
"Aku mohon, mas. Maafkan aku. Aku akan ganti. Aku akan jual apartemen ku, dan kita bisa tinggal bersama di sini."
"Hei. Mobil mu kan bagus, tinggal juga di apartemen. Lalu apa lagi yang kurang? Sampai harus repot-repot mencari ku dan datang kesini." Bu Mirna menarik tubuh Siska agar menjauh dari anaknya.
Siska belum menjawab dan terlihat masih terisak. Ia bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, jika ia memiliki penyakit. Tapi, bukan kah itu tujuan utamanya datang menemui Doni? Agar ada yang merawatnya.
"Aku hanya ingin memperbaiki segala sesuatunya, mas."
Doni tetap pada pendiriannya, tidak ingin menerima Siska kembali. Baginya lebih baik ia hidup dengan ibunya. Jika ada ibunya, maka bertambah beban hidupnya. Sedangkan gajinya saja, hanya lima puluh ribu per hari.
"Tolong, pergi dari sini. Demi apapun aku tidak mau bertemu dengan mu lagi. Ayo Bu kita masuk." Doni merengkuh bahu ibunya, dan keduanya segera masuk rumah. Tak lupa mengunci pintunya. Agar Siska tak bisa masuk.
Siska terus menggedor pintu rumah, Bu Mirna. Tapi keduanya tak bergeming.
Matahari telah balik ke peraduan. Siska masih saja di situ. Mengharap belas kasih suami dan mertuanya. Kenapa ibunya dan dirinya harus mengalami nasib sepahit itu, batinnya.
Sampai malam kian larut. Karena di luar banyak nyamuk, ia masuk ke dalam mobilnya, dan tidur di sana.
Saat dini hari, Doni terbangun dan ingin pipis. Setelah selesai dari toilet, iseng ia membuka tirai jendela. Dan melihat Siska tidur di dalam mobil.
Ada sejumput perasaan bersalah menggelayuti hatinya, membiarkan seorang wanita tidur di luar. Tapi ketika mengingat kembali kelakuan Siska, rasanya ia muak. Kembali ia menutup tirai jendelanya dengan kasar.
**
Pada pagi harinya, di kediaman Mala. Wanita itu masih tertidur pulas. Karena beberapa hari pekerjaannya terasa menyita waktu.
Mahes setelah subuh datang ke rumah Mala. Ia ingin memberi kejutan untuk calon istrinya dengan membuatkan sarapan pagi untuknya.
Nasi goreng seafood, cumi goreng tepung asam manis, dan tumis brokoli. Ia olah sendiri. Bahkan ketika bibi ingin membantunya, tidak diijinkan.
__ADS_1
Para asisten rumah tangga itu begitu kagum dengan perbuatan Mahes, yang sangat mencintai majikannya.
Semua makanan telah selesai terhidang di meja. Tapi Mala belum juga turun. Tidak seperti biasanya. Sampai-sampai karena rasa kantuk yang menyerang Mahes, akhirnya ia tertidur di atas meja makan.
Selang sekian menit, Mala menggeliat bangun. Ia terkejut ketika sinar matahari mulai menyilaukan pandangannya.
Beranjak dari tidurnya, lalu menggosok gigi. Setelahnya ia keluar dari kamar, dan berjalan menuju dapur. Ia terkejut ketika melihat seorang laki-laki yang tertidur. Wajahnya tidak terlihat karena menelungkup di meja.
Dengan langkah mengendap-endap, ia mendekatinya.
"Mahes." gumamnya, ketika melihat laki-laki itu dari dekat. Lalu pandangannya beralih pada sederet makanan yang tersaji di atas meja.
"Apa dia kesini sengaja mau menumpang makan? Apa asisten rumah tangganya belum menyiapkan makanan untuknya? Kasian sekali."
"Mahes." Mala coba membangunkan laki-laki dihadapannya, dengan menggoyangkan tubuhnya pelan.
"Kamu pagi-pagi sudah kesini? Ada perlu apa? Makam bareng yuk, mumpung bibi sudah menyiapkan makanannya."
"Ha?"
"Ngga usah malu-malu. Kamu mau makan apa?" tawar Mala sambil menuangkan nasi goreng seafood ke piringnya. Lalu menambahkan acar timun yang segar.
Sedangkan Mahes, melihat itu semua dengan bengong. Karena yang menyiapkan itu semua adalah dirinya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Mahes, ketika Mala tengah mengunyah makanannya.
"Tentu enaklah. Kalau tidak, mana mungkin aku makan." kekeh Mala.
"Cobain saja. Kenapa kamu justru diam?"
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau masakan ku enak."
Uhuk... Uhuk
Tiba-tiba Mala tersedak saat mendengar ucapan Mahes. Ia meraih air putih yang ada didekatnya lalu meminumnya hingga tinggal separuh.
"Apa ma-maksud mu? Apa aku salah dengar?" Mala menyunggingkan senyum bingung, dengan dahi sedikit berkerut.
"Aku sengaja datang pagi-pagi kesini memasak ini semua untukmu. Tanya bibi saja kalau tidak percaya."
Wajah Mala memerah menahan malu. Ternyata persangkaannya salah besar.
"Tidak usah malu, ayo dilanjutkan lagi makannya. Katanya enak." ucap Mahes yang melihat perubahan di wajah Mala.
"I-iya. Kamu juga makan ya. Aku ngga enak kalau makan sendiri."
"Baiklah, aku juga makan. Karena penasaran dengan rasa masakan ku itu seenak apa. Sampai-sampai wanita dihadapan ku bilang, rasa masakannya seperti asisten rumah tangganya."
"Mahes." Mala kembali menunduk malu.
"Oh iya, boleh aku bicara sesuatu padamu?"
"Hem, katakan saja."
"Walaupun sebentar lagi kita akan menikah, kamu jangan terlalu sering kesini. Dan sebaiknya sementara waktu, aku bawa mobil sendiri ketika ke kantor. Karena tidak enak dan tidak etis saja. Aku takut kita berdua khilaf." ujar Mala lembut.
Mahes menghentikan suapannya, lalu menatap Mala.
"Terima kasih sudah diingatkan. Aku akan mengikuti nasehat mu. Karena memang benar adanya."
__ADS_1