Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
111. Mengantar pesanan


__ADS_3

"Iya, Sis. Lumayan banyak belanja ku tadi. Jadi aku teriak panggil kamu, buat bantuin." ucap Doni, sambil menenteng belanjaan di kedua tangannya.


"Iya, mas. Tidak apa-apa." balas Siska. Tanpa di perintah, ia juga membawa barang belanjaan yang cukup banyak jumlahnya itu.


Keduanya hilir mudik memasukkan barang dagangan. Setelah selesai, Doni duduk sembari mengambil nafas. Karena ia merasa sangat capek.


Matanya mulai menyapu ke setiap sudut ruangan, yang sudah tampak rapi. Sayur untuk lalapan sudah di potong dan di cuci bersih. Cabai pun sudah berbentuk sambel dan di wadahi mangkok besar. Tidak hanya itu saja, ayam yang dibeli kemarin sudah di marinasi. Dan siap di goreng.


"Kamu, sudah menyelesaikan semuanya, Siska?"


"Tapi ayamnya belum saya goreng, mas. Ini rencananya mau saya goreng, tapi mas Doni sudah keburu memanggil saya. Jadi kompornya saya matikan dulu."


"Bagus sekali kerjamu, Sis." puji Doni dengan tulus.


Bahkan ia terlihat menyunggingkan senyum. Membuat Siska menundukkan kepalanya karena malu.


Padahal sebelumnya, Siska tak pernah memiliki sifat malu terhadap semua lelaki. Yang ada justru malah berani menggoda.


Doni senang melihat Siska yang menyembunyikan wajahnya karena mendengar pujian yang ia lontarkan tadi.


"Sekarang aku harus ngapain lagi, mas?" tanya Siska, untuk menghilangkan kecanggungan hatinya. Karena mendengar pujian yang dilontarkan sang bos.


"Bukan kah kamu sudah tahu harus mengerjakan apa saja? Masa masih tanya? Tadi aku tinggal kamu sudah mengerjakan semuanya sendiri juga."


Siska kembali tersenyum, karena sepertinya bos nya memujinya lagi.


"Jangan seperti itu, mas. Aku merasa tidak enak. Bagaimana pun juga aku disini cuma seorang karyawan kamu."

__ADS_1


"Ya sudah. Kamu lanjutkan yang memotong sayur saja. Setelah kering, nanti di bungkus plastik. Begitu juga dengan sambalnya. Ini, aku mau menggoreng ayam sembari memasak nasinya."


"Baik, mas." Siska mengangguk patuh, lalu membuka plastik yang berisi sayuran.


Gadis itu segera mengerjakan tugasnya. Begitu juga dengan Doni. Keduanya hanyut dalam pikirannya masing-masing. Dan berusaha menyelesaikan pekerjaannya agar cepat selesai. Karena pesanan itu, untuk makan siang para karyawan di tempat mbak Ima bekerja.


**


Hari berganti siang. Keduanya lebih cepat lagi mengerjakan pekerjaan mereka. Bahkan keduanya tak lagi memperhatikan penampilan masing-masing yang sudah tidak jelas bentuknya.


Di wajah mereka menempel tepung terigu. Baju mereka juga kotor terkena air, tepung, dan bumbu lainnya.


"Alhamdulillah, selesai." ucap Doni sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Siska pun melakukan hal yang sama. Padahal tangan keduanya tadi kotor dan menempel banyak minyak.


Setelah menghitung, keduanya segera memasukkan tumpukan dus makanan itu, ke dalam mobil.


Siska meraih tissue yang ada di dashboard mobil, lalu membersihkan wajah bos nya dengan tisu itu.


Doni sesaat tertegun, karena Siska memperlakukannya dengan sangat manis. Yang membuat sisi hatinya menyangkal, jika dia adalah wanita yang tidak baik.


"Terima kasih." ucap Doni, setelah Siska selesai membersihkan wajahnya.


"Giliran aku yang membersihkan wajah mu." ucap Doni, sembari mengambil selembar tissue di tangan kiri Siska, dan berniat menyapukan ke wajah gadis dihadapannya.


"Tidak perlu, mas. Nanti kamu bisa terlambat. Ini orderan pertama kita dalam jumlah banyak. Jangan sampai mengecewakan pelanggan. Aku juga mau menggoreng daging lagi. Sebelum pembeli berdatangan."


"Jangan lupa makan dan istirahat dulu. Pesanan ini sudah cukup untuk menggaji mu hari ini." teriak Doni sembari masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Siska membalikkan badannya, lalu mengangguk patuh dan diiringi senyuman.


Di dalam kedai, sesuai perkataannya tadi, Siska kembali mengerjakan tugasnya. Agar jika ada pembeli, tidak begitu menunggu lama.


Sedangkan di dalam mobil, Doni mengusap wajahnya pelan. Ia membayangkan tadi saat Siska membersihkan wajahnya dengan tisu. Karyawannya itu sangat perhatian padanya.


"Beruntung sekali laki-laki yang menjadi pacarnya." gumam Doni tanpa sadar. Lalu menarik senyuman di wajahnya.


"Oh iya, aku baru ingat. Siapa laki-laki berwajah sangar kemarin itu ya? Kenapa Siska tidak mau berterus terang padaku. Apalagi kemarin dia sempat bilang sakit. Dan sekarang terlihat biasa saja." gumam Doni.


Pemuda itu terpaksa menghentikan pikirannya yang terus berkelana tentang Siska. Karena sekarang ia sudah berada di depan sebuah gedung yang tinggi besar dan terlihat mewah.


Ia segera turun dari mobil, dan bertanya dengan seorang security yang berada di pos satpam.


"Permisi, pak. Maaf mau tanya, benar kah ini perusahaan Sadewa grup?"


"Iya mas, benar. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya kesini mau mengantarkan pesanan nasi box, atas nama mbak Ima. Katanya, dia menjabat sebagai manager keuangan di kantor ini, pak."


"Oh iya. Sebentar saya telepon kan ya."


Security itu menghubungi mbak Ima dengan menggunakan telepon.


"Tunggu sebentar ya, mas. Sebentar lagi, orangnya turun."


"Baik, pak. Terima kasih." ucap Doni ramah, ia pun duduk di kursi depan pos sambil mengibaskan tangannya karena sangat kegerahan.

__ADS_1


__ADS_2