
Hati Mala bergemuruh hebat, mendengar semua caci maki dan hinaan. Yang dilontarkan oleh keluarga suaminya.
Ia tak menyangka, pernah mencintai seorang laki-laki seburuk Doni. Ia berusaha untuk tidak menangis, dan justru menyunggingkan senyum tipis.
"Sudah selesai menghina diriku dan menyombongkan diri kalian? Kalau belum selesai, ayo silahkan dilanjutkan. Dan kalau sudah selesai, kini giliran ku yang berbicara." ucap Mala sambil menatap keluarga Doni satu persatu, tapi semuanya hanya diam dengan raut wajah tidak suka. Sehingga ia kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku justru sangat bersyukur, Allah memberi ku ujian seperti ini. Karena aku bisa tahu, siapa yang benar-benar tulus mencintaiku, dan siapa saja yang hanya memanfaatkanku.
Aku tidak bisa membayangkan, jika Allah tidak memberi ku ujian seperti ini. Mungkin saja sampai saat ini aku masih menjadi istri dari suami tak tahu diri seperti kamu.
Yang tega, memanfaatkan uang sumbangan senilai satu milyar untuk kebutuhannya sendiri. Tanpa mengatakannya padaku.
Suami yang tega selingkuh ketika istrinya ditimpa ujian. Menggunakan mobil pemberian papa mertuanya untuk berbuat asusila.
Dan masih banyak lagi kebohongan-kebohongan yang lainnya. Tenang saja, aku tidak akan membongkar semuanya disini.
Siapkan mental mu mas, untuk menghadapi sidang perceraian yang akan dilaksanakan besok." ucap Mala dengan tegas pada suaminya.
Pandangannya kini beralih pada wanita berpakaian serba mini di samping Doni.
"Dan untuk kamu istri mas Doni. Berhati-hatilah.
Jika kamu sampai mengalami nasib seperti diriku, maka aku yakin mas Doni dan ibunya akan meninggalkan mu.
Karena mereka hanya mengincar harta seseorang. Mereka ingin hidup enak tanpa mau bersusah payah.
__ADS_1
Tolong jaga suamimu untuk tidak mengemis minta rujuk atau pun minta harta gono-gini padaku. Karena sampai mati pun aku tidak akan pernah mau rujuk dengannya.
Kita baru seminggu menikah. Belum pernah aku menikmati sedikit pun hasil kerjanya. Justru dia yang telah merasakan nikmatnya harta kami.
Jika suamimu menuntut harta gono-gini, tentu hakim tidak akan bisa mengabulkannya. Dan aku justru bisa menuntutnya balik, atas tuduhan menelantarkan istrinya, penggelapan uang, dan kasus perzinahan.
Kecantikan fisik bisa memudar seiring berjalannya waktu, tapi kecantikan hati, akan di bawa sampai mati.
Aku tidak mengatakan hatiku cantik dan baik, tapi aku sedang berusaha untuk mempercantik hati. Tutuplah aurat mu, sebelum Allah menutup aurat mu dengan kain kafan.
Terima kasih telah menjadi jalan pemisah antara aku dan mas Doni." setelah menatap Siska, kini Mala menatap bu Mirna, ibu mertuanya.
"Kamu seorang wanita dan juga seorang ibu. Mendukung perbuatan buruk anaknya, kamu pun akan mendapatkan limpahan dosa yang sama seperti yang dilakukan anakmu.
Sadar umur mu sudah berapa.
Selamat tinggal. Sampai bertemu di persidangan."
ucap Mala diiringi dengan senyum manis. Lalu Mahes mendorongnya menjauh dari orang-orang toxic.
Doni diam tertegun. Setiap ucapan Mala bagaikan anak panah yang melesat dan tepat sasaran. Menancap dihatinya.
Ia jadi berpikir, semua kejadian buruk yang menimpanya akhir-akhir ini adalah karena ulahnya sendiri.
"Dasar wanita cacat! Sudah cacat, masih saja kebanyakan gaya. Pakai mendoakan aku cepat mati. Kenapa ngga dia saja yang mati duluan." gerutu bu Mirna.
__ADS_1
"Sudah diam!" bentak Doni pada ibunya.
"Lhoh, kok kamu malah membentak ibu sih Don? Harusnya kamu yang membentak dan memarahi Mala habis-habisan. Eh, malah tadi diam saja. Kamu penakut ya ternyata."
"Semua ini juga karena ibu. Terlalu mencampuri urusan rumah tanggaku."
"Lhololoh, apa maksudmu?" Bu Mirna tak terima dengan ucapan Doni.
"Kita pulang saja. Males aku disini." ucap Doni dan melenggang pergi.
"Tapi Don, ibu belum beli baju." teriak Bu Mirna sambil berlari kecil mengejar anaknya. Begitu pula Siska yang mengejar Doni.
"Mas tunggu, aku mau beli tas." rengek Siska yang seolah tak tahu tentang hati suaminya yang sedang tidak baik-baik saja. Doni pun berhenti dan menatapnya.
"Beli sendiri." bentak Doni.
Siska menghentakkan kakinya karena kecewa sambil melipat kedua tangannya.
"Okay jika itu mau mu. Maka tak ada jatah untuk malam ini." ucap Siska dengan lantang. Doni berhenti dan berbalik arah.
"Bisa di jaga tidak mulut mu. Ini tempat umum. Bisa-bisanya bicara hal seperti itu."
Sementara Bu Mirna geleng-geleng kepala mendengar ucapan menantunya yang tanpa filter itu.
"Rasain tuh, dimarahin sama anakku." bisik bu Mirna puas, lalu ia segera menyusul Doni yang berjalan lebih cepat.
__ADS_1
"Dasar suami dan mertua ngga ada akhlak. Lebih baik aku beli keperluan ku dulu. Lagian aku juga bisa pulang sendiri." gumam Siska. Lalu berjalan mendekati baju yang berjejer rapi.