
Siska dibantu oleh salah satu pelanggannya, sedang bertemu dengan seseorang yang ingin membeli rumah.
Mereka berkumpul di sebuah kedai makan. Setelah melihat berbagai sudut rumah, ditambah beberapa keterangan yang diberikan oleh Siska, calon pembeli itu menyetujui untuk membeli rumah.
Satu milyar uang hasil penjualan rumah itu telah masuk ke rekening Siska. Setelah kata sepakat terjadi. Mereka bercakap-cakap sejenak lalu saling berpisah.
Si pembeli yang merasa sudah memiliki hak atas rumah yang baru saja dibelinya, ingin mengecek kondisi rumah. Ia dan keluarganya segera melajukan mobilnya menuju rumah itu.
Sementara itu Siska diantar oleh pelanggan jasanya ke sebuah showroom. Kali ini ia benar-benar ingin mewujudkan impiannya untuk membeli mobil mewah.
Matanya berbinar ketika melihat deretan mobil mewah yang berwarna-warni, dan tentunya memiliki spesifikasi keunggulan masing-masing yang ditawarkan.
Gayanya sungguh mengundang perhatian seluruh pengunjung dan karyawan showroom. Karena ia mengitari satu persatu mobil hingga berulang kali, lalu test driver, mengabadikan semua momen itu dengan banyak gaya.
Dari gaya bibir monyong, gaya orang mau pinjam uang, gaya nyengir kuda, gaya cicak nempel di dinding, dan masih banyak lagi gaya lainnya. Sampai karyawan yang memfoto geleng-geleng kepala.
Setelah satu jam, akhirnya Siska menjatuhkan pilihannya pada sebuah mobil Honda CR-Z, yang harganya sekitar lima ratusan juta.
Setelah, melengkapi administrasi dan kelengkapan lainnya. Akhirnya Siska bisa membawa pulang mobil itu.
"Terima kasih, om. Sudah mengantarkan Siska. Akan ada bonus dari ku, karena om telah berbaik hati. Tunggu kedatangan Siska malam nanti ya." ucap Siska sebelum berpisah dengan pelanggan jasanya yang setia.
"Tentu saja. Awas ya kalau kamu sampai tidak datang." laki-laki itu mengerling nakal.
Mereka pun akhirnya berpisah. Siska memasuki mobilnya.
__ADS_1
"Huh. Akhirnya, keinginan ku untuk membeli mobil mewah kesampaian juga. Ternyata ada untungnya kemarin aku menikah itu. Hahaha, terima kasih suami dan ibu mertua yang baik." gumamnya, lalu mulai melajukan mobilnya.
**
Doni turun dari mobilnya, dan berjalan dengan langkah gontai menuju teras rumah.
"Doni. Apa yang terjadi? Kenapa mobilmu sampai seperti itu? Lalu kenapa tidak diperbaiki sekalian?" Bu Mirna mencecar anaknya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Doni. Kenapa kamu diam saja?" Bu Mirna mengikuti langkah anaknya yang ternyata duduk di sofa depan televisi.
"Ambilkan Doni minum Bu." lirih Doni.
"Kamu, ditanya bukannya di jawab, malah menyuruh ibu mengambilkan minuman." gerutu Bu Mirna kesal. Lalu menghempaskan tubuhnya di sofa sebelah Doni.
"Ibu jangan dekat-dekat Doni dong. Kaki ku baru sakit nih." Doni meringis menaikkan bagian bawah celananya. Untuk memperlihatkan luka pada ibunya.
"Hah, i-ini Don?" Bu Mirna membulatkan mata dan mulutnya menganga, melihat luka di kaki anaknya.
"Terjepit pintu, Bu."
"Kok bisa?"
"Sewaktu naik, kakinya yang satu lupa belum aku naikkan. Jadilah terjepit."
Bukannya bersedih, bu Mirna justru tertawa terbahak-bahak mendengar alasan konyol anaknya.
__ADS_1
"Dasar bocah sableng. Ada-ada saja kelakuan mu." ucap Bu Mirna disela-sela tertawa.
"Bu, aku lagi sakit dimintain ambil minum tidak mau. Ini malah tertawa terbahak-bahak sambil mengatakan anaknya seperti itu." gerutu Doni kesal dengan ibunya.
Hari itu sepertinya menjadi hari sial bagi Doni. Bukannya mendapatkan pekerjaan, justru apes berkali-kali.
Akhirnya dengan langkah gontai, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman sendiri.
Terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. Bu Mirna menghentikan tawanya. Lalu kepalanya melongok melihat siapa yang datang.
"Wow, ada mobil mewah berhenti di rumah ku. Mobil siapa ya kira-kira? Mudah-mudahan saja itu adalah temannya Doni. Mau menjenguk dan bawa oleh-oleh." Bu Mirna dengan semangat bangkit dari duduknya dan menyambut para tamu yang sepertinya baru saja keluar dari mobil.
"Permisi, Bu." ucap seorang laki-laki yang umurnya hampir sama dengan Bu Mirna.
"Iya, pak. Ada yang bisa saya bantu? Apa bapak dan ibu mau menjenguk anak saya yang sedang sakit?"
Tamu yang terdiri dari seorang laki-laki dan wanita berumur setengah abad, seorang laki-laki dan perempuan yang umurnya ditaksir sekitar tiga puluhan tahun, dan seorang anak kecil berumur sekitar lima tahun, terlihat saling beradu pandang.
"Perkenalkan, saya pak Darma. Ini istri, anak, menantu dan cucu saya. Kedatangan kami kesini hanya ingin melihat-lihat kondisi rumah ini."
"Oh, mau lihat-lihat rumah saya ya. Apa mau didaftarkan bantuan sosial?" Bu Mirna bertanya dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.
"Oh, bukan Bu. Kami ingin melihat-lihat, karena rumah ini memang sudah dijual pada kami. Dan saya ingin menghadiahkan rumah ini untuk anak dan menantu kami." ucap pak Darma.
"Apa! Dijual?" seru Bu Mirna, sambil membulatkan matanya.
__ADS_1