
Malam pertama di rumah sakit, bersama keluarga kecilnya. Sungguh tidak bisa membuat Mahes tidur nyenyak. Karena ia harus tetap terjaga, menunggu bayinya, jika sewaktu-waktu menangis. Ia harus membangunkan Mala, untuk menyusui.
Sebenarnya Mala tidak ingin tidur, karena belum mengantuk. Tapi suaminya terus memaksanya. Katanya Mahes tidak tega melihatnya yang kesakitan saat melahirkan tadi.
Perlahan suara adzan subuh mulai terdengar. Mahes segera beranjak dari duduknya untuk menunaikan sholat dua rakaat itu.
Dalam sujudnya ia memohon perlindungan untuk istri dan bayinya. Juga untuk keutuhan rumah tangganya. Karena ia begitu mencintai keduanya.
Setelah selesai, Mahes melipat sajadahnya, lalu mendekati box bayi.
"Hai tampan. Besok kalau kamu sudah tumbuh besar, pagi-pagi kita berangkat bersama menuju ke masjid ya." celoteh Mahes, sambil menatap wajah putranya.
Bayi kecil itu mulai menggeliat, dan wajahnya seketika memerah. Mahes menepuk pelan bayinya untuk menenangkannya. Tapi caranya tidak berhasil dan justru membangunkan Mala.
"Ada apa mas?" Mahes menoleh melihat istrinya sudah bangun.
"Tidak tahu."
"Ya kamu cek dulu. Mungkin dia ngompol."
Mahes pun segera melakukan perintah istrinya, dengan meraba bagian belakang anaknya.
"Wah, iya benar. Dia mengompol sayang. Lalu bagaimana cara mengganti popoknya?"
"Buka saja kain bedongnya, lalu ganti dengan yang bersih." Mahes mengangguk mengerti, lalu melakukan apa yang diperintahkan istrinya.
Namun, karena ini adalah pengalaman pertamanya memegang bayi, tentu ia belum mengerti bagaimana caranya. Akhirnya ia menekan tombol nurse call.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang dan menghampiri pimpinan rumah sakit itu.
__ADS_1
"Maaf, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu, dengan dua tangan bertumpu di depan.
"Bagaimana cara mengganti popok?"
"Ha?"
Perawat itu melongo, mendengar pertanyaan dari pimpinannya. Ia pikir akan ditanya atau dimintai mengerjakan sesuatu yang serius. Ternyata?
"Begini tuan, caranya." Perawat itu mempraktikkan cara mengganti popok dan kembali mengenakan bedongnya.
"Oh, begitu. Terima kasih." ucap Mahes senang.
"Kamu disini saja, temani aku. Karena aku butuh bantuan mu setiap saat."
"Baik, tuan."
Setelah itu, Mahes mengangkat bayinya yang masih menangis. Untuk diserahkan ke istrinya.
"Seperti ini tuan cara yang benar." perawat itu mempraktikkan cara menggendong bayi yang benar.
"Oh, aku pikir boleh dengan gaya yang lain. Seperti saat dulu membuatnya." ujar Mahes santai. Sedangkan perawatnya itu pikirannya sudah traveling.
"Tuan, tolong nyonya dibantu duduknya. Karena menyusui harus sambil duduk."
Mahes pun segera memutar tuas untuk meninggikan brankar Mala.
"Ini nyonya bayinya." Dengan hati-hati Mala menerima bayi itu.
Ini adalah pengalaman pertama Mala menyusui bayinya. Karena dari semalam bayinya itu masih betah menutup mata.
__ADS_1
Mungkin sang bayi tahu, jika ibunya tengah merasakan sakit yang sangat saat melahirkan. Jadi butuh istirahat yang cukup lama.
"Tolong, bajunya diturunkan. Agar bayinya bisa menghisap ASI-nya lebih mudah."
Dengan ragu, Mala menurunkan bajunya. Karena saat itu tengah memakai lingerie yang ia pakai semalam, dan tanpa menggunakan bra.
"Nah, sekarang masukkan puutingnya ke mulut bayi." ucap perawat lagi.
Mala pun melakukan apa yang diperintahkan perawat. Akhirnya, bayinya berhasil mendapatkan lubang asi itu. Lalu mulai perlahan menghisapnya.
Karena semalaman Mala belum menyusui bayinya, makanya kantung ASI-nya terlihat lebih besar dan padat. Menandakan stok asi yang melimpah. Bahkan bayi laki-lakinya terlihat menyedot ASI nya dengan kuat.
Mahes pun menelan saliva ketika melihat benda itu. Kini ia harus rela, benda kesayangannya itu dibagi untuknya dan sang bayi. Karena disitulah sumber kehidupan malaikat kecilnya.
Mala menggigit bibirnya sendiri, karena merasakan sakit saat bayinya menghisap kantung ASI-nya. Melihat hal itu, Mahes jadi membayangkan ketika yang menghisap adalah dirinya.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, karena baru sehari berpuasa. Masih ada banyak hari lainnya yang harus ia lalui dengan berpuasa.
"Maaf nyonya, sepertinya bayinya sudah kekenyangan. Itu sampai gumoh. Sebaiknya sudah cukup."
Perawat itu mengambil tisu di atas nakas, lalu membersihkan sisa susu yang tumpah di sekitar mulut bayi.
Sedangkan Mahes, membulatkan matanya, ketika melihat asi memancar dari dada sang istri. Ia berusaha menelan saliva dengan susah payah.
"Ini, nyonya. Coba bekas ASI-nya dibersihkan dulu." perawat itu memberikan beberapa lembar tisu pada Mala, untuk menekan ASI-nya yang memancar.
Perawat itu meletakkan bayi yang sudah terlelap tidur ke dalam box. Lalu ia duduk di sofa sambil menunggu perintah selanjutnya.
Sedangkan Mahes, duduk di samping brankar Mala. Ia menatap wajah Mala lekat.
__ADS_1
"Kamu kenapa memandang ku seperti itu, mas?"
"Sepertinya aku tidak tahan untuk berpuasa selama satu bulan. Satu hari saja sudah membuatku pusing." cicit Mahes.