
Doni keluar dari ruangan dokter dengan gontai. Rasanya ia sudah tidak bersemangat untuk hidup. Cobaan selalu datang silih berganti.
Padahal ia sudah berniat untuk meminta maaf pada mantan istrinya, agar Tuhan berhenti menghukumnya. Tapi rupanya niatnya itu belum juga terwujud.
Doni memilih pulang, setelah menebus obat. Dalam kondisi seperti itu, ia tidak mungkin untuk mencari kerja. Biarlah sampai rumah nanti diomelin ibunya.
Doni memacu kendaraannya dengan pelan. Timbul keinginan dihatinya untuk mengakhiri hidupnya. Karena merasa tidak kuat dengan berbagai cobaan yang menimpanya.
Tapi ada secuil rasa kasian pada ibunya. Pasti wanita itu akan merasa sangat kesepian. Karena tak memiliki seorang anggota satu pun juga.
Ketika mobilnya berhenti di lampu merah, ada seorang ibu yang membawa anaknya sambil mengamen. Wajah keduanya sangat lusuh, karena terkena sengatan matahari sepanjang hari.
Ketika keduanya menghampiri Doni, entah kenapa kali ini hatinya begitu iba. Tidak menghardik seperti biasanya, dan justru memberi selembar uang kertas dua ribuan. Yang kebetulan ada di dashboard nya.
Walaupun hanya di beri dua ribu rupiah saja, ibu dan anak itu mengucapkan terima kasih dan mendoakan Doni.
Laki-laki itu begitu terenyuh, hingga tak sadar matanya sampai berkaca-kaca.
Lampu berganti warna hijau. Kendaraan kembali melaju. Setelah setengah jam akhirnya ia sampai rumah.
Ketika masuk rumah, seperti biasa, ia di sambut dengan pemandangan ibunya yang tengah menonton televisi. Karena hanya hal itu yang bisa ibunya lakukan.
"Lhoh, Don. Kok sudah pulang? Gimana hasilnya? Diterima dimana?" cerca Bu Mirna dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Ia ikut masuk ke kamar anaknya, karena Doni tak kunjung menjawab.
__ADS_1
"Doni. Ibu tuh capek banget lihat kamu yang sekarang. Ngga ada semangat nya sama sekali. Di tanya orang tua tidak segera di jawab. Padahal dulu itu kamu anak yang begitu penurut. Apalagi sama, ibu."
"Doni capek, Bu jadi anak penurut. Bukannya hidup tambah enak dan mapan. Tapi malah berantakan. Dan akhirnya kena penyakit menular."
"Hah, apa maksud kamu berkata seperti itu pada ibu? Mau kamu ibu sumpahin jadi Malin Kundang? Dan, ma-maksud kamu penyakit menular itu apa?" masa bicara Bu Mirna yang tadi kencang, berubah melunak.
Tampak wanita itu mengernyitkan dahi sambil berpikir. Doni membekap mulutnya, karena keceplosan bicara.
"Jawab, Don." Bu Mirna mengguncang lengan anaknya.
"Don-Doni terkena penyakit kelamin, Bu." lirih Doni sambil tertunduk.
"Apa! Kamu sering jajan di luar ya?"
"Oh, ibu tahu. Pasti semua ini gara-gara Siska. Dia pasti bukan perempuan baik-baik. Dan apa yang ibu lihat dulu saat makan di dekat toko emas, itu pasti beneran Siska. Kita sudah kena tipu habis-habisan, bangkrut, sampai mengontrak. Eh, ini malah masih disisakan satu, yaitu penyakit menular. Menyesal sekali rasanya punya menantu seperti dia. Tahu gitu sabar saja nunggu Mala sampai meninggal."
"Ibu. Jangan pernah mendoakan Mala seperti itu." tegas Doni.
"Tapi salahkan ibu sendiri, kenapa menyuruh anak ibu untuk memanfaatkan wanita. Akhirnya Tuhan tak terima, dan menghukum kita seperti ini.
Sebelum Tuhan semakin murka pada kita, ayo kita tobat sama-sama. Siapa tahu setelah kita bertobat, kehidupan akan kembali membaik.
Walaupun tidak bisa sama persis seperti sebelumnya. Setidaknya bisa membuat hati kita lebih tenang.
__ADS_1
Ibu, hanya ibu satu-satunya harta terbesar Doni di dunia ini. Aku ingin selalu bersama ibu." Doni memeluk tubuh ibunya. Tapi wanita itu masih diam mematung, tidak menunjukkan reaksi apapun.
**
Di lain tempat, Siska tengah merasakan hal yang sama. Seperti yang dirasakan Doni. Karena hal itu sangat menggangu saat beraktivitas, akhirnya mau tak mau ia memeriksakan diri.
Dia datang ke rumah sakit milik Mahes. Lalu segera menuju ke ruangan dokter. Senyum mengembang di wajah dokter dan perawat menyambut kedatangan wanita yang kini tengah berpakaian cukup tertutup. Tidak seperti biasanya.
"Silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu?" tawar dokter dengan ramah.
Siska tersenyum untuk menghilangkan kegugupannya, lalu mulai menceritakan semuanya yang ia alami pada dokter.
"Baiklah, mari kita lakukan pemeriksaan. Semoga hasilnya baik-baik saja. Mengingat pengidap kasus penyakit kelamin, akhir-akhir ini selalu meningkat jumlahnya." ujar sang dokter yang membuat Siska sedikit takut.
Ia menghirup nafas dalam-dalam, mencoba untuk rileks. Walau sebenarnya ia merasa risih ketika dokter dan perawat memeriksa di bagian tubuh bawahnya. Padahal biasanya di bagian itu, ia memanjakan para pelanggannya.
Dokter mempersilahkan Siska kembali duduk, setelah selesai memeriksa. Lalu ia mulai menjelaskan tentang penyakit yang di derita oleh wanita yang ada dihadapannya.
"Apa! Saya menderita penyakit kelamin?" Siska membulatkan matanya, karena sangat terkejut.
"Iya, Bu. Dan sepertinya sudah cukup parah. Maka dari itu, saya harap ibu bisa meninggalkan pekerjaan ibu. Agar tidak menular ke yang lainnya. Dan juga ada harapan agar ibu bisa cepat sembuh."
Pekerjaannya yang tidak halal, mengantarkan Siska pada suatu hal menakutkan. Dan kini demi keselamatannya, ia harus meninggalkan pekerjaan yang telah memberinya banyak uang.
__ADS_1