
Hari persidangan terakhir akhirnya di gelar. Mala dengan ditemani oleh seluruh asisten rumah tangganya hadir ke pengadilan agama. Ia berjalan pelan tanpa tongkat.
Setelah sampai di ruang persidangan, tak lama kemudian sidang perceraiannya kembali di gelar.
Melihat bukti-bukti yang ada. Yakni, video asusila yang dilakukan di dalam mobil Mala oleh Doni dan Siska, video pernikahannya, dan juga video saat di rumah sakit, dimana Doni dan ibu mertuanya tidak mau merawatnya dengan baik, dan penggelapan uang amplop sumbangan saat kedua orang tua Mala meninggal. Menjadi bukti kuat untuk hakim memutuskan memisahkan Mala dan Doni. Yang terlampir dalam sebuah surat cerai.
Palu pun di ketuk oleh hakim, sebagai tanda Mala sudah bukan istri sahnya Doni lagi.
Para asisten rumah tangga Mala menghambur ke arah majikannya. Mereka memeluk erat Mala, dan menangis bersama.
Mala pun seketika ikut menitikkan air mata. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia. Akhirnya ia bisa selamat dari keluarga toxic seperti Doni dan ibunya.
"Alhamdulillah non. Allah masih sayang dengan Mala. Makanya dipisahkan dengan cara seperti ini." ucap bi Minah.
"Iya non, selanjutnya semoga Allah memberi jodoh yang terbaik untuk non Mala." imbuh bi Surti.
"Seperti mas Mahes non. Menurut bibi, dia laki-laki yang baik. Bibi bisa melihat kalau dia tulus menjaga non Mala. Buktinya dia mau menyamar menjadi pembantu untuk non Mala. Padahal dia adalah orang kaya." ucap bi Sumi.
Mala mengernyitkan dahi mendengar serentetan pernyataan yang keluar dari mulut para asisten rumah tangganya.
"Jadi, bibi sudah tahu sejak awal, kalau Mahes itu anak orang kaya yang menyamar menjadi pembantu di rumah kita?" ulang Mala sambil menatap asisten rumah tangganya bergiliran.
"Eh, iya non. Maaf, bibi kelepasan bicara." para asisten rumah tangga itu pun menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
Mala menggelengkan kepalanya. Ternyata asisten rumah tangganya diam-diam menyimpan rahasia itu. Tapi ia tak marah dengan mereka. Karena niatnya baik.
Setelah menandatangani beberapa berkas penting, dan sidang selesai di gelar, Mala mengajak asisten rumah tangganya untuk makan bersama di sebuah restoran mewah dan cukup terkenal. Sebagai wujud rasa syukurnya.
Mereka pun menyambut ajakan Mala dengan antusias. Wanita itu juga sengaja mengabari Bu Ningrum atas kabar perceraiannya yang telah selesai, dan menyuruhnya menyusul ke restoran yang akan di kunjungi Mala.
"Biar saya bantu non." dengan sigap Mahes mengangkat tubuh Mala masuk dan duduk di kemudi depan.
"Ya Allah Mahes." pekik Mala.
"Kamu itu kebiasaan sekali sih. Aku kan mau berlatih naik mobil sendiri. Kenapa kamu selalu menolong ku?"
"Habis saya gemes, non Mala ngga buru-buru masuk. Saya kan juga tak sabar ingin segera merayakan status baru non Mala."
"Oh, jadi kami senang lihat aku menjadi janda?"
Uhuk... Uhuk
Para asisten rumah tangga Mala pura-pura batuk, mendengar Mahes mengeluarkan kata-kata gombalnya.
"Mahes, ayo masuk." ucap Mala, tanpa mengindahkan perkataan laki-laki itu.
Walaupun sejujurnya dalam hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan Mahes.
__ADS_1
"Siap, non." Mahes pun segera masuk di kemudi depan, samping Mala.
Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Dan saat di perjalanan, Mala tanpa sengaja melihat Doni yang baru keluar dari sebuah perusahaan, dengan wajah tertunduk lesu.
'Akhirnya aku bisa berpisah dengan mu Mas.' batin Mala. Lalu menghapus air mata yang sedikit menggenang di pelupuk matanya.
Mobil akhirnya sampai di sebuah restoran mewah yang dimaksud. Mereka pun keluar dari mobil, dan berjalan pelan masuk ke dalam. Karena memang langkah mereka menyeimbangi langkah Mala yang masih sangat pelan.
Mala segera mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi yang empuk, setelah sampai di meja yang diinginkannya.
Peluh membanjiri wajahnya, setiap selesai berjalan. Mahes menarik sehelai tisu, lalu membersihkan wajah Mala dengan lembut.
"Cuit...Cuit... Mas Mahes perhatian sekali dengan non Mala." celetuk bibi. Yang membuat Mala tersenyum tipis.
Asisten rumah tangganya selalu saja menggodanya ketika Mahes berbuat sesuatu padanya.
"Saya kan bekerja bi. Dibayar juga kok sama non Mala. Jadi harus profesional kerja." kekeh Mahes.
Raut wajah Mala berubah cemberut, lalu tangannya bergerak cepat merampas tisu yang dipegang laki-laki itu dan mengusap wajah Mahes dengan kasar.
"Ih, kamu nyebelin." ucap Mala mengeluarkan uneg-unegnya.
Tingkah kedua insan itu semakin membuat para asisten rumah tangganya terkekeh.
__ADS_1
Mala memang memberi gaji pada Mahes. Tapi ia hanya menerima separuh gajinya saja.
Bukan berarti Mahes kekurangan uang, mengingat keuntungan perusahaannya selalu berlipat-lipat. Tapi ia hanya ingin menjaga hati Mala, agar tidak tersinggung dengan apa yang ia lakukan.