Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
81. Vonis dokter


__ADS_3

Seminggu lagi hari pernikahan Mahes dan Mala. Seluruh undangan telah disebar.


Di kediaman masing-masing, mulai di pasang tenda. Keamanan disekitarnya mulai disterilkan. Untuk menghindari kemungkinan buruk yang terjadi.


Selama seminggu Mala tidak lagi ke kantor. Sebagaimana umumnya, seorang wanita yang akan menikah, melalui masa di pingit.


Semua urusan kantor, kembali ia percayakan pada Bu Ningrum. Tentunya Mala juga memberi bonus tersendiri bagi wanita yang telah berjasa besar dalam hidup dan keluarganya.


Sebenarnya Bu Ningrum sudah menolak menerima bonus itu. Tapi Mala dengan kukuh memberikannya.


**


Sedangkan Mahes. Laki-laki itu masih keluar masuk perusahaan dan rumah sakit. Berkat bantuan Bu Dewi semua terasa lebih cepat diselesaikan.


Mulai hari ini, ia juga tidak ke kantor lagi. Ia tengah duduk di balkon sambil melihat layar laptopnya. Ia memastikan rencana pernikahannya berjalan dengan lancar.


**


Doni benar-benar tidak mau menerima Siska kembali. Wanita itu kini tinggal di sebuah kost-kostan yang kecil.


Sengaja ia memilih kost-kostan yang kecil, murah dan yang penting tidak merasa sendiri. Karena di samping kanan dan kirinya ada penghuni kost lain.


Apartemen dan mobil mewahnya sudah ia jual untuk biaya berobat setiap minggunya. Sedangkan sisanya, ia simpan untuk kebutuhan sehari-hari. Karena ia bingung mau bekerja apa, di tengah-tengah sakit yang melanda dirinya.


**


Sedangkan di tempat lain, sakit Doni semakin parah. Karena ia jarang berobat. Uang yang ia miliki hanya cukup untuk makan. Bila ada sisanya, barulah ia membeli obat.


Bu Mirna sebenarnya juga mulai menaruh rasa kasian pada anaknya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa bekerja apa pun. Yang bisa dilakukan hanyalah menonton televisi.

__ADS_1


Hari itu Doni sengaja minta ijin libur. Karena kondisinya yang tak menentu. Ia ingin berobat.


Setelah menyelesaikan sarapannya. Ia berniat ke rumah sakit dengan mengendarai motornya. Karena mobilnya juga telah ia jual untuk biaya berobat.


"Pamit ya, Bu." Doni mengecup punggung tangan ibunya.


"Iya, hati-hati ya."


Doni mengangguk, lalu berjalan keluar. Ia mengendarai motornya menuju rumah sakit tempatnya biasa berobat.


Ia duduk di kursi antrian sembari menahan rasa sakit yang terasa menusuk sampai ke ulu hati. Sehingga membuatnya meringis.


Sekian jam berlalu, akhirnya tiba juga gilirannya. Ia berjalan menuju ruangan dokter dengan langkah tertatih.


"Silahkan langsung berbaring di atas brankar." titah Dokter, yang sepertinya tahu dengan kondisi Doni yang tidak bisa di anggap remeh.


Dokter dan suster melakukan pemeriksaan pada bagian tertentu nya, sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf pak, kondisi bapak sudah sangat parah. Harus segera dilakukan tindakan yang tegas."


"Ap-apa maksudnya, dok?" tanya Doni dengan suara yang bergetar karena ketakutan.


"Terpaksa kami harus memotong punya bapak."


"Apa!" Doni tersentak kaget.


Ia membulatkan matanya dan tangannya menutup mulutnya yang terbuka. Sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya kuat. Tidak percaya dengan apa kata dokter.


"Apa tidak ada jalan lainnya, dok?" Doni mencoba bernegosiasi dengan dokter. Tapi pria berjas putih menggeleng lemah.

__ADS_1


"Kenapa secepat ini, dok? Padahal baru beberapa bulan saja kan saya menderita penyakit ini?"


"Memang penyebarannya sangat cepat, pak. Apalagi memang jarang berobat dan tidak menjaga kebersihan badan."


Doni menitikkan air mata. Ia sulit menerima takdir yang digariskan Tuhan untuknya.


Apa pun yang terjadi, kali ini ia bertekad dengan sungguh-sungguh untuk bisa menemui mantan istrinya. Untuk meminta maaf dengan tulus. Agar penyakitnya segera di angkat Allah. Karena setiap ingin bertemu dengannya selalu saja ada halangan nya.


"Jika bapak berkenan, kami akan segera membuatkan surat persetujuan yang harus bapak tandatangani sebelum melakukan operasi. Agar tindakan itu bisa segera dilakukan."


"Tunggu, dok. Ada suatu hal yang harus saya lakukan sebelum melakukan operasi itu. Jika saya sudah siap, saya akan mengabari dokter."


Doni sengaja berbohong pada dokter. Karena tidak memiliki uang. Jangankan untuk operasi, untuk berobat saja harus berpikir-pikir dulu.


"Baiklah, saya tunggu kabar bapak secepatnya. Agar penyakit itu tidak semakin meluas. Yang justru akan membahayakan nyawa bapak."


"Baik, dok."


Setelah menebus resep, Doni melajukan motornya menuju kediaman Mala. Hari ini harus bisa mendapatkan maaf darinya.


Doni menajamkan penglihatannya, ketika dari kejauhan terlihat mobil yang terparkir di jalan. Suara gamelan khas Jawa mengalun merdu. Mirip seperti suasana pernikahannya dulu dengan Mala.


Dan ketika mengingat tentang pernikahan, jantungnya langsung berdegub kencang. Bibirnya semakin memucat.


Sangat kontras dengan warna kulitnya yang berubah menghitam dan kusam. Bahkan dibeberapa bagian wajahnya juga ditumbuhi jerawat.


Badannya semakin kurus, seperti orang tidak terurus. Bau keringat menempel ditubuhnya sepanjang hari.


Sangat jauh berbeda dengan Doni yang dulu. Doni yang berpenampilan rapi, wangi dan kulitnya putih bersih.

__ADS_1


__ADS_2