Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
126. Teka-teki Bu Mirna


__ADS_3

Bugh...


Tetangga Bu Mirna yang baru saja dari rumah Bu Mirna menubruk tetangganya. Hingga keduanya terjatuh.


"Aduh, ada apa sih Bu? Main tubruk-tubruk saja." gerutu orang yang di tabrak tetangga Bu Mirna tadi.


"Bu, di dalam rumah kontrakan Bu Mirna sepertinya ada hantunya."


"Apa! Yang benar kamu? Jangan asal tuduh, nanti jatuhnya fitnah. Kasian yang punya kontrakan kan? Bisa-bisa tidak ada yang mau mengontrak di rumah itu."


"Aku tidak asal menuduh. Tadi aku ke rumah itu mau memberi makanan aqiqah. Berulang kali aku ketok pintu sampai tenggorokan ku kering, tetap tidak ada jawaban. Waktu aku gerakkan pintu, ternyata pintunya tidak di kunci. Aku masuk ke dalam dan berniat makanan itu di meja, tapi tiba-tiba aku dengar suara orang batuk. Kan serem jadinya, lalu aku lari sekencang-kencangnya."


"Mungkin itu suara Bu Mirna."


"Tapi kenapa aku panggil tidak menjawab?"


"Kita panggil pak RT saja kalau begitu. Aku juga tidak berani kalau cuma berduaan."


"Halah. Kamu juga sama penakutnya. Ya sudah, ayo kita ke rumah pak RT sekarang."


Akhirnya kedua tetangga Bu Mirna yang saling bertubrukan itu berjalan menuju ke rumah pak RT. Sesampainya di rumah yang dituju, keduanya segera menceritakan apa yang terjadi.


Mereka bertiga berjalan dengan cepat menuju rumah kontrakan Bu Mirna. Si ibu yang di rumahnya menyelenggarakan aqiqah tadi, juga sudah mengirim pesan pada tetangga yang tengah berkumpul di rumahnya, untuk menuju ke rumah Bu Mirna.

__ADS_1


Mereka pun bertemu di jalan tengah desa, dan berjalan beriringan menuju rumah Bu Mirna.


"Silahkan, pak RT. Anda masuk terlebih dulu."


"Kenapa harus saya?"


"Ya karena bapak yang jadi ketua RT di sini. Kalau saya yang jadi ketua RT nya, saya juga bakal maju duluan." seloroh salah satu warga.


Mau tak mau pak RT juga mengikuti keinginan warganya. Ia menghirup nafas panjang, lalu mulai memegang knop itu.


Ada rasa takut yang teramat sangat, ketika baru memegang pintunya saja. Suasana rumah Bu Mirna memang terlihat semakin angker saja.


Dengan mengumpulkan segenap keberanian, pak RT membuka pintu itu dan masuk. Para tetangganya tak sabaran saling dorong, masuk ke dalam rumah.


Kembali terdengar suara batuk, saat mereka semua sudah memasuki rumah. Sehingga membuat mereka terlonjak kaget dan berteriak kencang. Termasuk pak RT. Bahkan mereka mulai berdesakan ingin keluar, tapi segera di cegah oleh pak RT.


"Ayo kita cek satu persatu, seluruh ruangan di rumah ini. Jangan biarkan rumah ini menjadi rumah hantu." tegas pak RT. Barang siapa yang nekat keluar, akan saya denda seratus ribu."


Mendengar ancaman pak RT, semua warga yang berhimpitan ingin keluar, seketika mengurungkan niatnya. Pak RT pun lega, ancamannya berhasil.


Setelah itu, mereka bergerombolan mengecek satu persatu ruangan. Alangkah terkejutnya pak RT, ketika melihat Bu Mirna yang terbaring lemah di atas ranjang tempat tidurnya.


Dengan segenap keberanian, pak RT berjalan mendekati Bu Mirna dengan langkah kaki sedikit keder. Ia membayangkan jika Bu Mirna sudah meninggal seperti cara meninggalnya anaknya dulu.

__ADS_1


Beberapa warga yang mengikutinya juga was-was, takut sekaligus merinding saat berjalan mendekati Bu Mirna. Bahkan mereka sampai berjalan mengendap-endap.


"Bu, anda masih hidup kan?" Sebuah pertanyaan konyol, pak RT ucapkan pada Bu Mirna yang tergolek lemas di atas ranjang.


Mendengar berisiknya suara para tetangga, membuat Bu Mirna membuka matanya.


"Pak RT." lirih Bu Mirna, namun mampu membuat bulu kuduk mereka seketika berdiri.


Pak RT yang berada di dekat Bu Mirna pun menelan saliva dengan susah payah, ketika Bu Mirna memanggilnya.


"Anda masih hidup kan Bu?" ulang pak RT lagi.


Bu Mirna berusaha menyunggingkan senyum sambil menganggukkan kepalanya, yang terasa sungguh berat.


Lagi-lagi para warga merasa takut sekaligus merinding, melihat senyuman di wajah Bu Mirna. Ingin kabur saja, tapi teringat denda seratus ribu yang akan mereka terima, jika berani melanggar ucapan pak RT. Akhirnya mereka tetap berada di posisi masing-masing.


Pak RT lebih mendekat, dan tangannya bergerak pelan untuk mengecek pergelangan tangan Bu Mirna. Masih berdenyut urat nadinya.


Lalu ia beralih mengecek nafas di hidung Bu Mirna, dengan mendekatkan jarinya. Ia bisa menghirup nafas sedikit lega, karena masih terasa angin semriwing keluar dari hidung Bu Mirna. Walaupun itu sangat pelan.


"Aman, Bu Mirna masih hidup. Kita harus membawanya ke rumah sakit terdekat. Agar segera mendapat pertolongan." ucap pak RT, dengan raut wajah sedikit lega.


Beberapa warga yang ada di ruangan itu mengusap dadanya sambil menghirup nafas lega juga.

__ADS_1


"Ayo, cepat angkat tubuh Bu Mirna." titah pak RT.


"Apa!" seru beberapa warga yang ada di ruangan itu kompak.


__ADS_2