Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
120. Sekian lama tidak bertemu


__ADS_3

Hari beranjak siang. Satu persatu pembeli mulai berdatangan memenuhi kedai ayam crispy milik Doni.


Siska dan Doni tengah melayani pembeli yang sudah antri. Ada yang baru sekedar mencicipi, ada yang sudah menjadi langganan. Karena hampir setiap hari datang, untuk makan siang di sana.


Rasa yang enak, dan harga yang ramah di kantong, serta tempat yang nyaman, menjadi daya tarik bagi para pembeli.


Siska sangat piawai mengerjakan pekerjaan nya. Sehingga semua urusan pembeli, cepat teratasi.


Di luar kedai, sebuah mobil tidak bisa masuk. Karena pelataran sudah penuh dengan kendaraan para pembeli.


"Mas, ramai sekali tempatnya." pekik Mala saat keduanya tidak bisa mendapatkan tempat parkir.


"Bersamaan dengan jam makan siang, jadi wajar jika antri."


"Rasanya juga enak kok, mas. Aku suka." puji Mala.


"Hem, iya-iya. Rasanya enak. Kalau tidak enak, istri ku mana mau memakannya."


Mahes tersenyum ke arah Mala, sambil mengacak jilbab yang menutupi kepalanya.


Keduanya segera turun, dan berjalan memasuki kedai. Semua bangku rasanya telah penuh dengan pengunjung.


"Dimana kita akan makan? Tidak ada tempat duduk yang tersisa lagi." gumam Mahes sambil tetap celingukan, berharap menemukan tempat duduk kosong.


Doni yang melihat seorang laki-laki dan ibu hamil yang celingukan mencari tempat duduk, segera mendekati keduanya.


Sebelumnya, ia menyuruh Siska untuk menyiapkan tempat duduk lesehan di bawah pohon, agar bisa digunakan untuk pengunjung yang tidak mendapat tempat duduk.


"Selamat siang, bapak, ibu." sapa Doni dengan ramah.

__ADS_1


"Siang." balas Mahes singkat.


"Ada yang bisa kami bantu? Apa anda mencari tempat duduk?"


"Iya, tapi sepertinya sudah tidak ada bangku kosong ya, mas."


"Bagaimana kalau duduk lesehan di bawah pohon?"


"Iya, saya mau." sahut Mala dengan cepat, dengan wajah yang berbinar.


"Nanti kalau dikerubungi semut gimana, sayang? Kamu kan manis." seloroh Mahes. Yang membuat Mala tersipu malu.


Sedangkan Doni yang melihat keromantisan pasangan di depannya itu, hanya bisa menelan saliva.


'Segitunya kalau sudah menikah.' batin Doni gemas.


"Hawanya pasti seger mas, kalau siang-siang seperti ini duduk di bawah pohon. Dari pada kita berdesak-desakan di dalam."


Doni yang melihat hal itu, merasa panas dingin. Membayangkan kehidupan pernikahan yang manis, seperti pasangan suami-istri yang ada di depan matanya saat ini.


"Mari pak, bu. Saya antar ke tempatnya." ucap Doni, lalu berjalan mendahului Mala dan Mahes.


"Nah, disini tempatnya pak." ucap Doni, sambil menunjukkan tikar yang sudah di gelar di bawah pohon. Di sana juga sudah ada peralatan makan dan tisu.


Mahes membantu Mala yang sedikit kesusahan duduk lesehan. Setelah itu, keduanya melihat buku menu.


Doni yang sejak tadi, melihat keromantisan pasangan suami-istri itu terkagum-kagum di buatnya. Ingin sekali rasanya menikah.


Tapi, mana ada perempuan yang mau menikah dengannya. Laki-laki yang hanya seorang penjual ayam goreng dilumuri tepung.

__ADS_1


"Mas, ayam goreng crispy nya dua. Minumnya jus jambu dan es jeruk ya."


"Baik, mas. Tunggu sebentar ya." setelah berkata seperti itu, Doni segera masuk ke dalam. Untuk membuatkan pesanan mereka.


"Sis, tolong buatkan jus jambu dan es jeruk, masing-masing satu ya."


"Baik, mas." Siska segera melaksanakan perintah atasannya.


"Tunggu, Sis. Ini makanannya sudah jadi. Tolong sekalian antarkan ke pembeli yang ada di bawah pohon itu ya."


Doni mencegah Siska yang hendak mengantar minuman. Gadis itu pun mendekatinya, dan mengambil makanan itu, lalu di taruh di nampan.


Doni merasa lega, akhirnya pesanan pengunjung tadi sudah diantarkan. Jika ia yang mengantarkannya, bisa-bisa badannya panas dingin tidak karuan. Karena merasa iri melihat ada pasangan yang bersikap seromantis itu.


Sedangkan di luar, Siska terkejut hingga menghentikan langkahnya. Tiba-tiba badannya merasa lemas. Tempat kakinya berpijak, seakan bergetar. Ketika melihat siapa pengunjung yang tengah duduk di bawah pohon.


"Ma-mala." lirihnya, hampir tidak terdengar.


Memory otaknya berputar dengan sangat cepat. Ia teringat, bagaimana kehidupannya yang dulu.


Meskipun ia tidak merebut Doni dari Mala, tapi ia juga sempat menyuruh Doni untuk memeras mantan istrinya.


Yah, walaupun pada akhirnya, Mala lah pemenangnya. Karena dia memang orang kaya. Sedangkan Doni orang tidak punya, yang bergaya seperti orang kaya.


"Siska. Kenapa kamu berdiri disitu? Cepat antarkan makanannya." titah Doni dengan suara yang cukup keras. Sehingga membuat Siska tersentak kaget.


Mala dan Mahes refleks melihat ke arah Siska berdiri. Ketiga orang itu saling beradu pandang, dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.


Sedangkan Doni yang tidak tahu apa-apa, mendekati Siska. Karena gadis itu tampak masih mematung.

__ADS_1


Doni memang sengaja memanggil Siska. Karena tumben sekali ia lama mengantarkan pesanan pembeli. Padahal di dalam masih repot.


__ADS_2