
"Mahes. Kamu sudah siap belum?"
Suara Bu Dewi yang sangat Mahes hafal.
"Iya, Bu. Mahes sebentar lagi turun ke bawah."
Ia menghapus sisa-sisa air matanya. Lalu kembali bercermin untuk memastikan penampilannya masih rapi.
Rombongannya sudah siap. Mobil pun bergerak meninggalkan pelataran rumah mewah nya menuju kediaman Mala.
Sepanjang perjalanan, ia terus beristighfar untuk menghilangkan kegugupannya.
"Tante senang, akhirnya kamu bisa bersatu dengan Mala. Padahal dulu Tante sama Bu Ningrum tidak pernah sampai memikirkan hal sejauh ini."
"Terima kasih, Tante. Tanpa jasa Tante dan Bu Ningrum, belum Mahes bisa menemukan cinta sejati ku."
"Ini sudah menjadi kewajiban Tante. Karena kedua orang tua mu juga selalu berbuat baik dengan Tante."
Keduanya saling melempar senyum.
**
"Bu, kenapa jantungku berdegup kencang sekali ya." ucap Doni sembari memegang dadanya.
"Ya wajar saja sih kalau menurut ibu. Kalau ngga berdetak itu namanya meninggal."
"Ibu."
Doni menatap wajah ibunya yang tidak menunjukkan raut bersalah. Padahal sudah mengatakan hal buruk tentangnya.
"Lhololoh, kok banyak banget rombongan mobil." Doni semakin heran, dan bahkan jantungnya sudah tidak karuan.
"Mau arisan kali." sahut ibunya enteng.
__ADS_1
Entah terbuat dari apa hati Bu Mirna. Ia tak pernah respect pada orang-orang disekitarnya. Kecuali orang-orang yang bisa memberinya uang dan uang.
"Ini sepertinya mau ke rumah Mala, Bu." Doni pun menghentikan laju mobilnya. Ia menepi sembari memperhatikan keadaan sekitar dengan seksama.
Bu Mirna memperbaiki posisi duduknya. Lalu ikut menatap deretan mobil mewah yang memang memasuki pintu gerbang rumah Mala.
Setelah rombongan mobil itu masuk semua. Gerbang hendak di tutup oleh security. Doni bergegas keluar dari mobil dan menahan gerakan security itu.
"Pak, tunggu pak." ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.
"Kamu lagi. Ngapain kamu kesini?" sahut security terdengar tak ramah.
"Kenapa banyak banget mobil yang kesini ya, pak? Apa lagi ada arisan keluarga?"
Security itu terkekeh mendengar pertanyaan Doni.
"Arisan keluarganya nanti kalau non Mala sudah menikah. Karena ini belum menikah, makanya lamaran dulu."
"Dengan mas Mahes. Mereka itu pasangan yang serasi. Best couple of the year, kalau kata orang bule mah."
Tiba-tiba tulang persendian kaki Doni serasa rontok. Tak mampu untuk menyangga beban tubuhnya. Dan akhirnya ia jatuh terduduk.
Niatnya ke rumah Mala memang untuk meminta maaf. Tapi ternyata hatinya tidak siap jika mantan istrinya itu akan meninggalkan status jandanya sebentar lagi.
Dengan laki-laki yang jauh lebih tampan dan mapan, serta tentunya lebih setia dibanding dirinya.
Bayangan kesalahan terus menghantuinya. Hingga butiran bening mengalir melewati pipinya yang penuh jerawat.
"Mas, ayo buruan berdiri. Sebaiknya kamu segera pergi dari sini deh. Pintu mau saya tutup. Saya mau lihat mereka tukeran cincin." ucap security, menyadarkan Doni dari lamunannya.
Ia beringsut mundur, agar security bisa menutup pintu gerbangnya.
Sementara di dalam mobil, Bu Mirna menggerutu kesal. Karena melihat anaknya yang bersimpuh di dekat pintu gerbang yang telah tertutup rapat.
__ADS_1
"Anaknya siapa sih itu? Kebangetan pintarnya. Jelas-jelas gerbang sudah di kunci, ngapain juga masih duduk di situ. Mau nunggu orang ngasih sisa makanan apa. Huh, malu-maluin banget."
Dengan langkah memburu, Bu Mirna menghampiri Doni yang masih tak bergeming.
"Heh, Don. Mau sampai kapan kamu akan duduk disini terus?" bentak Bu Mirna sambil memukul bahu anak laki-laki satu-satunya dengan kipas yang ia bawa.
"Aku sudah keduluan, Bu. Hatiku tidak sekuat yang aku kira."
"Jadi laki-laki jangan cemen. Dah, ayo pulang." Bu Mirna menyeret tangan Doni, hingga mau tak mau ia bangkit berdiri.
Sepanjang perjalanan Doni terus mengingat momen kebersamaannya dengan Mala.
"Nyetir yang fokus. Jangan sampai nabrak mobil orang lagi. Bisa buntung kita." Bu Mirna menasehati dengan ketus dan memukul kepala Doni dengan kipasnya.
Setelah sampai di rumah, Doni segera menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur untuk meluapkan kesedihannya. Tapi naas senjatanya kembali sakit.
"Kenapa senjata ku juga ikut-ikutan sakit sih. Apa terlalu menghayati peran."
**
Di kediaman Mala, kedua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tamu. Mala duduk di samping Bu Ningrum. Dan Mahes duduk disamping Bu Dewi.
Diam-diam Mahes mencuri pandang ke arah Mala. Yang kian memesona. Saat anggota keluarganya saling bercakap-cakap.
Waktu kian merangkak, suami Bu Dewi memulai acara pada siang hari itu.
"Selamat pagi, sebelumnya kami sangat berterima kasih atas segala jamuan yang istimewa yang telah keluarga nak Mala persiapkan untuk kami.
Perkenankan kami menyampaikan maksud kedatangan kami kesini. Kami selaku saudara perwakilan dari kedua orang tua Mahesa Sadewa, mengantarkannya untuk meminang nak Mala.
Apakah nak Mala bersedia, menerima pinangan ini?"
Semua terdiam dengan jantung yang berdegup kencang menunggu jawaban Mala.
__ADS_1