaan yang ia lakukan, dan jam istirahat yang kurang." terang dokter.


Sesaat Doni terdiam. Ia memikirkan ucapan sang dokter, yang sangat benar dan masuk akal. Ia menyesal, kenapa baru sekarang membuka iklan lowongan kerja. Sehingga ia sendiri dan Siska yang kerepotan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap sang dokter, yang menyadarkan Doni dari lamunannya.


"Eh, iya dok. Silahkan."

__ADS_1


Setelah kepergian sang dokter, seorang perawat keluar dari ruangan. Dan ia meminta Doni untuk menemani pasien. Pria itu langsung mengangguk, dan masuk ke ruangan itu.


Tampak Siska terbaring lemah, dan matanya masih terpejam. Tangan kirinya terpasang selang infus. Doni perlahan mendekatinya dan duduk di kursi yang ada di samping brankar.


"Sis, maafkan aku ya. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini. Cepat sembuh ya." bisik Doni.


**


Malam kian larut, Siska belum juga sadar. Doni masih setia berada di sampingnya. Setahunya, Siska tidak memiliki sanak dan keluarga. Jadi ia tidak kebingungan mau menghubungi siapa pun.


Karena aktivitasnya yang cukup menguras tenaga, akhirnya Doni yang kelelahan mulai terserang ngantuk.


Sekuat apapun ia menahan matanya untuk tetap terjaga, nyatanya ia gagal juga. Kepalanya jatuh ke atas brankar, dekat dengan tangan Siska.


Tak berselang lama, Siska mulai menunjukkan sebuah reaksi. Jemari tangannya mulai perlahan bergerak. Bola matanya juga bergerak, dan akhirnya samar-samar kelopaknya mulai terbuka pelan.


Silau cahaya lampu, membuat kelopak matanya mulai menutup lagi. Lalu mengerjap pelan-pelan.


Tangannya bergerak ingin memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri, ketika mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi dengan dirinya.


Tapi ternyata, mengenai kepala Doni. Ia pun menatap laki-laki yang tengah tertunduk kepalanya di dekat tangannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa mas Doni ada di dekat ku?" lirih Siska lagi.


"Mas. Mas."


Siska memanggil Doni, sambil mengguncang kepalanya perlahan.


Mendengar ada yang memanggil namanya, Doni seketika tergeragap bangun.

__ADS_1


"Siska, kamu sudah sadar." cetusnya dengan raut wajah berbinar.


"Sadar? Memangnya aku kenapa?" lirih Siska.


Ia tidak menyadari jika tadi dirinya pingsan. Doni pun menceritakan semuanya pada Siska. Ia juga minta maaf, karena sudah berlaku dzolim dengannya. Karena kurang memperhatikan jam istirahatnya. Sehingga menyebabkan pingsan.


Siska menyunggingkan senyum. Lalu meminta maaf juga, karena tidak enak telah merepotkan Doni.


"Oh iya, mas. Jam berapa sekarang?"


"Pukul sepuluh malam."


"Apa! Pukul sepuluh malam? Aku harus segera pulang."


"Dokter belum mengijinkan mu pulang. Kamu saja baru sadar."


"Tapi, mas. Aku takut dimarahi sama ibu kost ku. Ada larangan pulang di atas jam sepuluh malam."


"Dimana handphone mu? Biar aku telepon ibu kost mu sekarang."


"Di dalam tas."


Doni celingukan mencari tas Siska. Ia baru ingat, jika tas Siska tertinggal di kedai. Karena tadi ia sangat khawatir dengan keadaannya.


"Maaf Siska, tapi tas mu tertinggal di kedai. Apa kamu tidak ingat, berapa nomor teleponnya?"


Siska menggelengkan kepalanya, lalu berpikir.


"Kamu menyimpan nomornya mbak Ima tidak mas?"

__ADS_1


Doni membuka handphonenya, mencari nomor teman kost Siska. Tapi ternyata tidak ada. Seingatnya dulu ia mengantar pesanan makanan dengan berbekal alamat pada secarik kertas yang Siska tuliskan.


Keduanya menghirup nafas panjang. Bingung, bagaimana harus mengabari ibu kostnya.


__ADS_2