
Mala menganggukkan kepalanya sambil menunduk, menjawab pertanyaan dari suami Bu Dewi.
"Alhamdulillah." seru mereka para hadirin. Sambil mengusap wajah mereka dengan kedua tangannya sebagai bentuk rasa syukur.
"Mahes, silahkan kamu berikan suatu tanda untuk mengikat nak Mala dalam pertunangan ini." titah Dewa, suami Bu Dewi.
"Baik, om." Mahes meraih kotak beludru berwarna merah yang berbentuk daun yang ada di atas meja. Lalu membuka isinya.
Satu set perhiasan berlian terpampang indah disana.
Meskipun kemarin saat menyatakan cinta, dia sudah memberikan cincin pada Mala, tidak ada salahnya ia memberikan lagi. Toh, ia tak bakal miskin hanya karen memberikan perhiasan untuk calon istrinya.
Mahes dan Mala bangkit berdiri bersamaan. Melalui instruksi dari salah satu anggota keluarga keduanya berfoto saat Mahes menyematkan perhiasan itu ke tubuh Mala.
Para tamu bertepuk tangan sangat meriah, menyaksikan kebahagiaan yang tengah menyelimuti kedua insan itu. Mereka berharap Mala dan Mahes bisa bersatu selamanya dalam ikatan suci pernikahan.
Acara kembali dilanjutkan dengan makan bersama, sambil bercakap-cakap sejenak. Lalu keluarga Mahes pun ijin pulang. Karena sebentar lagi memasuki waktu Dhuhur.
"Jaga diri baik-baik calon istri ku. Semoga kita bisa segera bertemu di pelaminan nanti." bisik Mahes ketika hendak pulang.
Mala tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum manis sambil tertunduk, karena perasaan bahagia yang tak bisa diluapkan.
**
"Don, kenapa kamu ngga cari kerja juga sih?" cicit bu Mirna ketika keduanya tengah menikmati sarapan pagi bersama.
__ADS_1
Jujur saja, melihat acara lamaran mantan istrinya kemarin membuatnya patah semangat. Niat hati ingin mengikhlaskan Mala untuk orang lain, ternyata sulit.
Ditambah lagi senjatanya semakin sakit. Membuatnya malas kemana-mana. Karena rasanya memang tidak nyaman.
Untuk memeriksakan diri, dia sangat malu pada dokternya. Tapi jika tidak diperiksakan, ia juga tidak tahu apa yang menyebabkan senjatanya sakit.
Ia menghirup nafas dalam-dalam untuk menghilangkan sesak di dada. Dan agar bisa berpikir lebih jernih.
"Don. Kerjaan mu melamun saja, setiap hari. Gimana kita mau dapat uang? Tabungan sudah hampir habis pula. Memang kamu mau setiap hari cuma makan sambel sama tempe saja?" imbuh ibunya lagi dengan raut wajah jengkel.
"Iya-iya, Bu. Nanti Doni cari kerja." balas Doni, untuk melegakan hati ibunya.
Sebenarnya ia ingin keluar untuk memeriksakan diri. Jika masih ada waktu bisa dicoba untuk mencari kerja.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Doni segera bersiap-siap. Dan tak lama kemudian, ia keluar kamar dalam keadaan sudah rapi.
Mobilnya melaju menuju sebuah rumah sakit, dimana dulu Mala pernah di rawat. Ia tidak mengetahui jika Mahes lah sekarang pemilik rumah sakit itu.
Sesampainya di rumah sakit, ia segera menuju ke bagian resepsionis. Untuk menanyakan jadwal praktek dokter yang menangani penyakit saluran kencing, dengan suara yang lirih. Karena merasa malu.
Bahkan untuk menutupi rasanya malunya, Doni sampai mengenakan kaca mata hitam dan masker. Persis seperti Mala dulu, saat ia baru saja pulang dari rumah sakit karena kecelakaan.
Nasib mujur menghampiri Doni. Pagi itu memang dokter tengah buka praktek. Ia mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai di ruangan dokter. Dan, sesampainya di depan ruangan, tidak ada antrian. Bergegas ia masuk, setelah mengetuk pintu.
Seorang laki-laki berjas putih khas dokter menyapanya dengan senyum ramah, dan mempersilahkan Doni duduk.
__ADS_1
Seorang perawat yang berdiri di samping dokter itu juga menyapanya lewat senyuman dan sedikit membungkukkan badannya.
Semua itu justru membuat Doni merasa tak nyaman untuk menyampaikan keluhannya. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah sampai di ruang dokter. Akhirnya mau tak mau ia menyampaikan semua yang ia alami pada dokter.
"Mari silahkan berbaring di atas brankar dulu ya, pak." ucap dokter ramah.
Doni beranjak dari duduknya, dan saat itu pula rasa sakit kembali menyerang. Hingga ia meringis menahan rasa ngilu yang tak tertahankan.
"Silahkan di buka dulu celananya." ucap dokter, saat Doni sudah merebahkan diri di atas brankar.
"Hah, buka celana?" Doni mengulang perintah dokter.
"Iya, pak. Tidak usah malu. Saya sudah sering melihat aset berharga milik laki-laki berbagai size."
Dengan ragu Doni membuka celananya. Ia malu ketika aset berharganya tengah di lihat oleh dokter dan perawat. Bahkan kini tengah di pegang, untuk mengetahui jenis penyakit apa yang tengah tersembunyi.
Doni berdo'a di dalam hati, semoga itu hanya penyakit karena kurang mengkonsumsi air putih saja. Karena memang selama ini ia memang lebih banyak mengkonsumsi minuman manis.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, Doni kembali ke tempat duduknya.
"Ini baru kesimpulan saya sementara waktu ya, pak. Berdasarkan ciri-cirinya, sepertinya anda ini mengidap penyakit kelamin.
Penyakit kelamin atau gonore disebabkan karena seseorang itu sering bergonta-ganti pasangan. Dan orang-orang yang biasanya terkena penyakit seperti ini adalah orang yang suka jajan sembarangan di luar."
"Tapi, saya tidak pernah jajan di luar, dok. Saya melakukannya hanya dengan satu istri saja."
__ADS_1
"Bisa jadi penyakit ini berasal dari istri anda. Maka dari itu, sebaiknya istri anda juga segera memeriksakan diri. Agar bila terjadi sesuatu, bisa lekas ditangani."
Remuk tulang persendian Doni setelah mendengar penjelasan dokter.