Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
138. Melahirkan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malamnya, Mala dan Mahes membereskan dan mencuci piring bersama. Barulah setelah selesai keduanya kembali ke kamar.


Mahes memang belum bisa tidur. Karena perutnya kekenyangan. Dulu Mala tak bisa memasak. Setelah diajari Mahes, sekarang ibu hamil itu jago memasak. Rasa masakannya, membuat Mahes ingin tambah lagi. Seperti tadi saat keduanya makan.


Sesuai janjinya tadi, Mahes memijit badan Mala. Agar wanitanya itu tidak kecapaian. Tapi, lama-kelamaan justru membuat Mahes tergoda juga.


Karena istrinya itu memakai pakaian yang tembus pandang. Di tambah, selama hamil ia tidak pernah memakai pakaian dalam. Sehingga badannya terekspos sempurna.


Tangan yang tadinya bisa memijit enak. Kini justru mulai bergerilya, menjelajah kemana-mana. Perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri, dan mengeluarkan kata-kata yang romantis. Lalu mengecup bagian wajah istrinya, dan semakin dalam.


"Sayang, aku ingin itu." ucap Mahes dengan suara parau.


Mala tak bisa menolak ajakan suaminya untuk berhubungan. Karena itu adalah salah satu mood booster bagi suaminya agar semangat dalam bekerja.


Mala tidak menjawab, tapi justru mengalungkan tangannya di leher suaminya. Pertanda ia siap melayani suaminya.


Walaupun ia kembali merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia percaya dengan melayani suaminya, rasa sakit di badannya bisa menghilang. Seperti yang sudah-sudah.


Mahes sangat senang, karena meskipun istrinya itu tengah hamil. Tapi bisa melayaninya dengan baik.


Laki-laki itu tak menyia-nyiakan kesempatan, ia mulai melancarkan aksinya lebih dalam lagi. Perlahan ia mulai membuka satu persatu kain yang menutupi badannya dan badan sang istri.


Pemanasan yang keduanya lakukan, sepertinya sudah cukup. Keduanya kini mulai tenggelam dalam satu selimut. Posisi Mala berada di bawah kukungan Mahes.


Pria itu menatap lekat wajah Mala yang kian cantik bersinar. Sebelum menancapkan senjata andalannya. Keduanya saling mengulas senyum, lalu Mahes merapatkan seluruh tubuhnya ke sang istri.

__ADS_1


Arghh...


Mahes refleks menjauhkan badannya dari sang istri, karena mendengar jeritannya. Padahal ia belum memasukkan senjatanya.


"Maaf sayang, apakah perut mu terlalu aku tekan." Mala menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Aku juga tidak tahu, mas. Seharian ini perut ku mulas, badan ku juga pegal-pegal . Makanya tadi aku minta kamu buat pijitin aku."


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu dan bayi kita."


Mahes harus rela mengesampingkan keinginannya, demi orang yang dicintainya. Pria itu mencari kaos yang tadi ia buang sembarangan. Lalu mencari baju daster untuk Mala, dan memakaikannya.


"Ayo sayang, kita ke rumah sakit." Mahes mengangkat tubuh istrinya.


Namun seketika wajahnya langsung memerah. Karena badan istrinya amat berat.


Setelah berhasil memasukkan istrinya di mobil, Mahes langsung menghirup nafas berulang kali. Badannya juga berkeringat seperti habis berolahraga.


Mahes melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Sehingga tak kurang dari setengah jam, ia sudah sampai di pelataran rumah sakit.


Bergegas ia keluar dari mobil, lalu membuka pintu mobil di samping Mala, dan kembali mengangkat tubuh istrinya.


Melihat direktur mereka mengangkat tubuh istrinya yang berbadan dua, para perawat rumah sakit berhamburan mendekat.

__ADS_1


Mereka membawa brankar dorong, dan menyuruh Mahes untuk meletakkan Mala disana.


Lalu mereka dengan langkah lebar dan cepat, berjalan menuju ruang IGD. Mahes pun ikut masuk. Karena tidak ada perawat yang berani melarangnya.


Dokter melipat kaki Mala, lalu melihat ke jalan lahir. Tangan dokter wanita itu terulur masuk ke dalam jalan lahir itu. Mahes pun membulatkan matanya.


"Dokter, apa yang anda lakukan?" protes Mahes dengan suara yang keras, sehingga membuat beberapa perawat yang ada di ruangan itu terlonjak kaget.


Mahes tidak terima. Karena benda kesayangannya yang selalu memberinya kenikmatan, tengah di masuki oleh orang lain.


"Maaf, pak. Tapi memang beginilah cara mengecek kondisi ibu yang mau melahirkan." Dokter kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Ini sudah pembukaan delapan. Sebentar lagi ibu Mala akan segera melahirkan, pak. Suster, tolong siapkan seluruh peralatannya." titah dokter.


Mahes membulatkan matanya, dan mulutnya menganga. Mendengar istrinya akan melahirkan.


Pria itu lebih mendekatkan diri pada Mala. Ia membelai pucuk kepalanya dengan lembut dan memegang salah satu tangannya.


"Sayang, kamu pasti kuat. Kamu adalah wanita hebat ku." ucap Mahes memberi semangat.


Beberapa menit kemudian, dokter kembali memeriksa. Mahes yang melihat hal itu, sebenarnya tidak bisa terima.


Tapi mau bagaimana lagi, karena itu satu-satunya cara untuk mengecek kondisi ibu yang hendak melahirkan.


"Ibu, pembukaan sudah lengkap ya. Saatnya kita mulai kerja sama kita. Ibu tarik nafas dalam-dalam, lalu lihat ke bawah sambil mengejan." instruksi dokter.

__ADS_1


__ADS_2