Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
142. Aqiqah


__ADS_3

Malam nanti, Mahes akan menggelar sebuah acara aqiqah untuk putra pertamanya. Dan pada pagi harinya, kesibukan jelas terlihat di rumahnya.


Di pelataran rumah mewahnya, tengah di pasang tenda. Agar tamu yang datang terlindung dari hujan, yang terkadang sering kali datang mendadak.


Di belakang rumah, tengah berkumpul ibu-ibu juru masak, dan seorang ustadz yang hendak menyembelih kambing.


Mala dan Mahes memperhatikan dari jarak aman, proses penyembelihan hewan.


Wanita itu bergidik ngilu, ketika melihat darah yang keluar dari leher kambing, ketika pak ustadz menghunuskan pisaunya. Mahes memeluk kepala istrinya, dan menelusupkan di dadanya.


"Tidak usah takut sayang. Bahkan saat kamu melahirkan kemarin, darahnya lebih banyak dari itu."


"Hah? Benarkah?" Mala mendongakkan kepalanya menatap ke arah suaminya. Pria itu pun mengangguk mengiyakan.


Keduanya duduk sambil melihat daging kambing itu di potong-potong menjadi lebih kecil-kecil untuk memudahkan proses memasak.


Hingga akhirnya, bayinya menangis. Pasangan orang tua baru itu menenangkannya, tapi tidak kunjung mereda juga tangisannya. Ketika popoknya di cek, juga tidak basah karena ompol.


"Sayang, mungkin bayi kita kehausan atau lapar. Cepat bawa ke kamar dan susui."


Mala menganggukkan kepalanya, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju ke kamarnya, dan Mahes mengekor di belakangnya.


Sesampainya di kamar, Mala membuka kancing bajunya, lalu mendekatkan kantung ASI-nya ke mulut bayinya.


Bayi itu melahap asi mamanya dengan rakus. Hingga wajahnya dipenuhi peluh. Mahes pun membersihkan wajah anaknya dengan tissue.


"Sayang, aku penasaran dengan rasa asi." celoteh Mahes.


"Bukan kah kamu dulu sewaktu masih kecil juga meminum asi?"

__ADS_1


"Iya itu dulu. Sekarang sudah lupa lagi."


"Jangan bilang kalau kamu ingin merasakan punya ku." Mahes meringis, ketika istrinya tahu apa yang ada dalam pikirannya.


**


Malam pun tiba, Mala dan Mahes sedang bersiap-siap. Keduanya memakai baju berwarna sama, yakni putih semua. Begitu juga dengan putra tampan mereka. Yang memakai stelan Koko berwarna putih dan pecinya juga putih.


Setelah selesai berhias, Mala bangkit berdiri. Di belakangnya memang masih berdiri suaminya. Pria itu memegang kedua tangannya, lalu menatapnya intens. Membuat Mala merasa nervous.


"Sayang, semoga kita bisa membina rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Tidak ada yang bisa merusak kebahagiaan kita." doa tulus Mahes.


"Aamiin."


Setelah itu Mahes mendekatkan wajahnya dan mengecup kening istrinya. Tidak hanya kening saja, ia juga menghujani kedua sisi pipi Mala dengan kecupan.


Perlahan kecupan itu juga merembet ke bibirnya. Dan semakin lama semakin dalam. Tangan Mahes sudah bergerilya di dua tempat produksi asi.


Pasangan suami-istri itu mendadak salah tingkah, saat melepaskan tautan bibirnya tadi.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menahan semua ini." Mahes sekali lagi mengecup kening Mala, sebelum berjalan cepat untuk membukakan pintu kamarnya.


"Maaf, den. Sudah ada beberapa tamu yang datang." ucap bibi.


"Oh, tunggu sebentar ya bi, kami akan segera turun."


"Baik, den."


"Ada apa, mas?" tanya Mala yang tiba-tiba sudah ada di dekat suaminya.

__ADS_1


"Tadi bibi berkata, kalau tamu sudah mulai berdatangan. Kamu sudah siap?" Mala pun mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita turun sekarang."


Mahes merangkul lengan istrinya, sedangkan istrinya itu tengah mendorong stroller nya. Ketiganya turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift.


Di pelataran, sudah ada beberapa tamu yang datang. Mala dan Mahes menyalami mereka. Setelah itu, keduanya berdiri berjejer untuk menyalami tamu yang lainnya yang baru saja datang.


Semakin lama semakin banyak tamu yang berdatangan. Hingga akhirnya, tempat yang disediakan sudah dipenuhi oleh mereka.


Mala dan Mahes berjalan menuju kursi di deretan paling depan. Karena sebentar lagi acara akan segera di mulai.


Seorang MC mulai mengucapkan salam, lalu membacakan susunan acara. Hingga akhirnya tiba acara sambutan.


Mahes sebagai sang tuan rumah dan penyelenggara acara maju ke depan untuk mengucapkan sepatah kata.


Suami dari Mala itu pun bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju ke mimbar acara.


Pria berwajah tampan itu mulai berbicara.


" Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Bapak atau ibu, Hadirin yang dimuliakan Allah,


Melalui acara ini pula, kami sekeluarga memohon kepada bapak atau ibu dan para hadirin untuk bersedia mendoakan kami sekeluarga dan terkhusus pula untuk putra kami Adam Nabhan.


Semoga putra kami ini bisa tetap dalam iman dan islamnya, luas dan berkah rizkinya, cerdas dan bersih hatinya serta selalu dalam perlindungan Allah swt, Aamiin.


Demikian yang bisa saya ungkapkan sebagai tuan rumah, kurang lebihnya mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan karena kesempurnaan hanya milik Allah dan kekurangan datang dari diri saya pribadi.


Wabillahi taufik wal hidayah...

__ADS_1


Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh."


Setelah memberi kata sambutan, Mahes turun dari mimbar. Lalu acara dilanjutkan kembali.


__ADS_2