
Karena hari itu, adalah hari libur, setelah sholat subuh Mahes kembali menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Melihat tubuh sintal istrinya, yang terbungkus lingerie yang tipis, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh yang indah. Seketika membuat naluri kelaki-lakian Mahes muncul.
Padahal saat dulu sebelum ia menikah dengan Mala, banyak wanita cantik dan memiliki lekuk tubuh yang sempurna, silih berganti mendekatinya. Tapi tak pernah sekalipun ia tergoda. Hanya Mala lah yang bisa membangkitkan jiwa kelaki-lakian nya.
Ia mendekap erat tubuh Mala, dan menghujaninya dengan kecupan hangat. Sehingga membuat istrinya merasa geli dan menggeliat.
Matanya membulat dan menutup hidung serta mulutnya dengan menggunakan tangannya, ketika yang berada di atas tubuhnya adalah Mahes.
Mala mendorong Mahes dengan sekuat tenaga. Tapi laki-laki itu masih diam tak bergeming.
"Ayolah, sayang. Mumpung aku libur, manjakan aku di atas ranjang." rintih Mahes dengan kerlingan nakal.
Mala menggelengkan kepalanya, sambil terus menjauhkan badan suaminya, dari atas tubuhnya. Wajahnya semakin memerah, karena usaha yang ia lakukan sepertinya sia-sia.
Mahes terus merayu sambil menatap wajah istrinya. Di saat ia mulai mengendurkan pelukannya, Mala langsung mendorongnya sekuat tenaga. Hingga akhirnya Mahes ambruk tepat di sampingnya.
Mala beringsut turun, lalu berlari kecil menuju toilet yang ada di dalam kamarnya. Ia keluarkan seluruh isi perutnya.
Mendengar suara istrinya yang sepertinya tengah muntah-muntah, Mahes segera beranjak dari tempat tidurnya. Lalu menyusul Mala.
Karena pintu toilet memang tidak di kunci, ia bisa menerobos masuk. Ia melihat Mala yang masih terus mengeluarkan cairan bening dari mulutnya. Lalu ia pun membantu dengan mengurut pelan tengkuk leher istri tercintanya.
"Kamu sakit apa, sayang? Kita periksa ke dokter yuk."
Namun Mala hanya menggelengkan kepalanya. Bahkan ia memberi instruksi dengan menunjuk pintu keluar. Karena tak ingin, Mahes ada di dekatnya.
__ADS_1
Mahes mengernyitkan dahinya, melihat instruksi yang diberikan istrinya.
"Kamu ingin aku keluar?" ulang Mahes dengan ragu. Mala pun menganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Aku ingin menemani mu. Tidak mungkin tega membiarkan istri ku muntah-muntah di toilet sendirian. Tenang saja, aku tahan kok dengan bau muntahan."
Mala masih saja menggelengkan kepalanya. Dan Mahes masih saja diam di tempat.
Setelah tidak muntah lagi, Mala membersihkan mulutnya, lalu menghirup nafas untuk menghilangkan sesak di dada.
Ia merambat, menjauh dari suaminya sambil menutup hidung. Membuat Mahes bertambah bingung.
"Sebaiknya, kamu mandi dulu, mas. Aku tidak tahan dengan bau badanmu."
"Okay. Bagaimana kalau kita mandinya sama-sama." Mahes kembali menggoda istrinya. Karena teringat dengan keinginannya tadi.
"Kenapa? Bukan kah kita biasa mandi bersama. Siapa nanti yang akan menggosok dan memijat punggung ku?"
"Aku ngga mau. Aku mau keluar. Kamu mandi saja sendiri."
Mala cepat-cepat keluar. Dan ketika melewati tubuh suaminya, ia mendorongnya agar tidak menghirup baunya.
"Hah! Kenapa dia bersikap seperti itu? Padahal biasanya dia selalu tidur dalam dekapan ku." gumam Mahes dengan wajah yang mengernyit.
Kini Mahes sudah mandi. Ia berjalan keluar dari kamar mandi, dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
Wajahnya masih basah oleh tetesan air. Membuatnya semakin terlihat segar. Ia menjatuhkan diri di dekat istrinya, dan mendekapnya erat.
__ADS_1
Berharap Mala bangun dan langsung melayaninya. Tapi rupanya, istrinya itu tidak kunjung bangun, dan malah tertidur pulas. Padahal Mahes tadi hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mandi.
"Sayang, aku sudah mandi nih. Yuk kita main ranjang berderit."
Mahes mencoba membangunkan istrinya, sambil mengguncang bahunya. Namun wanita itu hanya mengerang.
Setelah sekian menit berlalu, Mahes pasrah. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas berat. Ia mencoba untuk berpositif thinking. Bahwa mungkin istrinya itu juga capek.
Ia kembali melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri, dan kembali tidur.
Hari hampir menginjak waktu Dhuhur, ketika Mala bangun. Ia kembali mencium bau aneh dari tubuh suaminya, sehingga membuatnya kembali menutup hidung.
"Mas, kamu sudah mandi belum sih? Kenapa bau mu masih tidak enak?" protes Mala sambil memukul suaminya dengan guling.
"Mas!" jerit Mala yang membuat Mahes tergeragap bangun, dan langsung terduduk.
"Sayang kenapa sih kamu teriak-teriak. Bikin aku kaget tahu ngga?" Mahes mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kamu balik tidur lagi? Bukannya tadi aku menyuruh mu mandi?"
"Aku sudah mandi dari tadi. Saat aku keluar dari kamar mandi, kami malah sudah tidur pulas lagi. Nih buktinya, aku masih pakai handuk. Aku bangunkan sampai mulut ku capek, kamu juga tetap tidak bangun." Mahes menunjuk handuk yang sudah mengendur di pinggangnya.
"Tapi kenapa bau mu masih tidak enak, mas. Bahkan sampai membuat perut ku mual."
❤️❤️
__ADS_1