Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
134. Karyawan baru


__ADS_3

Setelah bayangan Doni tak lagi terlihat, Siska berniat masuk kamar. Namun sialnya, kuncinya berada di tas nya. Dan sekarang tas itu masih berada di kedai Doni. Untuk menghubunginya, ia juga tidak ingat berapa nomor teleponnya. Ia menyandarkan tubuhnya di depan pintu, sambil berpikir apa yang harus ia lakukan.


"Ah, aku minta sama ibu kost saja." ucap Siska sambil menjentikkan jarinya, dan mengulas senyum.


Gadis itu berjalan menuju rumah ibu kost yang berjejer dengan gedung kost-kostan.


"Bu, ibu. Permisi Bu."


Siska memanggil ibu kost berulang kali. Karena tidak juga ada jawaban. Padahal baru saja ia mengoceh panjang lebar padanya.


Setelah sekian menit berselang, akhirnya ibu kost membukakan pintu untuknya. Wanita yang mengenakan perhiasan serba panjang itu memindai wajah Siska.


"Ada apa?"


"Maaf Bu. Kalau boleh, saya mau pinjam kunci cadangan kamar saya. Karena kunci yang biasa saya bawa, di dalam. Dan seperti yang sudah saya jelaskan tadi, tas nya tertinggal di kedai."


"Tunggu sebentar."


Ibu kost segera berlalu masuk ke dalam rumah. Dan tak berselang lama, ia sudah membawa anak kunci. Lalu menyerahkannya pada Siska.


"Terima kasih ya, Bu." ucap Siska dengan wajah yang berbinar.


"Hem, ingat. Kalau kamu sudah mengambil kunci mu. Kamu harus segera menyerahkan kunci cadangan itu."


"Baik, bu. Sekali lagi terima kasih."


Siska berlalu pergi, dan berjalan menuju kamarnya. Ia langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidurnya, setelah berhasil masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Ia memandang langit-langit kamarnya sambil tersenyum. Entah kenapa perlakuan yang Doni tunjukkan beberapa hari ini di rumah sakit, begitu membuatnya bahagia. Yah, walaupun hubungan keduanya cuma sebatas karyawan dan bos.


Cukup lama Siska rebahan di atas ranjang tempat tidurnya. Hingga akhirnya ia memilih beranjak dari tempat tidurnya, lalu merebus air untuk mandi.


**


Setelah mengantar Siska pulang, Doni memutar haluan. Ia melajukan mobilnya menuju kedai.


Ia berdiri di ambang pintu, ketika sudah sampai di kedai. Cukup berantakan keadaan kedainya. Karena saat Siska pingsan, kedainya sedang ramai pengunjung.


Doni menghirup nafas panjang, lalu membuangnya pelan.


"Aku harus segera merapikan semuanya. Besok aku harus kembali berjualan." gumam Doni.


Pemuda itu melangkah ke dalam dan mulai merapikan kedainya.


Pertama-tama yang ia lakukan adalah memungut bekas makanan yang masih tergeletak di meja selama tiga hari. Lalu membuangnya di tong sampah. Berulang kali ia bolak-balik membuang makanan ke tong sampah.


Ia berharap ada sesuatu yang bisa diambil. Wanita itu pun mengobrak-abrik tumpukan sampah.


"Apa yang sedang anda lakukan, bu?" tanya Doni sambil membawa setumpuk sampah.


Pemulung itu tampak terkejut, hingga ia menegakkan badannya. Karena tadi ia membungkuk.


"Ma-maafkan saya, nak. Telah mengobrak-abrik tong sampah mu. Saya hanya ingin mencari botol-botol bekas yang bisa saya jual. Kalau ada makanan sisa saya juga mau."


Doni terenyuh melihat ibu-ibu yang mungkin umurnya hampir sama dengan almarhum ibunya. Ia membayangkan jika ibunya masih hidup, dan melakukan pekerjaan seperti itu. Sungguh tidak tega rasanya.

__ADS_1


"Ibu butuh kerja?"


"Iya. Saya sangat butuh kerja. Tapi umur saya sudah banyak, tidak ada yang mau menerima saya bekerja. Maka dari itu, saya lebih baik memulung saja."


"Ibu mau bantuin membereskan kedai saya? Kebetulan beberapa hari ini karyawan saya tidak masuk, karena sakit."


"Boleh-boleh." ucap pemulung itu antusias.


"Mari ikut saya kalau begitu."


Pemulung itu mengikuti Doni yang berjalan masuk ke kedai. Setelah sampai di dalam kedai, Doni menjelaskan pada pemulung itu, tentang apa saja yang harus ia kerjakan. Kemudian, mereka pun mulai bekerja membereskan kedai.


Hari hampir sore, ketika keduanya selesai membereskan kedai. Kini kedai pun terlihat lebih rapi dan berbau segar.


Doni cukup puas dengan hasil kerja pemulung tadi. Sehingga ia berniat memberikan bayaran yang pantas untuknya.


"Bu, terima kasih sudah dibantuin. Ini ada sedikit rezeki untuk ibu, mohon diterima."


"Terima kasih, nak. Ibu sangat senang sekali menerimanya."


"Sama-sama Bu."


"Apa kedai ini tidak membutuhkan karyawan lagi? Ibu mau melakukan apa saja. Yang penting bisa dapat penghasilan pasti, walaupun hanya sedikit."


Doni sebenarnya ingin mencari karyawan yang lebih muda. Selain bisa berpenampilan menarik, juga bisa lebih cekatan.


Namun, apa daya ia belum mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kriterianya. Sementara ia juga tidak bisa menutup kedainya lebih lama lagi. Apalagi kedainya terhitung masih baru.

__ADS_1


"Baiklah, ibu akan saya terima bekerja disini. Tugas ibu, berada di dapur untuk membuat minuman, mencuci gelas dan piring kotor, serta membersihkan kedai sebelum dan sesudah kedai buka."


"Hah, terima kasih nak. Ibu sangat berhutang budi padamu."


__ADS_2