Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
144. Saling memaafkan


__ADS_3

"Sampai kamu guling-guling atau menangis darah sekali pun. Aku tidak akan sudi memaafkan mu. Karena kamulah penyebab kematian anakku." tegas Bu Mirna.


"Bu, tidak baik menyimpan dendam. Yang sudah terjadi, biarlah untuk pelajaran bagi kita yang masih hidup. Dendam yang kita simpan di hati itu akan menjadi boomerang bagi kita. Kita tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang." nasehat Doni panjang lebar.


"Nak Doni, mungkin kamu tidak merasakan apa yang ibu rasakan. Hidup sendirian dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintai."


"Siapa bilang, Bu? Saya ini seorang yatim-piatu. Kedua orang tua saya meninggal beberapa bulan lalu, karena kecelakaan mobil. Dan yang lebih parahnya lagi, yang menabrak tidak bertanggungjawab. Saya coba untuk mengikhlaskan semuanya, Bu. Agar hidup saya tenang." tutur Doni panjang lebar.


Siska dan Bu Mirna yang mendengarnya terkejut.


Doni memang tidak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadinya pada Siska. Keduanya hanya bertemu untuk membicarakan masalah pekerjaan.


Sedangkan Bu Mirna, merasa tidak enak pada bos-nya, karena sudah menyinggung perasaannya. Ia pun meminta maaf.


"Maafkan saya nak Doni. Sungguh ibu tidak berniat menyinggung perasaan mu. Tadi ibu hanya berniat meluapkan emosi pada wanita itu." Bu Mirna menendang Siska, hingga ia terjungkal.


"Bu, Siska sudah lebih dulu bekerja disini. Saya bisa melihat sikapnya yang baik."


"Halah, itu pasti hanya akal-akalan nya saja. Nanti kalau dia berhasil merebut perhatian mu, dia akan menguras habis hartamu. Lalu kamu ditinggal pergi dan kamu akan mendapat penyakit yang mematikan, seperti apa yang dialami oleh anakku."


"Tidak, bu. Siska beneran sudah berubah. Aku sungguh-sungguh bekerja, bukan untuk mendekati laki-laki. Lagian, aku juga tahu diri. Tidak ada laki-laki yang mau dengan wanita penuh dosa seperti ku."

__ADS_1


"Hem, bagus itu. Akhirnya kamu sadar diri juga." Bu Mirna menaikkan sebelah sudut bibirnya dan melirik Siska sejenak dengan sinis.


"Iya, bu. Sekarang Siska mohon, maafkan atas segala kesalahan Siska yang dulu. Siska juga ingin ziarah ke makam mas Doni, Bu. Tolong tunjukkan makamnya." Siska menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan bermimpi kamu. Tidak akan pernah aku menunjukkan tempat peristirahatan terakhir anakku."


"Bu, ingat. Allah saja maha pemaaf. Kita seharusnya juga bisa bersikap seperti itu." tegas Doni.


"Bu, saya tidak tahu bagaimana kisah kalian berdua di masa lalu. Tapi, sekarang ya sekarang. Kita hidup di masa sekarang. Berhenti mengungkit masa lalu. Dan jalani kehidupan di masa sekarang dengan lapang dada. Berdamailah dengan keadaan. Pasti almarhum anak dan suami anda akan sangat bahagia di akhirat sana. Saya juga pasti akan sangat senang dan bersyukur, memiliki karyawan yang baik hati." imbuh Doni lagi.


Mendengar nama anak dan suaminya di sebut, Bu Mirna seketika terdiam. Ia jadi teringat bagaimana kelakuan anaknya dan kelakuannya sendiri pada Mala. Tapi wanita itu dengan ikhlas memaafkannya dan mengampuni kesalahan Doni. Bahkan di pertemuan terakhirnya, Mala juga memberikan uang dan makanan padanya.


"Tenang ya, bu. Doni yakin, pasti ibu bisa memaafkan kesalahan Siska. Lakukan semuanya demi kebaikan bersama. Doni akan bantu ibu melupakan semua kenangan buruk di masa lalu. Asalkan ibu juga mau memberi ruang di hati untuk menerima apa adanya yang sudah digariskan oleh Allah." Doni mengusap pelan punggung Bu Mirna.


Wanita itu menatap Doni cukup lama. Ia merasakan kehadiran putranya dalam diri bos-nya. Hingga akhirnya Bu Mirna menganggukkan kepalanya.


"Apa itu artinya ibu sudah memaafkan Siska?" Doni mempertegas.


"Iya." lirih Bu Mirna.


"Alhamdulillah. Doni senang melihatnya Bu." ungkap Doni dengan binar wajah bahagia.

__ADS_1


"Bu, be-benarkah ibu sudah memaafkan ku?" lirih Siska, sambil mendekati Bu Mirna. Dengan posisi masih bersimpuh dan memegang kaki Bu Mirna.


Bu Mirna menghirup nafas dalam-dalam sambil memandang Siska. Lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya."


"Ya Tuhan, terima kasih. Akhirnya ibu mau memaafkan ku." Siska kembali menangis dan menjatuhkan wajahnya tepat di kaki Bu Mirna.


Bu Mirna yang melihat hal itu, matanya mulai berkaca-kaca. Ia harap semoga Siska benar-benar bisa berubah.


Sedangkan Doni, yang melihat apa yang tengah dikerjakan Siska, bergegas menolongnya untuk berdiri. Dengan memegang kedua lengannya.


"Siska, jangan pernah kamu bersujud pada manusia. Tapi bersujud lah pada Allah. Ayo sekarang berdiri."


Siska menganggukkan kepalanya, lalu dengan cepat menghapus air matanya dan bangkit berdiri.


"Sebaiknya ibu dan Siska saling bersalaman. Karena seorang muslim itu dosa-dosanya bisa berguguran dari sela-sela jari tangannya, karena saling bersalaman."


Siska mengulurkan tangannya pada Bu Mirna. Namun wanita setengah abad itu menoleh ke arah Doni. Pemuda itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dan akhirnya Bu Mirna menerima uluran tangan Siska.


"Maafkan Siska ya, bu." ucap Siska untuk yang kesekian kalinya, sambil mencium punggung tangan Bu Mirna.

__ADS_1


__ADS_2