Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
127. Ada apa dengan Siska?


__ADS_3

Sore itu, akhirnya Bu Mirna di bawa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Bu Mirna di bawa ke ruangan IGD. Untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan pak RT dan beberapa warga yang mengantarkannya, menunggu di luar.


Di dalam ruangan, team medis melakukan medical check up. Mulai dari tekanan darah, denyut nadi, nafas semuanya tak luput dari pengecekan sang dokter.


Karena nafasnya yang sangat lemah, akhirnya team medis memberikan alat bantu pernafasan. Selang infus juga menancap di pergelangan tangan kiri bu Mirna.


Setelah memastikan memberi pelayanan yang terbaik, dokter pun keluar dari ruangan IGD.


"Bagaimana keadaan Bu Mirna, dokter?" tanya pak RT, yang mewakili isi hati para warganya.


"Alhamdulillah, nyawanya masih tertolong. Karena keadaannya sudah sangat lemah sekali, akhirnya kami memberi alat bantu pernafasan. Kami juga memberinya infus, karena kondisinya begitu memprihatinkan. Saat kami mencari pembuluh darahnya tadi sedikit kesulitan, sebab badannya hanya tinggal tulang yang berbalut kulit saja. Pasien harus menginap di rumah sakit sampai ia sembuh." jelas sang dokter, dengan mimik wajah juga menaruh rasa iba.


Pak RT dan warga sekitar saling beradu pandang, dan mulai berkasak kusuk membicarakan Bu Mirna.


"Kalau begitu saya, permisi dulu."


"Silahkan dokter." balas pak RT sambil menyunggingkan senyum.


Setelah kepergian dokter, para warga dan pak RT semakin ramai membicarakan Bu Mirna. Mereka bingung, siapa yang harus menjaga dan merawat Bu Mirna selama di rumah sakit. Karena tidak memiliki sanak keluarga.


Para warga juga tidak mau jika harus menunggu Bu Mirna sampai sembuh. Terbayang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaganya.


Menjaga juga tidak sekedar menjaga saja. Harus menyuapinya makan dan minum, membersihkan badannya, dan juga *****-bengek lainnya.

__ADS_1


Apalagi Bu Mirna juga mengeluarkan bau tidak sedap. Yang membuat mereka terpaksa harus menutup hidungnya ketika berada di dekatnya.


"Di bawa ke dinas sosial saja pak." celetuk salah satu warga memberi usul.


"Apa kamu tidak bisa lihat? Dia kan masih sakit. Untuk berjalan saja, aku rasa juga tidak bisa."


"Kenapa ngga mati sekalian saja ya. Kalau hidup cuma untuk menyusahkan para tetangganya saja." ucap warga yang lainnya.


"Hust! Jaga mulut mu. Kalau sampai Bu Mirna meninggalkan duluan. Kamulah orang pertama yang akan dihantui nya." tegas pak RT, yang membuat para warga terdiam.


"Sekarang aku putuskan, yang menunggu Bu Mirna bergilir. Di mulai dari harga yang rumahnya dekat dengan Bu Mirna."


Deg!


"Stop!" seru pak RT akhirnya.


Ia sampai menjambak rambutnya frustasi, karena ulah para warga nya yang terus beradu pendapat. Mereka langsung terdiam, setelah mendengar suara teriakan pak RT.


Mereka pun mulai berembug untuk mencari solusinya. Hingga akhirnya mencapai sebuah kesepakatan.


Untuk urusan biaya, mereka sepakat akan diambilkan dari kas desa. Karena para warga juga tidak berani untuk mengecek rumahnya, apakah memiliki uang simpanan atau tidak.


Sedangkan untuk menemani Bu Mirna, para warga akan bergilir menemaninya. Di mulai dari tetangga yang rumahnya dekat dengan Bu Mirna, dan berada di sebelah kanannya.

__ADS_1


Pak RT memukul kursi, yang artinya keputusan telah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Semua warga harus melaksanakan perintahnya itu.


**


Di tempat lain, Doni memasang papan pengumuman di depan kedainya, yang bertuliskan lowongan kerja.


Ia berharap, dengan bertambahnya karyawan akan semakin memudahkan dirinya dalam menghandle pekerjaan.


Ia juga tidak ingin, berlaku dzolim pada Siska. Karena gadis itu sudah bekerja di tempatnya hampir dua bulan, dan belum pernah sekali pun libur.


Setelah menempel papan pengumuman itu, Doni segera masuk ke dalam dan mengerjakan pekerjaannya lagi.


Belum lama pintu kedai di buka, sudah terlihat pengunjung yang mulai berdatangan. Senyum mengembang di wajah Doni dan Siska. Karena Allah telah mengirimkan rezeki lewat para pengunjung itu.


Keduanya segera melayani para pembeli itu dengan sepenuh hati.


Saat menyiapkan pesanan pembeli, Siska merasakan kepalanya berputar, dan bumi tempatnya berpijak terasa bergerak.


'Kenapa mendadak semua menjadi gelap? Apa aku mulai buta?' batin Siska, setelah itu ia tidak tahu apa-apa lagi.


"Siska!" pekik Doni.


Laki-laki itu membuang nampan yang ia bawa, lalu berlari mendekati Siska yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Siska, bangun. Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Doni, sambil mengangkat kepala Siska dan meletakkan dipangkuannya. Ia menepuk pelan pipi gadis itu, tapi tidak kunjung bangun juga.


__ADS_2