Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
66. Tes seleksi


__ADS_3

"Minggir, aku duluan." ucap Doni. Ia menyikut lengan temannya, agar bisa keluar dari lift yang paling awal.


Ia melenggang dengan penuh semangat. Security yang mengantarkan sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah absturd nya.


Tok... Tok... Tok


Security mengetuk pintu. Dan tak lama kemudian, terdengar jawaban yang mempersilahkannya untuk masuk.


"Kalian tunggu sebentar." titah security sebelum melangkah masuk.


Doni pun menghembuskan nafas kasar, karena sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan direktur.


"Permisi bu. Semua peserta tes sudah siap, dan kini berada di luar ruangan." ucap security setelah sempat membungkukkan badan memberi hormat pada atasannya.


"Terima kasih pak. Suruh masuk saja mereka sekarang." balas direktur.


"Baik, Bu." security keluar, dan tak lama kemudian masuk bersama para peserta tes.


Rombongan orang yang berseragam hitam putih itu berbaris rapi menghadap ke meja direktur.


Dan alangkah terkejutnya Doni ketika melihat siapa yang duduk di singgasana.


"Mala." gumamnya spontan sambil membulatkan matanya dan mulutnya menganga.


Mala juga cukup kaget melihat mantan suaminya berdiri bersama para peserta tes.


Keduanya sama-sama tak percaya, bisa dipertemukan dengan kondisi seperti itu.


Sesaat kemudian, Mala bisa menguasai dirinya. Untuk tidak terlalu menunjukkan rasa terkejutnya.


Jauh berbeda dengan Doni. Segala angan-angan yang tadi sempat menari indah di kepala mendadak menguap.

__ADS_1


Ia takut jika dirinya akan dipermalukan oleh mantan istrinya itu.


Security segera memukul tangan Doni, yang membuatnya mengasuh kesakitan. Karena bersikap tidak sopan dengan pimpinan.


"Aduh, apa-apaan sih pak. Main pukul saja." ucap Doni sambil memegangi tangannya yang terasa sedikit sakit.


"Kamu yang apa-apaan. Tidak sopan dengan pimpinan. Panggil dengan sebutan 'bu Mala'. Jangan cuma nama saja." tegas security.


"Dia itu kan istri ku, pak. Terserah aku dong mau memanggilnya apa." Doni mulai lepas kendali.


Mala hanya bisa geleng-geleng kepala. Merasakan sifat suaminya yang tidak bisa berubah.


Dulu di mata Mala, sikap latah Doni di anggap sesuatu yang lucu. Tapi sekarang semua berubah. Kata 'lucu' berganti menjadi 'muak'.


"Sembarangan kalau bicara. Bu Mala sudah punya suami yang baik hati." ucap security asal. Karena tidak percaya dengan ucapan Doni, makanya ia sengaja membohonginya.


Sementara para peserta tes lainnya saling beradu pandang dengan mimik wajah bingung. Security segera menyuruh mereka untuk diam, dan berbaris yang rapi.


'Kenapa semua jadi seperti ini sih? Bisa-bisanya aku melamar pekerjaan di kantor mantan istri ku. Apa kata dunia?' batin Doni dengan raut wajah tak enak.


"Siap, bu." balas mereka kompak.


Doni ikut menjawab, tapi pandangannya tetap tertuju pada Mala yang duduk santai di kursi singgasananya.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada kalian, atas antusiasme yang kalian tunjukkan.


Tapi untuk terus mendukung perusahaan ini agar bisa berkembang dengan pesat, kami memerlukan tenaga kerja yang memiliki skill dan attitude yang baik. Maka dari itu, kami mengadakan tes seleksi ini.


Nah, mulai sekarang, kepala HRD akan di bantu langsung oleh direktur utama untuk menyeleksi calon karyawan.


Dan untuk susunan tes, akan dibimbing oleh kepala HRD. Terima kasih." ucap Bu Ningrum mengakhiri percakapannya.

__ADS_1


Kini giliran kepala HRD yang membimbing peserta tes. Mereka dipersilahkan duduk untuk mengerjakan tes tertulis, tes buta warna, dan beberapa tes lainnya. Hingga akhirnya tes yang paling membuat mereka sedikit minder, yakni tes wawancara.


Satu persatu peserta menghadap ke arah kepala HRD, asisten direktur, dan direktur utama itu sendiri. Sementara peserta lainnya dipersilahkan menunggu di luar.


Doni semakin merasa minder, karena rasa tidak percaya dirinya. Apa nanti yang akan dikatakan pada Mala.


"Saudara Doni." ucap security berulang kali. Tapi Doni masih saja diam dengan keringat dingin membanjiri wajahnya.


"Heh, giliran kamu." ucap teman yang duduknya bersebelahan dengan Doni, sambil menyikut lengannya. Hingga membuatnya tersentak kaget.


"Hah, a-aku?" ucap Doni sedikit tergeragap, dan temannya mengangguk.


"Kalau kamu ngaku suaminya Bu direktur, ya tenang saja, pasti diterima. Ngga perlu gemetaran seperti itu. Kecuali kamu tadi berbohong." sindir yang lain.


Doni menatap tajam ke arah temannya yang menghujat dirinya. Tapi ketika hendak melawan, security kembali memanggilnya, dan menyuruhnya segera masuk.


Doni pun akhirnya melangkahkan kakinya ke dalam dan menghadap para petinggi di kantor itu. Dengan muka tertunduk bak pesakitan, ia duduk di kursi di depan mereka.


"Saudara Doni Kusuma." ucap kepala HRD sambil menyocokkan dengan lembar data diri yang ia bawa.


"Iya pak." balas Doni singkat.


"Apa tujuan anda bekerja disini?" tanyanya lagi.


"Tentu saja untuk mendapatkan uang pak."


"Hanya itu?" imbuh Bu Ningrum.


"Memangnya apa lagi, Bu." balas Doni santai.


Niat utama seseorang dalam bekerja memang untuk mendapatkan penghasilan. Tapi juga harus dibarengi dengan niat yang bagus, yakni memajukan tempat kerjanya.

__ADS_1


Karena percuma saja seseorang hanya bekerja untuk mendapatkan uang, tapi tidak bisa bekerja dengan baik. Bukannya membawa kemajuan bagi perusahaannya, tapi justru malah mendatangkan kerugian bagi perusahaan tersebut." ucap Mala.


'Huh, sepertinya dia menyindirku. Sengaja ingin menjatuhkan ku, agar aku tidak diterima.' batin Doni geram.


__ADS_2