Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
154. Terlalu lama puasa


__ADS_3

Doni mengajak Siska mampir ke sebuah restoran. Sambil menunggu pesanannya datang, keduanya kembali melanjutkan percakapannya.


"Maaf mas, aku mau tanya. Jika kita menikah nanti, kita akan tinggal dimana? Aku tidak menginginkan hunian yang mewah, rumah sederhana sudah cukup bagiku.


Selain itu sebenarnya, aku ingin merawat Bu Mirna. Aku sudah janji untuk merawatnya. Bahkan, sebenarnya aku ingin menyuruhnya berhenti kerja, biar aku saja yang membiayai seluruh kebutuhannya."


"Siska, jangan khawatirkan hal itu. Kalian nanti bisa tinggal di rumahku. Walaupun hanya sebuah rumah sederhana, cukuplah untuk menampung lima orang."


"Serius, mas?" Doni menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, terima kasih ya mas. Dan maaf kalau aku banyak merepotkan mu."


"Tidak. Kamu sama sekali tidak merepotkan ku. Suami memang harus memberikan nafkah pada istri dan keluarganya."


Mata Siska sampai berkaca-kaca, karena mendengar ungkapan tulus dari mulut laki-laki dihadapannya. Ia tak menyangka, jika mantan kupu-kupu malam, bisa mendapatkan laki-laki yang baik dan mapan.


"Jangan menangis, mungkin aku ini hadiah yang dikirim Tuhan, karena kamu sudah mau bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik." tutur Doni sambil menghapus butiran air yang menetes di pipi Siska.


"Meskipun terdengar lucu, tapi menurutku itu memang benar." balas Siska sambil terkekeh kecil.


Mereka segera menghabiskan makanannya, setelah itu segera pulang. Karena merasa keduanya sudah terlalu lama meninggalkan Bu Mirna.

__ADS_1


**


Sementara itu di kediaman Mala, ia baru saja menidurkan bayi nya. Setelah itu membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.


Tapi ia teringat, jika suaminya masih berada di ruang kerja. Bergegas ia pun menyusulnya kesana.


Ketika membuka pintu, ia melihat jika suaminya tengah mengerjakan setumpuk dokumen. Ibu satu anak itu menghampirinya, dan mengalungkan tangannya di leher sang suami. Sambil melihat apa yang dikerjakan.


"Apa masih banyak, mas? Aku bantuin ya." Mala menyisipkan anak rambut ke belakang telinga, dengan pandangan tetap tertuju pada map yang berada di hadapan suaminya. Tapi, suaminya itu justru malah menatapnya.


"Kamu segera tidur saja, nanti kalau bayi kita menangis, kamu tidak dengar lagi."


"Dia baru saja tidur. Aku kasian melihat mu selalu pulang malam, dan masih mengerjakan banyak tugas di rumah."


"Ini sudah jadi tugas pokok ku. Kalau tugasmu di rumah kan merawat bayi kita, selama aku tinggal kerja. Ibu rumah tangga juga sama capeknya. Jadi, mana mungkin aku mau memberatkan mu sayang." Mahes mengecup sebelah pipi Mala, lalu menyunggingkan senyum.


"Hem, kamu selalu saja begitu. Terima kasih ya, mas. Karena selalu membuatku nyaman."


"Sun dulu dong sebagai upahnya." Mahes menyunggingkan senyum sambil mengetuk sebelah pipinya. Tak ragu, Mala pun mengecup kedua pipi suaminya.


"Mas, dua hari lagi kan hari Jum'at. Bagaimana kalau kita bagi-bagi makanan ke orang-orang yang kurang mampu?"

__ADS_1


"Ide yang bagus itu, sayang. Kalau kita memberi selain hari Jum'at juga tidak apa-apa. Yang penting kita mengerjakan sesuatunya dengan ikhlas. Kita kasih ayam crispy yang dulu pernah kita beli itu bagaimana?"


Mala terdiam sambil mengingat. Sekian detik kemudian, dia ingat pernah makan di kedai tempat Siska bekerja.


"Kalau kamu tidak setuju, kita bisa cari makanan ditempat lain." imbuh Mahes lagi.


"Tidak-tidak. Kita pesan di tempat yang kamu maksudkan tadi juga tidak apa-apa kok, mas. Disana rasanya enak banget dan murah pula. Biarlah itu menjadi rezeki pemilik kedai. Aku juga sudah berusaha melupakan masa lalu. Wanita itu juga tidak sepenuhnya salah kok."


"Bagus, sayang. Aku suka kamu bersikap seperti itu." Mahes mengecup pipi istrinya. Yang membuat wajah Mala bersemu merah.


Mahes yang melihatnya, tiba-tiba mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya, lalu menelusupkan kepalanya di dadanya.


Tak lama kemudian, tangannya bergerilya kesana-kemari, hingga lingerie yang dipakai Mala tersingkap tinggi.


Hidung Mahes mulai kembang kempis mengendus aroma wangi dari tubuh istrinya. Tak lama kemudian, ia mendaratkan kecupan dibeberapa bagian tubuh istrinya.


Lama-kelamaan pria itu mulai tak tahan menahan gejolak di dadanya.


"Sayang, aku sudah tidak tahan terlalu lama berpuasa. Boleh kah aku meminta hakku malam ini?" tanya Mahes dengan suara yang parau.


"Tapi, mas. Kita belum ke dokter lagi untuk berkonsultasi. Baru juga tiga bulan aku melahirkan. Nanti bagaimana kalau aku hamil lagi? Biasanya kan banyak tuh orang yang kebobolan setelah melahirkan."

__ADS_1


Mahes menyunggingkan senyum, mendengar istrinya berkata 'kebobolan'. Lalu ia membelai lembut rambut istrinya.


"Sayang, jika Allah sudah berkehendak, orang yang sudah tua saja masih bisa hamil. Lalu kenapa kamu yang masih muda sudah takut duluan? Sedikasihnya Allah saja, tidak usah ditutup pagarnya."


__ADS_2